SuaraKawan.com
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 6

Lelaki itu bergeser tempat lalu memilih tempat duduk di depan Sukra. Mereka berada di meja yang sama. Untuk beberapa lama, lelaki itu hanya memandang wajah Sukra sambil tersenyum. Sebanyak yang ia bicarakan, semuanya adalah percakapan datar. Tidak ada hal penting yang dapat diserap Sukra sebagai keterangan yang berguna. Namun lelaki tetap bergeming. Hidangan yang tersaji telah tandas, lelaki segera bangkit menuju meja pemilik kedai. Sukra bergelagat akan mendahuluinya, tetapi ia mengurungkan niat. Ketajaman nalar Sukra mengabarkan padanya untuk tetap duduk sambil mengamati keadaan.

Lelaki itu mengerti bahwa tidak ada keamanan di dalam kedai. Ia mempunyai tujuan ketika melihat Sukra untuk pertama kali di Randulanang. Sekelebat pandang bayangan semakin panjang, ia mengajak Sukra keluar dari kedai dengan tanda tertentu. Diiringi kecurigaan yang membersit dalam hati, Sukra menyambut ajakan lelaki itu dengan menjaga kewaspadaan. Meski Sukra tidak berpikir buruk tetapi ia adalah petugas sandi yang dikirim oleh Agung Sedayu.

“Ngger,” ucap lelaki – yang menurut perkiraan Sukra : berusia di atas Agung Sedayu – lirih, “sepertinya kita tidak mempunyai pilihan lain. Oh, sebelum itu, saya harus minta maaf pada Angger. Boleh jadi Angger sedang bertanya-tanya mengenai diri saya.” Di tempat yang sedikit terpisah dari perlintasan dan kerumunan, orang itu membuka diri. Ia mengenalkan namanya sebagai Ki Loring Palosan. Ia sedikit menambahkan bahwa itu adalah nama yang dipilihnya berdasarkan tanah kelahiran. Ki Plaosan juga menjelaskan kedudukannya sebagai prajurit sandi bawahan Ki Tumenggung Wirayudha. “Bila Angger adalah benar sebagai anak muda yang tinggal di rumah Ki Rangga Agung Sedayu, tentu Angger mengenali benda ini,” kata Ki Plaosan seraya menjulurkan lempengan besi bundar.

Resensi Film : Cinta Terlarang

Sukra yang tidak asing dengan banyak tanda-tanda keprajuritan lalu mengamati dengan kening berkerut.

Dalam waktu itu, Ki Plaosan mengatakan bahwa ia mempunyai keluarga di Tanah Perdikan dan kerap mengunjungi mereka untuk beberapa lama. Untuk menguatkan keterangan dan mendapat kepercayaan Sukra, Ki Plaosan menyebut beberapa nama dan kebiasaan dari empunya nama.

“Saya mengenal mereka dan seperti itulah yang biasa kami lewati dalam keseharian,” pelan Sukra berkata. Sesaat kemudian ia menggenggam lempengan besi bundar, menimbang di atas telapak tangannya sambil berpikir keras mengingat tanda khusus yang diajarkan Agung Sedayu. Apakah tugasnya akan baik-baik saja atau jusru mendapatkan kendala? Pikiran Sukra segera mengkhawatirkan keadaan ketika ingatannya membenarkan tanda itu.

“Baiklah, Ki Lurah,” ucap Sukra diiringi napas berat. “Meskipun saya tidak dapat menerima alasan Ki Lurah karena gamblang menerangkan keadaan diri, saya pikir tidak ada salah bila saya bertanya maksud Ki Lurah.”

“Saya sadar itu, Ngger. Tidak ada petugas sandi yang dengan bodoh menerangkan jati diri. Kali ini, tidak. Itu tidak berlaku bagi saya karena saya benar-benar sering mendapati Angger di sekitar lingkungan Ki Rangga Agung Sedayu. Bukankah Angger bernama Sukra?”

Sukra mengangguk.

