SuaraKawan.com
Opini - Politik

Ketika Manusia Menyalin Kebesaran Tuhan

Setelah wafatnya Sayyidina Ali oleh tebasan pedang seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam, Ibnu Ja’far memanggil Ibnu Muljam. Lalu ia diminta mengeluarkan lidahnya untuk dipotong. Ibnu Muljam melolong. Ibnu Ja’far bertanya: “Mengapa engkau melolong?” Ibnu Muljam menjawab: “Aku melolong karena takut tidak bisa lagi meneriakkan Takbir.” Lalu lidahnya dipotong, ia pun tewas dan mayatnya dibakar.
Sejarawan Islam At-Thabari, Ibnu Atsir dan ad-Dinuri menceritakan secara rinci soal interogasi dan pembakaran Ibnu Muljam ini. Dalam kitab “At-Tabaqat al-Kubra”, Ibnu Saad menceritakan secara ironis, Ibnu Muljam membunuh Sayyidina Ali juga dibarengi dengan pekik Takbir.
Melihat catatan sejarah ini, bagi manusia moderen tentunya memunculkan sebuah pertanyaan penting; apakah mereka yang seringkali meneriakkan Takbir memang menganggap Tuhan Maha Besar? Jawabannya, iya! Tapi bisa saja ada beberapa kelompok yang gemar meneriakkan kebesaran Tuhan tapi dirinya tidak pernah merasa kecil. Seperti halnya Ibnu Muljam yang merasa besar lalu kebesaran Tuhan “dikloning” ke dalam dirinya sehingga dia merasa berhak melakukan aksi brutalitas, setara dengan kebesaran Tuhan.
Banyak orang melihat kekuasaan Tuhan dalam pemaknaan yang arogan, dan seringkali sifat takabur manusia berusaha diselipkan dalam keperkasaan Tuhan. Dari sini pekik kebesaran Tuhan kadang digunakan untuk mendeklarasi kesombongan manusia. Mereka menutup mata seolah kehebatan Tuhan tidak didominasi oleh cinta dan kasih sayang.
Manusia dalam kejahatannya selalu memiliki pembenaran. Dan seringkali pembenaran itu membawa nama Tuhan dengan harapan bisa dimaklumi, memanfaatkan Tuhan yang tidak bisa dikonfirmasi. Tapi apapun, Tuhan akan selalu besar tanpa harus diteriakkan. Dia tak akan mengecil meski kebesarannya diucap dalam hati.
Kekuasaan Tuhan yang luar biasa tidak perlu sorot kamera, tidak perlu postingan di media sosial. Pekik kebesaran Tuhan yang disuarakan dengan arogan, hanyalah tingkah manusia yang ingin ditonton. Berharap “viewing hour” yang membengkak dan meluapnya gelontoran “moneytize”. Manusia hanya sebatas itu. Sekerdil itu.
Kay Sudiro

Related posts

Tegak Bersama Jenderal Dudung

Redaksi Surabaya

Bisnis Kreatif versus Bisnis Rente

Redaksi Surabaya

Rapat Pleno Golkar, Membahas Pengganti Azis Syamsuddin?

Redaksi Surabaya