SuaraKawan.com
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 4

Sejauh pengamatan yang dilakukannya, Sukra benar-benar mendapati bahwa Randulanang tidak berada di bawah tekanan atau bahaya. Semua kegiatan berada dalam keadaan wajar. Kecurigaan Sukra pun tak mampu menyeruak ke permukaan karena memang tidak ada yang dapat ditengarai sebagai gerakan makar. Ia tidak melihat latihan-latihan keprajuritan di sekitar rumah Ki Gandung Jati. Aneh, pikirnya. Ki Tunggul Pitu sudah jelas berada di pihak berseberangan, tetapi bagaimana mereka menutup kegiatan yang seharusnya terlihat? Namun Sukra dibatasi oleh perintah Agung Sedayu. Pengamatan dan segala keterangan harus tetap disampaikan pada senapati Mataram.

 

”Itu akan menujukkan bahwa Panarukan adalah tanah yang lemah. Seharusnya kita bangkit berdiri menyongsong mereka di atas samudera." 


Pangeran Benawa - Panarukan 1

Hingga matahari benar-benar terlihat gagah di puncak langit, sungguh, Sukra tidak melihat sesuatu yang pantas untuk diwaspadai. Hanya karena pesan Agung Sedayu — bahwa yang tidak terlihat tidak selalu menggambarkan keadaan sesungguhnya –, Sukra pun melampiaskan kesal dengan menggerutu di bawah rindang pohon preh. Ia duduk di atas akar yang melintang, di sisi penjual wedang jahe yang tengah melepaskan penat.  “Bila semuanya begitu gelap, Raden Atmandaru memang benar-benar hebat! Ia mampu membuat sekat-sekat yang dapat mengalihkan pengamatan petugas sandi. Hmmm, apakah penjual ini juga petugas sandi? Apakah ia datang dari Mataram? Aku tidak boleh gegabah mengajaknya bicara,” kata Sukra dalam hati.

Lelaki berkulit gelap dengan pakaian sedikit lusuh mengundang perhatian Sukra. Sejenak ia memang mencurigai penjual wedang itu, tetapi bisik hatinya segera menolak pendapat yang bermunculan dalam ruang pikirannya. “Tangan itu bukan milik pemegang senjata. Orang ini mungkin benar-benar pedagang tulen. Semoga memang ia jauh dari perkiraanku,” bisik hati Sukra. Ketika ia tengah memandang dari samping, penjual wedang itu berdiri sambil memisahkan kain yang dikenakannya dari debu.

“Udara begitu panas, Ngger. Sebaiknya saya segera kembali ke dusun lebih cepat dari kemarin,” ucap penjual itu sambil mengangkat pikulan kayu.

Bahwa tidak ada orang lain kecuali mereka berdua, Sukra lantas menganggap ucapan itu ditujukan padanya. Kata Sukra kemudian, “Apakah dusun Paman jauh dari sini?”

Wajah penjual wedang sedikit tengadah. Ibu jari kanan menunjuk pada arah di balik perbukitan. Lalu ia menatap cahaya matahari yang menembus celah dedaunan, lantas menjawab, “Mungkin saya akan tiba di rumah sebelum bayangan memanjang.” Tiba-tiba raut wajahnya berubah sebelum menambah kata-kata. “Pedukuhan ini mulai berubah. Saya selalu pulang ketika bayangan mulai memanjang dan tiba di dusun saat senja. Belakangan, saya tidak lagi dapat melakukan itu.”

Sukra tertarik untuk menggali lebih dalam. “Bagaimanakah itu, Paman?”

“Saya pikir setiap lelaki atau setiap pedagang akan berusaha keras menyelamatkan segala yang terhubung dengan usahanya.” Pedagang keliling itu menghela napas sambil memandangi perangkat dagangnya. Memang, semua terlihat baru.

Sukra mengikuti arah mata lawan bicaranya tetapi tidak berkata-kata. Sukra mengamati dengan sikap tubuh bersungguh-sungguh.

