SuaraKawan.com
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 7

Semakin pekat adalah suasana sepanjang jalur yang mereka tempuh. Pepohonan kian rapat dan pelita rumah penduduk sekitar jalur bahkan tidak ada yang memancarkan cahaya. Sukra tidak dapat menduga arah perjalanan, apakah menuju Mataram atau pedukuhan induk? Ia percaya sepenuh hati pada Kiai Bagaswara yang tangkas dan gesit menyusuri jalanan gelap.

Sejumlah gardu sempat terlihat tetapi begitu sunyi. Tidak tampak seperti gardu yang kebanyakan penuh dengan orang dan bercahaya adalah keadaan terakhir yang dilihat oleh Sukra dan dua teman perjalanannya.

Kosong, sepi, dan gelap.

Tiga orang itu berjalan tanpa suara namun isi hati mereka telah menduga bahwa bahaya mungkin tengah mengintai bila mereka mendekati gardu. Sesekali mereka harus keluar dari jalur sewaktu mendengar suara orang bercakap atau langkah kaki yang tersaruk. Busur dan panah seolah menjadi perlengkapan wajib setiap orang yang menjadi peronda. Dua benda itu tampak menggantung di balik punggung mereka, sedangkan keadaan senjata yang tergenggam mempunyai persamaan dengan kawan-kawan mereka di tengah pedukuhan : telanjang.

Sebagai seorang pengawal Tanah Perdikan Menoreh, Sukra dapat menilai bahwasanya para pengikut  Raden Atmandaru benar-benar terampil dalam menyamar. “Jika itu didasarkan pada pengamatan siang hari,” gumam hati Sukra ketika pikirannya membuat perbandingan. Selain itu juga, mereka telah dalam keadaan siaga bahwa setiap waktu bahaya akan mengancam mereka. Dan bahaya yang dimaksudkan oleh Raden Atmandaru dan orang-orang dekatnya adalah : penyusup dari Sangkal Putung dan Mataram. Sukra dapat menilai walau tidak seluruhnya benar-benar sesuai dengan siasat Raden Atmandaru. Namun ketajaman pikirannya – sejauh itu – mampu membuat kesimpulan-kesimpulan yang berharga di depan Agung Sedayu.

Dalam waktu itu Agung Sedayu dapat bernapas lega bahwa Pedukuhan Gondang Wates tidak terputus dari pedukuhan induk. Keterangan demi keterangan dapat didengarnya dari Bunija. Wedang sereh panas dan sedikit makanan hangat tersaji di tengah lingkaran duduk mereka.

Bab 4 Kiai Plered - 60

Sejenak kemudian mereka tiba di ujung jalur lintasan, tampak lorong kecil berupa jalan setapak yang mendaki dan berpagar pohon pisang pada dua sisi. Dari arah utara yang berjarak kurang lebih selemparan panah, serombongan orang tengah menyeruak ilalang setinggi pinggang. Kaki-kaki mereka jelas terdengar saat merambah rimbun ilalang kering. Semakin dekat, semakin jelas bayangan rombongan dapat dilihat oleh Kiai Bagaswara bertiga.

Pertimbangan dan keputusan segera diambil oleh karib Ki Gede Menoreh itu. “Keadaan tidak menguntungkan bila terus menyisir jalan setapak ini,” desisnya pada Sukra dan Ki Plaosan, “tetapi bila kita melangkah mundur, sudah tentu mereka akan mengetahui keberadaan kita.” Ibu jari Kiai Bagaswara menunjuk sejumlah bayangan yang mendekat. Sebuah obor tampak berada di tengah-tengah rombongan itu.

“Kita tidak mempunyai pilihan yang lebih buruk daripada kedudukan sekarang, Kiai,” kata Ki Plaosan.

Agaknya memang tidak ada kemungkinan yang lain. Mereka harus meringkuk. Bila perlu, mereka harus meratakan punggung dengan permukaan jalan. Aba-aba telah dinyatakan Kiai Bagaswara, seketika Sukra menyuruk, menggulingkan tubuh, membenamkan diri ke dalam parit yang berada di bawah baris pohon-pohon pisang, tanpa menimbulkan bunyi! Sedangkan Kiai Bagaswara dan Ki Plaosan merapatkan tubuh pada tanggul parit yang dapat menyamarkan pandangan mata. Gemericik suara air yang mengalir sepanjang parit agak membantu pergerakan Sukra.

Jantungnya berdebar agak keras ketika suara percakapan orang-orang asing itu terdengar semakin dekat.  Dada Sukra bergerak turun-naik. Menyisakan bagian wajah yang  menyembul di permukaan air, Sukra berusaha mengatur napas agar desahnya tidak melebihi kecipak air.

