SuaraKawan.com
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 3

Kiai Bagaswara menjawab dengan gelengan kepala. Sukra mengusap wajah berkali-kali sepertinya sesuatu tengah mengganjal dalam hatinya tetapi ia tidak menampakkan itu di depan Kiai Bagaswara. Pikirnya, mustahil bila setiap orang yang berada di regol akan dapat berdamai di antara mereka. Sementara itu, ketika Gendhis tengah meredakan gejolak hatinya karena sikap Simbara, mendadak menekuk dua lututnya setengah bagian lalu menyerang Mangesthi!

Semburat tegang wajah Ki Tunggul Pitu tiba-tiba memancar. Ini keadaan yang sangat sulit! pikirnya. Mangesthi adalah perempuan muda yang diandalkan Raden Atmandaru, selain itu ia adalah anak satu-satunya Ki Sekar Tawang. Maka, dalam sekejap, cabang-cabang pikiran segera memendar sangat luas di dalam ruang pikirannya.

Bentak Gendhis, “Jaga mulut, Mbokayu!”

Mangesthi hanya bergumam. Ia tidak mengambil kesempatan menjawab. Dalam kesempatan itu, Gendhis ingin mengetahui kemampuan Mangesthi walau pun ia sadar tidak akan dapat memaksa murid Ki Sekar Tawang untuk mengeluarkan kemampuan puncak. Namun, berawal dari yang didengarnya dari para pengikut Raden Atmandaru lainnya, Gendhis tidak memulai dengan serangan yang tanggung. Rasa penasaran yang dipicu oleh perasaan yang terluka membuat Gendhis seolah lupa diri.  Gadis muda ini menggebrak sepenuh tenaga. Dua kakinya berputar dan bergerak mematuk titik-titik berbahaya.

Atas serangan ganas itu, Mangesthi sibuk menangkis serangan Gendhis yang sangat kuat menerjangnya.  Hanya sekejap. Mangesthi mendadak bangkit melabungkan serangan beruntun yang tidak kalah garang dari Gendhis. Dua perempuan muda yang berbeda usia itu sepertinya tidak ingin membuang waktu dengan segala bentuk penjajagan. Mereka membenturkan kekuatan dengan saling menyerang dengan sangat keras.

Mangesthi tentu tidak ingin dipermalukan di depan Ki Tunggul Pitu dan tiga lelaki muda lainnya. Kemampuan prajurit utama harus lebih menonjol dari yang lain, cetusnya. Selagi ia menguatkan tekad,  Mangesthi pun maklum bahwa Gendhis tidak mudah dirobohkan. “Terlebih ia berkelahi di hadapan gurunya, tentu gadis ini akan berjuang mati-matian,” kata Mangesthi dalam hatinya. Selagi lawannya bergerak surut, Mangesthi melanjutkan hujan serangannya dengan gerakan yang sangat cepat dan kuat.

Perkelahian itu menjadi pusat perhatian Ki Tunggul Pitu. Ia merasa bangga dengan pencapaian Gendhis yang agaknya berada di luar perkiraannya. Ia dapat menilai perkembangan dari tata gerak dasar yang diajarkannya pada gadis yang menjadi muridnya sejak belia itu. Gendhis – dalam pandangannya – telah memadai untuk memimpin satu pasukan berkuda atau lima puluh lelaki bila ada perintah untuk itu. Menurut Ki Tunggul Pitu, kepercayaan diri Gendhis begitu kuat dan itu tergambar dari gerakan-gerakan yang dilakukannya dengan mantap. Bahkan, dengan jujur ia mengakui bahwa kepandaian Mangesthi berada di atas Gendhis. Secepatnya ia akan berbuat sesuatu untuk menghentikan pertarungan itu.

Sedangkan Simbara dan dua pengiring Gendhis hanya mengangakan mulut sewaktu menyaksikan pertandingan itu. “Sungguh, selain cantik, gadis itu sangat tangkas dengan segala gerakannya,” puji Simbara dalam hati. Namun perasaannya bercabang ketika menatap bagian-bagian tubuh Mangesthi yang kadang-kadang menonjol ketika meliuk atau menggeliat. Simbara menyaksikan perkelahian itu dengan sudut pandang yang berbeda dari Ki Tunggul Pitu. Ia menikmati setiap yang tersaji di hadapannya tanpa malu-malu!

