500 WNI Pulang dari Suriah, Ini yang Dilakukan Presiden Jokowi

JAKARTA (suarakawan.com) – Presiden Joko Widodo berkonsultasi dengan para pemuka agama mengenai upaya menangani 500 warga Indonesia yang kembali Tanah Air setelah pergi ke Suriah. Mereka dijuluki “teroris generasi ketiga” atau militan yang pulang ke negaranya.

Pada pokoknya, Presiden meminta saran dari tokoh-tokoh agama untuk menghadapi militan-militan itu. “Bapak presiden minta pandangan kita, bagaimana menghadapi orang-orang Indonesia yang kembali lagi (dari Suriah), terutama untuk memberi pemahaman,” kata Nasaruddin Umar, pemuka agama Islam sekaligus imam besar Masjid Istiqlal, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu, 16 Mei 2018.

Menurut Nasaruddin, Jokowi berkeyakinan bahwa lembaga-lembaga keagamaan harus dapat membuat umatnya memiliki keyakinan yang lurus atas ajaran agama mereka. Hal itu dinilai sebagai solusi guna mencegah ajaran agama ditafsirkan secara radikal.

“Semakin dalam pemahaman keagamaan seseorang, maka insya Allah dia semakin arif dan bijaksana,” ujarnya.

Dia menyampaikan bahwa sejumlah lembaga pemerintah seperti Polri, Kemendagri, serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT, sudah melakukan pengawasan serta upaya deradikalisasi. Lembaga-lembaga keagamaan senantiasa siap mendukung upaya radikalisme yang jadi sebab teror di Indonesia.

Berikut ini para pemuka agama yang bertemu Presiden:

Islam:
– Nasaruddin Umar
– KH Abdullah Syam

Kristen:
– Pdt Henriette Hutabarat L

Katolik:
– Mgr Ignatius Suharyo

Hindu:
– Ida Pangalisir Agung Putra Sukahet
– Nyoman Udayana Sanggih

Buddha:
– Bikhu Pannauato Mahatera
– Arif Harsono

Konghucu:
– Candra Setiawan
– Uung Sendana

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila atau BPIP:
– Yudi Latief
– Megawati Soekarnoputri
– Romo Benny
– Iman Hasiholan Sirait
– Sudamek
– Wisnu Bawa Tenaya

(viv/rur)