SuaraKawan.com
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 8

Sangkal Putung, pedukuhan induk.

Kedatangan Ki Patih Mandaraka tidak diduga Agung Sedayu sebelumnya. Walau hati kecil  senapati itu berharap dapat bertemu dengan orang kepercayaan Panembahan Senapati, tetapi Agung Sedayu berusaha mengabaikannya. Pikirnya, Sangkal Putung memang belum lepas dari intaian pemangsa tetapi meminta Ki Patih datang adalah persoalan yang berbeda. Cukup petinggi setingkat rangga atau tumenggung yang membantunya. Hanya saja kenyataan mempunyai jalan berlainan dengan pandangan Agung Sedayu.

Kiai Plered yang lenyap dari bangsal pusaka memaksa Ki Patih bertemu empat mata dengan Panembahan Hanykrawati. Berdasarkan laporan-laporan yang disampaikan Ki Patih, maka persoalan menjadi sedikit benderang. Beberapa peristiwa yang terjadi dalam jarak waktu yang berdekatan telah mendorong Panembahan Hanykrawati mencapai kesimpulan penghabisan.

Penyamaran pun menjadi  bekal lima orang Mataram itu sewaktu meninggalkan kotaraja. Perintah Panembahan Hanykrawati telah jelas : tidak ada kekacauan di luar Sangkal Putung!

Maka seusai memberikan selamat dan pengharapan besar bagi bayi Sekar Mirah, Ki Patih meminta Agung Sedayu agar mengundang orang-orang yang dipandang memegang peran penting dalam keamanan kademangan. Ki Patih Mandaraka, yang datang beserta empat pengawal tinggi, tengah duduk bersama Agung Sedayu dan sejumlah bebahu kademangan.

Sesaat, sebelum Ki Patih membuka pertemuan, terdengar kaki-kaki kuda berderap cepat.  Orang-orang yang masih ramai melintasi jalanan di sekitar banjar dan rumah Ki Demang. Semakin jelas dan semakin dekat suara kaki kuda yang berderap mendekati tempat pertemuan. Air muka Ki Patih belum menampakkan perubahan. Itu berbeda dengan orang-orang sekiar beliau yang menjadi tegang.

“Ki Rangga,” kata Ki Patih Mandaraka, “apakah Ki Rangga tengah menanti laporan atau seseorang pada malam ini?”

Agung Sedayu menautkan dua alis. “Sebenarnya cukup aneh, Ki Patih. Saya tidak pernah membuat perintah agar petugas sandi pergi dan datang berkelompok.”

“Mereka adalah petugas di bawah wewenang saya,” seorang rangga berkata sambil beranjak bangkit. Sejenak menata diri, lalu ia meminta izin untuk menemui orang-orang yang belum tiba di depan halaman Ki Demang. Ki  Patih Mandaraka memandangnya dengan kening berkerut. Begitu pula Agung Sedayu. Namun keduanya tidak menyatakan keberatan.

Terdengar gumam Ki Patih Mandaraka. Ia menebar pandang ke sekelilingnya lalu menghunjamkan pusat pandangan pada titik kedatangan orang-orang berkuda. Mereka begitu cepat bergerak dan Mataram kerap tertinggal, pikir Ki Patih. Namun ia tidak ingin menyalahkan Agung Sedayu atau membuat senapat pasukan khusus itu merasa bersalah. Pergerakan Raden Atmandaru memang benar-benar di luar perkiraan dan perhitungan banyak orang.  Rapi, tersembunyi dan tiba-tiba meledak. Pikiran Ki Patih bekerja keras menjawab dugaan-dugaan yang muncul bergantian dalam benaknya.

Lantas Ki Patih berkata, “Keadaan ini berawal dari kerusuhan di Madiun. Sebaiknya para bebahu mengetahui sebab musabab agar tidak ada dugaan-dugaan yang mengacaukan ketenangan Anda sekalian.”

“Kami mendengar, Ki Patih,” serempak para bebahu menjawab. Mereka berjumlah tiga orang karena Ki Ranubaya tidak diketahui keberadaannya sejak awal malam.

