SuaraKawan.com
Bab 9 Pertempuran Panarukan

Panarukan 15

Kantung kulit yang terikat pada pinggang mereka yang berisi minyak telah ditumpahkan, pasukan khusus Blambangan mulai membakar banyak bagian kapal. Mereka berpencar dengan gerakan yang gesit dan sangat lincah. Masing-masing anggota pasukan khusus Blambangan menggenggam senjata rahasia berwarna hitam dan terbuat dari besi biasa. Mereka cepat melontarkan senjata rahasia yang berbentuk seperti paku. Para prajurit Demak mulai roboh membujur lintang ketika ratusan senjata rahasia mengenai tubuh mereka dengan telak.

Bentakan nyaring dan kata-kata saling mengingatkan yang terucap dari bibir prajurit Demak bercampur dengan jerit kesakitan. Pasukan khusus Blambangan semakin merangsek dan mendesak kerumunan orang yang mengepung mereka. Untuk sementara waktu, kedudukan menjadi tidak seimbang ketika pasukan Blambangan menerobos bagian dalam kapal. Mereka berusaha  mencapai bagian lambung kapal lalu menjadikannya tenggelam. Tetapi prajurit Demak mulai dapat menguasai diri, kini mereka berbagi kedudukan untuk mempertahankan kapal.

Dalam waktu itu, senopati Demak keras berusaha mempertahankan kendali kapal tetapi Ki Tambak Langon dan pasukan khusus Blambangan bergerak lebih cepat darinya dan prajuritnya. Tandang Ki Tambak Langon sangat menonjol sehingga dapat dikenali senopati Demak yang sedang mencari pe-mimpin sekelompok orang asing yang memasuki kapalnya.

“Matilah kau, orang Blambangan!” bentakan nyaring senopati itu diikuti dengan satu gebrakan yang sangat dahsyat.

“Aku bukan orang Blambangan, Ki Sanak!”

“Apa peduliku? Aku adalah Lembu Jali dan kau datang mengacaukan kapal ini  maka layaklah jika aku memberimu hukuman mati!”

“Lakukanlah!”

Ki Tambak Langon tiba-tiba menyambar Ki Lembu Jali dengan sebatang golok bertangkai tanduk kerbau dan dibelit dengan tali yang panjang. Ki Tambak Langon begitu mahir memainkan senjata. Meski belum mengenai sasaran, senjatanya tetap mengurung Ki Lembu Jali dari segala arah. Terkadang golok Ki Tambak Langon melukai prajurit Demak yang berada dalam jangkauan serangnya. Golok Ki Tambak Langon seolah-olah menjadi rajawali yang ganas mengejar anak kelinci. Sekali-kali ia menghunjam dan terkadang menebas datar. Pertarungan dua senopati itu berlangsung seru tetapi Ki Lembu Jali masih belum dapat memangkas jarak yang membatasi mereka. Panjang tali dan tandang Ki Tambak Langon kembali membuat kedudukan tidak seimbang bagi prajurit Demak di atas geladak.

Di atas kapal yang berada di dekat kapal Lembu Jali, Banyak Kitri menempuh cara yang berbeda dengan Ki Tambak Langon. Ia menghantam dinding kapal sekuat tenaga dan menerobos masuk dengan memanfaatkan moncong bedil yang menyembul keluar. Banyak Kitri dengan tenaga berkekuatan raksasa melesat deras lalu menghantam satu moncong bedil besar dengan kepalan tangannya. Kulit kapal yang berlapis-lapis itu jebol saat moncong bedil bergeser arah akibat hantaman kuat Banyak Kitri. Banyak Kitri yang memiliki kemampuan tinggi itu cepat menyusup, memasuki lubang yang terbuka dan membuat keonaran di ruangan yang dipenuhi banyak prajurit yang bertugas sebagai juru bedil.  Satu demi satu pasukan khusus Blambangan menyusup naik melewati lubang yang dijaga ketat oleh Banyak Kitri.