Beberapa saat kemudian orang-orang yang menyibak malam tiba di sekitar mereka. Suasana tegang merambati perasaan Kiai Bagaswara bertiga. Begitu dekat kedudukan mereka dengan iring-iringan yang baru datang. Pandangan mata Kiai Bagaswara dan Ki Plaosan terhalang tumbuhan yang menjadi atap dan dinding mereka. Keadaan sedikit menguntungkan karena orang-orang itu juga tidak dapat melihat mereka. Sekelompok orang berdiri setengah lingkaran, membelakangi Kiai Bagaswara dan Ki Plaosan, sepertinya mereka sedang menunggu sesuatu.

Tiba-tiba terdengar derap kuda berlari kencang memecah keheningan.

Baca : Tuban, Dulu dan Sekarang

Sejumlah penunggang berpakaian gelap lesat menembus malam.

Sukra mengamati dan menunggu dengan dada berdentang kencang. Demikian pula Kiai Bagaswara dan Ki Plaosan yang berjarak lebih dekat dibandingkan dengan Sukra. Pengawal Menoreh itu mengerutkan kening. “Mungkinkah akan terjadi pertemuan di tempat ini? Bila benar, ini sangat menguntungkan sekaligus membahayakan,” ucap Sukra dalam hati.

Salah seorang yang berada di jalan kemudian berkata, “Apakah kita sudah siap membuat kejutan? Aku ingin pastikan lagi. Gendhis, perjalanan ke pedukuhan induk tidak begitu jauh tetapi engkau harus memutar. Apakah engkau dapat menyesuaikan diri dengan segala keadaan?”

“Saya, Raden,” jawab Gendhis.

Orang yang pertama kali mengucap suara ternyata Raden Atmandaru. Kemudian ia melanjutkan pertanyaan pada tiap-tiap orang yang berdiri di dekat kudanya. Para pengikutnya menanggapi dengan jawaban yang sama dengan Gendhis. “Kita telah membuat perencanaan singkat, namun begitu, aku tidak memberi kelonggaran pada setiap dari kalian yang mengendur. Supaya orang-orang juga bersiap. Aku tidak akan mengubah arah perjalanan dan tujuan. Kita, pada malam ini, begitu dekat dengan pusat lingkaran Mataram. Jika Kiai kembali ke Randulanang, maka katakan pada orang-orang agar segera bersiap di setiap sudut pedukuhan,” kata Raden Atmandaru dengan tegas lalu menekankan perintah terakhir pada Ki Tunggul Pitu yang juga berada di tempat itu.

Ki Tunggul Pitu menggangguk, kemudian membuat tanda agar seseorang di belakangnya segera mendekat. “Pastikan Simbara telah keluar dari pedukuhan lalu cari jejaknya di Mataram. Bila engkau menemukannya lalu terkesan mengulur waktu, habisi!”

“Saya, Kiai,” sahut orang itu. Kemudian ia mencongklang kuda berbalik arah, menuju Randulanang.

Berkata lagi Raden Atmandaru, “Menggempur pengawal Ki Juru di pedukuhan induk telah kita sepakati sebagai serangan yang bodoh. Sebagian dari kita akan tetap berada di sini. Sergap lalu hancurkan mereka. Sebagian akan mengambil jalan lain agar mereka benar-benar tidak dapat keluar dari Sangkal Putung dengan selamat. Sebagian harus membuat kekacauan yang benar-benar membuat Agung Sedayu tersudut.”

Setiap pengikutnya diliputi keheningan yang dapat berubah menjadi ledakan.

“Swandaru,” ucap Raden Atmandaru, “apakah engkau benar-benar telah bersiap lahir dan batin menghadang Agung Sedayu?”

“Tidak ada keraguan, Raden,” kata Swandaru yang tidak melepas salah satu lengannya dari pinggang Nyi Gandung Jati.

“Sulit dipercaya! Ki Swandaru terlibat makar? Ini… Bagaimana ini dapat terjadi? Sungguh, benar-benar gila!” Sukra berkata keras-keras dengan segala perasaan dalam hatinya. Sukra ingin melengking tinggi mendengar nama Swandaru disebut-sebut. Bahkan Sukra ingin segera menghamburkan diri, menubruk Swandaru lalu bertanya tentang kebenarannya.

Related posts

Merebut Mataram 3

Redaksi Surabaya

Merebut Mataram 1

Ki Banjar Asman

Merebut Mataram 6

Redaksi Surabaya