SuaraKawan.com
Opini - Politik

Bisnis Kreatif versus Bisnis Rente

Dalam istilah ekonomi ada dikenal dengan bisnis tradable dan non tradable.
Apa itu non tradable ? Ini adalah bisnis yang tidak ada nilai tambah dan kurang menyerap angkatan kerja terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Misal, bisnis konsesi tambang tanpa ada downstream. HGU Perkebunan tanpa ada industri downstream Bangun proyek atas adanya konsesi negara, seperti jalan Toll, dan Pembangkit listrik. Bisnis Tower Telkom dan lain lain.
Lawan dari non tradable adalah tradable.

Apa itu? Bisnis kreatif yang tidak butuh konsesi dan proteksi dari negara. Bisnis yang menciptakan produk/jasa value added dan efisien untuk bersaing secara global. Bisnis ini melibatkan angkatan kerja besar secara langsung maupun tidak langsung. Memerlukan tekhnologi. Create market dalam dan luar negeri dan melibatkan SDM yang hebat.

.
Nah, kalau ada anak pejabat atau pemimpin berbisnis non tradable jelas tidak etis secara moral. Seperti dulu era Soeharto. Para putra putri, teman teman putranya serta keluarga punya bisnis jalan tol, industri proteksi, dan pembangkit listrik. Punya HGU kebun, tambang. Jadi rekanan BUMN strategis. Itu jelas tidak etis secara moral. Mekanisme persaingan hancur dan sistem terdistorsi sehingga ujungnya menciptakan ekonomi yang tidak efisien.
Tetapi kalau ada anak / keluarga pemimpin atau pejabat berbisnis kreatif, itu bagus!. Mengapa? Itu sebagai contoh atau teladan bagaimana seharusnya jadi anak bangsa untuk membantu negara menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah. Karena bisnis tradable itu membutuhkan kreatifitas dalam segala hal. Bagaimana menciptakan produk/jasa?  Membina stakeholder. Membangun kemitraan. Memang tidak mudah. Resiko besar. Kalau tidak punya passion wirausahaan, pasti gagal dah.
Sampai saat ini saya tidak melihat putra putri Pak Jokowi punya konsesi tambang atau toll, atau HGU kebun sawit. Mereka memang focus kepada bisnis kreatif yang memang bakat turun dari ayahnya. Dan mereka santai saja soal ada berita negatif. Karena salah satu ciri khas pengusaha kreatif, engga butuh pencintraan personal. Apalagi keliatan tajir. Dia lebih fokus kepada kinerja bisnis dan produk saja. Komitmen itu saja yang mereka pedulikan, selebihnya dianggap becanda saja.
EJB

Related posts

Sengketa Pilwabup Tulungagung

Redaksi Surabaya

Bikin Malu Partai, Eks Ketua DPD Golkar Ini Desak Azis Syamsuddin Dipecat

Redaksi Surabaya

Logika Berpikir Rocky Gerung Tidak Perlu Diperdebatkan

Redaksi Surabaya