“Pada suatu hari, dalam suasana remang, sesuatu yang ganjil sedang terjadi.  Ketika saya melewati hutan kecil, tiba-tiba tanah menjadi bergetar. Ini aneh, pikir saya waktu itu. Jalanan yang menghubungkan dusun kami dengan wilayah lain memang sering dilalui rombongan pedagang atau petani. Orang banyak sudah mengetahui keadaan itu. Jadi, ketika permukaan tanah bergetar, saya tahu bahwa itu adalah tanda bahwa akan ada serombongan penunggang kuda yang berderap cepat. Saya berada di ujung tanjakan sewaktu rombongan itu masih belum terlihat mendaki jalanan. Kemudian terlihat debu mengepul di belakang mereka. Semakin dekat dengan saya, bumi seperti menderum seolah akan meledak. Mereka meluncur deras, sangat cepat sehingga saya tidak berkesempatan untuk keluar dari badan jalan. Klenthing yang berisi air dan rempah-rempah pun terlibas derap kaki kuda. Saya harus meloncat lalu menggulingkan tubuh, menjauh dari jalanan agar tidak terlindas puluhan kuda yang memenuhi lebar jalan.” Suara lelaki setengah baya itu bergetar. Kegetiran ada ketika ia menutup ucapannya.

“Ke arah mana mereka pergi?”

Penjual wedang menggerakkan ibu jari ke arah yang berseberangan dengan pusat pedukuhan. “Mereka tidak pernah tiba di dusun saya, dan saya juga tidak pernah melihat kuda-kuda yang sangat banyak di pusat pedukuhan.”

“Saya kira halaman rumah bekel pedukuhan sanggup menampung kuda-kuda yang sangat banyak, yang seperti Paman katakan.”

Penjual wedang menggeleng. “Kami, orang-orang Randulanang, sangat mudah mengetahui perubahan yang terjadi di rumah Ki Bekel. Ki Gandung Jati murah tangan pada kami. Beliau cukup hangat dan selalu mengabarkan segala yang ada di dalam rumahnya. Dan sejumlah hari terakhir, saya belum melihat beliau di banyak tempat. Mungkin Ki Gandung Jati tengah mengurus kepentingan di Sangkal Putung atau Mataram.” Sewaktu ia telah bersiap untuk berjalan, penjual wedang itu berkata lagi, “Sepertinya Angger bukan orang dari pedukuhan ini. Apakah Angger baru tiba?”

 Dalam sebuah upacara pembukaan pabrik, Mangkunegara IV menamai pabrik pertamanya itu Colo Madu, suatu nama Jawa yang artinya “gunung madu”.



Sejarah : Pabrik Gula Colomadu

Sukra telah memperkirakan pertanyaan itu dan siap dengan jawaban yang tidak menyentuh rasa curiga. “Saya baru tiba tadi pagi, Paman. Saya ingin melihat Mataram, hanya saja, jalan yang saya lewati memang memutar. Banyak pemandangan yang eman untuk dilewatkan.”

“Oh, Paman dapat mengerti. Seusiamu memang selalu begitu. Dan sepertinya setiap anak muda akan mencari jalan untuk memuaskan hasratnya yang penuh rasa ingin tahu,” kata penjual wedang sambil tersenyum. Lantas ia meminta diri untuk pulang.

Punggung penjual wedang itu menjadi kecil ketika Sukra belum dapat memutuskan pilihan. Apakah ia akan membuntuti lelaki itu atau menunggu Kiai Bagaswara di sisi sebuah tikungan pada jalan yang mengarah ke pedukuhan induk? Ia tertarik pada keterangan tentang rombongan penunggang kuda, tetapi buruknya : Sukra tidak menanyakan tentang waktu kejadian. Sadar dengan kelalaiannya, Sukra berulang-ulang menepuk jidatnya yang makin tebal dengan debu-debu jalan. Beginikah seorang petugas sandi kepercayaan Agung Sedayu? Kalimat itu hilir mudik pada jalan-jalan pikirannya.

“Dalam keadaan seperti sekarang, siapakah yang menjadi penentu karsa? Aku atau Kiai Bagaswara? Andaikata aku mengikuti paman tadi, lalu aku salah memutuskan, apa yang akan terjadi? Yang pasti adalah Kiai Bagaswara akan kehilangan arah untuk mencariku. Bukan, bukan seperti ini yang diinginkan oleh Ki Lurah,” Sukra berkata sendiri dalam hatinya.


Related posts

Merebut Mataram 3

Redaksi Surabaya

Merebut Mataram 2

Ki Banjar Asman

Merebut Mataram 5

Redaksi Surabaya