SuaraKawan.com
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 5

Sejenak ia memandang keadaan sekelilingnya. Sukra kemudian melangkahkan kaki menuju bagian belakang rumah Ki Gandung Jati. Ia ingin mengetahui suasana di belakang rumah pemimpin pedukuhan yang tewas terbunuh di halamannya sendiri. Sama dengan keadaan di tempat lain, halaman itu tidak menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan.

Sepi.

Suasana di balik batas halaman begitu sunyi. “Lalu di mana Kiai Bagaswara sekarang?” bertanya Sukra dalam hati. Sebelum hanyut dalam perkiraan-perkiraan yang tidak dapat dibatasi, Sukra memutuskan mencari jalur lain menuju banjar pedukuhan, meski sebelumnya telah melewati banjar, Sukra ingin melihat adanya kemungkinan yang lain.

Mendadak bentakan seseorang menyeruak keluar dari tikungan yang berada di sisi kiri Sukra.

“Bukan watak dari kebanyakan kita yang hidup di Mataram bila memberikan punggung ketika seorang ayah telah menetapkan keputusan.”

Kiai Plered - 81

Sukra melompat, melesat ke pusat suara. Jantung Sukra berhenti berdetak dan ia ingin memukul kepala orang itu.

“Simbara!” geram Surka dalam hati.

“Mengapa kau lakukan itu?” bentak Simbara pada lelaki renta yang berjongkok di depan lututnya. “Jawab!” Dorongan kaki Simbara menyentuh bahu orang tua itu, tetapi tidak ada suara mengeluh yang terucap darinya.

Sukra segera menerjang Simbara, mencengkeram pergelangan kakinya, lalu menariknya hingga permukaan jalan.

“Siapakah engkau?” tanya Simbara lalu memekik garang.

“Palguna!” Suara Sukra begitu ketus dan menyimpan kegusaran yang begitu dalam. Begitu tiba-tiba Sukra menyerang Simbara, dan itu dilakukannya tanpa berpikir panjang. Rasa jengah dan marah mengingat sikap Simbara terhadap Gendhis semakin membuat Sukra melabrak sedemikian kuat!

Simbara tidak merasa harus menahan diri. Bahkan seolah mendapatkan jalan untuk melepas kekesalan akibat perlakuan Mangesthi, ditambah pengakuan lelaki tua padanya. Orang itu mengatakan, bahwa ia curiga kepada para tamu yang berada di rumah Simbara. Ia pun menyatakan telah mengintai keadaan rumah dalam beberapa waktu. Yang membuat Simbara kehilangan kendali adalah orang itu menambahkan bahwa ia melihat ibu Simbara berdamping hangat dengan lelaki lain.

“Simbara! Ibumu adalah adikku sendiri. Ia masih keluargaku, lalu mengapa aku harus berbohong padamu?” Itu yang diucapkan lelaki yang sebenarnya adalah paman Simbara sendiri. Tetapi semua sia-sia. Usaha dan pengakuan paman Simbara menemui jalan buntu. Sebuah tamparan menyentuh rahang, lalu ia terpuruk karena tendangan walau lunak namun harga dirinya runtuh! Maka kedatangan Sukra yang tiba-tiba menyerang Simbara telah menyelamatkan mukanya di depan orang-orang yang melihat peristiwa itu.

“Palguna? Nama yang bagus.” Simbara mengangkat lutut, meraih lengan Sukra, lalu membenturkan lututnya pada tulang dada anak muda Menoreh itu.

Sukra gesit menggeliat dengan lengan terkait erat pada cengkeram Simbara. Mungkin secara ajaib Sukra menghindari serangan berbahaya Simbara.  Perkelahian meningkat tajam. Sukra dan Simbara saling melibat sangat sengit, debu-debu membumbung tinggi terpukul oleh tumit dan tapak kaki mereka.

“Mengapa kau tidak berteriak memanggil pengawal-pengawalmu?” Sukra mengejek Simbara. Ia pikir harus melakukan itu untuk mencari jalan agar dapat segera keluar dari perkelahian. Meski masih belum terlampiaskan, Sukra kembali memegang teguh sebagai seorang sandi.

“Buat apa? Menghadapi orang sepertimu? Tidak perlu. Kau bukan orang penting!”