Sepertinya membakar kapal adalah siasat yang tengah dijalankan oleh Blambangan. Itu terlihat pada saat pasukan khusus berpencaran ke seluruh penjuru di bagian dalam kapal kemudian menumpahkan minyak ke bagian lambung kapal dan merebut obor yang digunakan juru bedil Demak sebagai senjata.

Api berkobar cepat membakar bagian bawah kapal. Keadaan berubah sangat cepat. Serangan pasukan Blambangan yang cukup ganas ini tidak berada dalam perhitungan senopati yang memimpin kapal.  Bedil besar pun tak lagi menyalak. Belasan juru dayung harus mempertahankan diri dari serangan pasukan Blambangan yang mengalir sangat cepat. Di tengah-tengah bagian kapal, Banyak Kitri telah mengerahkan sebagian besar kemampuannya untuk meningkatkan bobot tubuhnya hingga beratus-ratus kali lipat. Tanpa perlawanan yang memadai dari prajurit Demak, Banyak Kitri menghentak lambung kapal berulang-ulang. Maka air pun menyembul dari bawah dan perlahan mulai menggenangi bagian dalam kapal.

Begitu cepat serangan yang dilakukan oleh Banyak Kitri dengan dukungan penuh pasukan khusus menjadikan Tumenggung Wadas Palungan kesulitan untuk mengimbanginya. Sebenarnya ia telah berusaha menuruni anak tangga dan mencegah Banyak Kitri melumpuhkan anak buahnya, tetapi ia mendapat halangan karena bagian dalam kapal telah porak poranda. Dan ketika ia dapat melepaskan diri dari kekacauan yang terjadi di geladak, Banyak Kitri telah menghilang dari bagian dalam. Banyak Kitri dan pasukan khusus telah keluar dan terjun ke lautan lepas.

Sejenak kemudian, Banyak Kitri melihat kapal Wadas Palungan perlahan mulai tenggelam. Ketika dilihatnya beberapa papan mengapung di permukaan, ia melayang dan kedua kakinya menjejak ringan lalu berlari di atas papan-papan yang mengapung dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba ia melejit makin cepat dengan dua kepalan tangannya menghantam sisi kapal dengan dahsyat.

Benturan yang sangat keras pun terjadi dengan ledakan yang sangat mengejutkan. Kapal Demak yang dipimpin oleh Wadas Palungan hancur pada bagian yang terhantam oleh Banyak Kitri. Dan Banyak Kitri sendiri telah melayang menjauhi kapal yang tenggelam semakin cepat. Ia berada kembali di atas perahunya. Kemenangan yang senyap karena tidak ada sorak sorai kemenangan yang berasal dari pasukan khusus Blambangan. Mereka mengapung dengan berpegang pada papan yang mereka peroleh lalu berenang menuju tepi pantai. Seolah tidak merasakan rasa perih karena luka-luka yang bercampur dengan air laut, pasukan khusus Blambangan tetap mengayuh kedua kaki dan tangan mencapai tepian.

Pada saat itu sebuah kapal Demak tengah berupaya mengejar mereka. Kapal ini beringsut meninggalkan gelar utama. Sejumlah anak panah melesat kencang menuju orang-orang Blambangan yang sedang berenang menjauhi kapal yang tenggelam. Namun anak panah itu sepertinya tidak akan pernah mencapai punggung pasukan khusus ketika Banyak Kitri memukul permukaan air laut yang kemudian membentuk satu gelombang yang besar menghalangi laju anak panah. Perlahan namun pasti mereka berenang semakin jauh dari jangkauan bedil besar Demak dan menuju tempat kapal Ra Kayumas bersembunyi.

Related posts

Panarukan 19

Ki Banjar Asman

Panarukan 6

Ki Banjar Asman

Panarukan 11

Ki Banjar Asman