“Seseorang tiba-tiba bangkit dan menyatakan diri sebagai keturunan Panembahan Senapati. Orang ini menempuh cara yang berbeda. Dimulai dari Pedukuhan Dawang, semua kekuatannya terhimpun. Sejauh ini, hingga malam ketika saya meninggalkan kotaraja, ia tidak pernah mengirim seseorang atau mengambil sebuah cara agar kami dapat bertemu muka dan bicara. Bebahu sekalian dan engkau, Agung Sedayu. Aku pikir tidak boleh ada orang atau tidak ada seorang pun yang dapat berbuat sekehendak hati di bumi Mataram. Kalian tentu setuju dengan itu, tetapi orang ini benar-benar berada di luar kebiasaan yang biasa ditempuh oleh perancang makar. Ia berbuat sekehendaknya, dan banyak orang yang mengikutinya.” Ki Patih Mandaraka menghentikan ucapannya untuk menghela napas panjang.

“Memang suatu kewajaran apabila rencana dirahasiakan dan tersembunyi dalam bilik pemikirannya. Tidak ada seorang pun yang tahu dari kalangan terdekatnya. Orang ini cenderung mengungkap pada saat terakhir, pada waktu rencana akan dilakukan. Dan, agar kalian tidak salah mengira kami telah mengetahui gerakan mereka, maka aku katakan  bahwa kami memang tidak mempunyai pengetahuan tentang semuanya sebelum bara di Menoreh menyala. Tidak pula barak pasukan khusus maupun Agung Sedayu. Bahkan saya yakin bahwa orang-orang mereka sendiri pun baru mengetahui rencana itu mungkin sehari sebelumnya atau lebih singkat dari itu. Maka dari itu, tidak banyak yang aku ketahui dengan tepat yang akan dilakukan oleh mereka. Namun saya percaya bahwa kalian bersama Agung Sedayu serta orang-orang Jati Anom akan mampu menghadang laju mereka.”

Bebahu kademangan mengangguk-angguk dan terasa longgar dada mereka setelah mendengar penjelasan Ki Patih Mandaraka. Dalam waktu kurang dari sekejap, kebersamaan dan pengertian bahwa mereka adalah harapan dan nyawa dari Mataram segera mengaliri tubuh mereka bersama dengan peredaran darah.

Ki Patih meninggalkan pesan untuk mereka, bahwa penyerahan kendali pada Agung Sedayu dan orang-orang yang ditunjuknya akan memudahkan hubungan satuan pengawal dengan yang lain. Selanjutnya Ki Patih menyatakan bahwa ia dan rombongan akan meninggalkan Sangkal Putung pada akhir malam. Untuk Agung Sedayu, Ki Patih mengatakan sepatah kata dengan berbisik. Sumringah raut wajah senapati pasukan khusus itu ketika menyimak kata-kata Ki Patih.

Sejurus kemudian , lima orang Mataram yang diiringi Agung Sedayu semakin jauh meninggalkan regol Ki Demang. Dalam waktu itu, Agung Sedayu berkata , “Apakah Ki Patih akan mengambil jalan utama?”

“Bagaimana menurutmu?”

“Saya dapat mengabaikan kemungkinan yang terjadi bila Ki Patih memutuskan berada di jalur utama. Kita dapat berharap Raden Atmandaru tidak melakukan penyergapan di atas jalanan utama.”

“Mungkinkah ia membiarkanku melenggang?”

Seorang rangga yang berada di belakang Ki Patih seperti akan mengatakan sesuatu. Mulutnya sempat terbuka tetapi belum sempat ia katakan yang tersimpan di dalam hatinya. Rangga itu tengah menunggu Agung Sedayu atau Ki Patih melihat perubahan pada dirinya. Dan ketika sudut mata Agung Sedayu menangkap keganjilan pada orang di belakang mereka, lalu ia berpaling, katanya, “Apakah Ki Rangga Ramapati ingin mengatakan sesuatu? Ki Rangga, saya tidak lebih tinggi kedudukan secara pribadi di depan Ki Patih. Silahkan.”

“Ah, saya menjadi tidak enak hati. Ki Agung Sedayu mempunyai tempat khusus di hati Ki Patih dan Panembahan berdua.”

“Hmm..” gumam KI Patih Mandaraka. “Katakan.”

Related posts

Merebut Mataram 3

Redaksi Surabaya

Merebut Mataram 4

Redaksi Surabaya

Merebut Mataram 1

Ki Banjar Asman