Sukra mengeluarkan seringai sambil mendengus, lalu mengeluarkan gebrakan melalui gerakan yang sering ditunjukkannya di depan Glagah Putih. Simbara bergeser surut. Sukra terus-menerus menekannya dengan tendangan yang bergantian dilepaskan oleh sepasang kakinya. Tendangan memutar-mutar, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas dan sangat menyulitkan Simbara menyerang balik. Simbara hanya mundur dan mundur sambil menunggu lawannya membuat kesalahan.

Lingkar perkelahian mereka menjauhi batas luar halaman belakang rumah Ki Gandung Jati. Sepintas terlihat rerimbun semak berada di balik pekarangan yang terletak di samping kanannya, Sukra meningkatkan serangan. Semakin cepat. Semakin kuat.

“Luar biasa!” puji Simbara dalam hati. Ia memejamkan mata karena butiran debu kian deras menghantam wajah. Mendadak serangan berhenti! Ia membuka mata lalu mengumpat Sukra dengan kata-kata yang sangat buruk.

Sukra tiba-tiba menghilang dan hanya meninggalkan dedaunan yang bergoyang-goyang.

“Simbara cukup hebat,” gumam Sukra saat melepaskan diri dari daerah yang berbahaya bagi keselamatannya. “Akan menjadi lawan yang tangguh bila ia mempunyai keberanian turun di medan perang.”

Di balik gundukan, tepatnya tanah yang sedikit bergelombang, Sukra mengurai penyamaran. Lantas cepat bergerak menuju banjar pedukuhan yang telah diperkirakan letaknya. Dari banjar, Sukra mendatangi gardu-gardu satu demi satu guna mencari tahu perkembangan dari perkelahiannya melawan Simbara. Namun keadaan masih sama dengan pagi hari. Tidak banyak yang diperbincangkan orang. Tidak tampak pergerakan pengawal untuk mencari seseorang yang diduga sebagai penyerang Simbara.

“Benar-benar aneh!” kata Sukra sangat pelan.

Bayangan agak memanjang ketika Sukra mengayun kaki menuju tempat pertemuannya dengan Kiai Bagaswara. Ia tidak lagi memilih jalanan yang sepi. Sukra begitu cepat menyesuaikan diri bahkan muncul keyakinan bahwa Simbara tidak akan mampu mengenalinya dalam rupa asli. Dengan tetap membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di Randulanang, Sukra mencoba bersikap ramah pada orang-orang yang berpapasan dengannya.

Sebuah kedai yang tak cukup besar tetapi selalu dikunjungi orang menjadi tempat pertemuan dua utusan Agung Sedayu. Sejauh waktu itu, Sukra masih menilai bahwa Randulanang adalah pedukuhan yang sepi. Bisa jadi, karena tidak seramai Pedukuhan Janti, maka Sukra dapat menyusup dan menggali keterangan tanpa banyak kesulitan. Tetapi apa yang dapat diperolehnya? Hanya satu keterangan tentang rombongan penunggang kuda.

Tanpa banyak menebar pandangan, Sukra berjalan tegap memasuki kedai. Seseorang tampak tertarik dengan kedatangannya. Sepertinya Sukra mengabaikan sejumlah sorot mata yang tertuju padanya. Ia mengatakan pada pelayan tentang makanan dan minuman yang ingin dipesannya.

Melihat Sukra begitu tenang mengambil tempat duduk, orang itu mendekat lalu bertanya, “Dari manakah Ki Sanak berasal?”

Sejenak dada Sukra berdebar ketika mendegar orang bertanya padanya. Wajah Simbara adalah wajah yang paling ingin dihindarinya pada sisa waktu pengintaiannya. Kemudian ia lega bahwa penanya itu bukan Simbara. “Saya dari Mataram,” jawab Sukra dengan sedikit pertimbangan.

“Tentu keadaan di sana jauh berbeda dengan pedukuhan ini,“ orang itu berkata lagi. Mungkin ia ucapkan itu pada dirinya sendiri.

“Semuanya sama saja. Itu tergantung pada kita sendiri, Ki Sanak,” ucap Sukra bijaksana. Dalam hatinya, ia merasa geli dan ingin tertawa keras-keras.

“Mungkin ada benarnya juga.” Sepasang mata orang itu melirik ke kiri dan kanan. Seolah-olah ia berada di bawah pantauan seseorang atau beberapa orang. Sukra merasakan ada getar aneh ketika orang itu berkata-kata.

 


Related posts

Merebut Mataram 3

Redaksi Surabaya

Merebut Mataram 4

Redaksi Surabaya

Merebut Mataram 6

Redaksi Surabaya