“Baik, Angger boleh menyimpan keraguan. Tetapi saya akan mengatakan sesuatu yang akan berguna bagi Ki Rangga,” kata Ki Plaosan. Sebenarnya ia telah berpikir bahwa akibat terburuk dapat terjadi apabila membagi keterangan pada Sukra. Namun keyakinannya berada di atas segala kemungkinan yang telah dipertimbangkan. “Saya mengikuti Angger ketika melihat Angger sedang mengamati bagian depan rumah Ki Gandung Jati. Dan saya tetap berada di dalam jarak terukur sewaktu Kiai Bagaswara meninggalkan bagian depan. Oh ya, padepokan milik Kiai Bagaswara adalah salah satu tempat yang menjadi jujugan saya menimba ilmu saat mengunjungi Tanah Perdikan.” Sejenak terdengar hela napas panjang dari Ki Plaosan, lalu dengan nada getir katanya, “Orang yang malang. Dikhianati oleh murid dari saudara seperguruannya sendiri. Ah, sudahlah, kita ke pokok persoalan. Saya mendengar percakapan Angger dengan lelaki tua penjual wedang. Walau Angger berdua bericara pelan, tetapi semua terdengar jelas.”

“Kita tak boleh berada dalam keadaan jumawa. Sikap itu akan menghancurkan segala sesuatu yang kita miliki saat ini, dan pula jumawa akan membinasakan segala manfaat yang mungkin akan kita terima di masa mendatang,” berkata Hyang Menak Gudra setelah para punggawa usai berbait syair. Pangeran Benawa ; Panarukan 3

Sejauh itu , Sukra belum mengucap sepatah kata.

Sekejap waktu berlalu melintasi mereka ketika terdengar langkah kaki yang menyaruk tanak dan daun kering. Bayangan seseorang tampak begitu memanjang dan sedang mendekati tempat mereka. Ia berjalan membelakangi matahari, sedangkan Sukra dan Ki Plaosan benar-benar kesulitan melawan terang cahaya yang tepat menghunjam bola mata mereka.

Ki Plaosan tersenyum setelah mengenali orang yang mendatangi mereka. “Sekarang kita tidak lagi berdua, Ngger.”

Sukra mengerutkan kening, lalu mengangguk. “Kiai.”

“Mari, kita bergeser tempat,” kata Kiai Bagaswara kemudian. Sejenak dua orang di hadapannya terjerat keraguan. Mereka saling bertatap pandangan.

“Bila saya dapat mengetahui Kiai berdua berada di tempat ini, bukankah hal yang sama akan diraih oleh petugas sandi Raden Atmandaru?” Kiai Bagaswara menjawab keraguan yang tidak terungkap kata-kata.

Ki Plaosan tersenyum Ia berucap pendek, “Kiai benar. Mari, kita ikuti perintah Kiai, Ngger.”

Sukra menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, “Baiklah. Mari.”

Malam datang mengambil alih suasana. Randulanang akan diselimuti kegelapan hingga fajar menjelang. Dalam waktu itu, di luar kebiasaan, hanya sedikit rumah yang menyalakan lampu. Hanya sedikit orang yang berjalan terburu-buru melintasi jalanan. Sejumlah kelompok peronda mulai bertebaran dengan senjata telanjang. Sepintas tidak ada yang aneh pada pakaian mereka, tetapi Sukra telah mengingat keadaan pada malam sebelumnya ; malam ketika ia pertama kali memasuki Pedukuhan Randulanang.

Keadaan itu mengundang tanya dalam pikiran Sukra, walau demikian belum terucap melalui bibirnya. Segenap perhatian Sukra tercurah pada suasana yang dilewati bertiga. Jalan-jalan pikiran Sukra dipenuhi dengan pertanyaan dan jawaban terkait alasan-alasan yang melatari keganjila di Randulanang. Di tengah perlahian waktu itu, sambil memperhatikan tanda-tanda yang ada, Sukra memperkirakan bahwa Kiai Bagaswara tengah membawa mereka keluar dari Randulanang melalui jalur yang tidak lazim.

Related posts

Merebut Mataram 8

Redaksi Surabaya

Merebut Mataram 5

Redaksi Surabaya

Merebut Mataram 2

Ki Banjar Asman