“Cukup, cukuplah kalian!” kata Ki Tunggul Pitu sambil mendorong tubuhnya memasuki lingkaran perkelahian. “Kalian harus saling menjaga perasaan. Kita tidak dalam keadaan damai sekarang ini. Raden Atmandaru mempunyai tugas yang akan dibebankan pada kalian, dan itu akan menguras tenaga.”

Mangeshti segera melompat surut dan agak jauh mengambil jarak. Gendhis seketika menghentikan laju gebrakan lalu berdiri dengan sikap tegak lurus.

Simbara memandang dua perempuan itu dengan sinar mata aneh. Dadanya turun naik selagi menyaksikan keringat yang mengembun serta memenuhi batang leher Gendhis yang berada di depannya.

“Sudah cukup atau berlanjut?” tanya Ki Tunggul Pitu pada Gendhis.

Gendhis menggeleng. “Saya menunggu perintah Guru selanjutnya.” Nada tegas dari Gendhis pun diikuti sikap tubuh menghormat dari dua pengiringnya.

“Aku tidak dapat memberikan rincian perintah dari Panembahan di tempat ini,” kata Ki Tunggul Pitu.  kemudian ia berpaling pada Mangesthi sambil berkata, ”Ki Sekar Tawang telah menunggu kedatanganmu. Beliau berdua berada di halaman belakang.”

Lalu di hadapan anak-anak muda itu, Ki Tunggul Pitu berkata, “Masing-masing dari kalian mempunyai tugas yang membutuhkan perhatian penuh. Tentu saja aku tidak akan melampaui Raden Atmandaru untuk saat ini. Simbara, sebaiknya engkau segera berangkat ke kotaraja. Ki Ranubaya pasti tidak sabar menunggu orang yang menjadi duta Raden Atmandaru.”

Hingga orang-orang di balik regol telah lepas dari pandangan, Sukra dan Kiai Bagaswara masih menetap di tempat pengintaian.

“Saya tidak dapat mendengar ucapan orang tua itu dengan jelas.” Sukra sengaja tidak menyebutkan nama walau ia mengenali Ki Tunggul Pitu.

“Apakah itu cukup penting diketahui?”

Sukra mengerutkan kening. Aneh, pikirnya. Bukankah tugas seorang sandi adalah menyadap segala keterangan terlepas dari kegunaannya di kemudian hari?

Kata Kiai Bagaswara kemudian, “Anak muda yang bernama Simbara itu sepertinya akan meninggalkan Randulanang. Arah perjalanannya seperti ke Mataram. Apakah Angger dapat menduganya?”

“Saya belum pernah menginjakkan kaki di kotaraja, Kiai. Mungkin Kiai benar karena Sangkal Putung berada di arah yang berlawanan.”

“Nah, sekarang, apa yang sebaiknya kita lakukan?”

Sukra menunjuk pada bagian belakang rumah Ki Gandung Jati. “Mungkinkah kita dapat mendekati mereka?” tanya Sukra. Namun sebelum Kiai Bagaswara menjawab, Sukra cepat berkata sendiri, “Keterangan seperti apa yang dapat kita serap dari sana? Jalan yang berbahaya kecuali mengambil jalan memutar. Namun bila ada seorang dari mereka mengenaliku sebagai pengawal Menoreh, itu bukan keadaan yang sama-sama kita harapkan terjadi.”

“Sudah tentu lawan kita telah menempatkan banyak orang di sekitar lingkungan walau mereka berdiam diri ketika perkelahian terjadi,” tanggap Kiai Bagaswara. Di Tanah Perdikan, tidak ada orang yang mengenaliku. Bukankah begitu?”

“Benar, Kiai.”

“Kita berpisah. Aku akan mendekati halaman belakang, sedangkan Angger bergeser dari tempat ini lalu serap semua yang dapat dibaca.”

Sukra mengangguk-angguk dan setuju dengan usul Kiai Bagaswara. Memang seharusnya begitu, Sukra berpikir. “Aku harus dapat menyamarkan rupaku dari penglihatan mereka,” ucapnya dalam hati. Maka ia meminta bantuan Kiai Bagaswara untuk merias wajahnya dengan peralatan menyamar yang disiapkannya dari Sangkal Putung.

Matahari mendaki tangga langit dan semakin dekat dengan puncaknya. Sejenak kemudian, Sukra telah turun ke jalan lalu berkeliling dengan cara yang diajarkan Agung Sedayu padanya. Lorong, tempat berkumpul selain pasar dan gardu, jalan-jalan yang dilintasi peronda Randulanang dan segalanya telah terukur dalam perkiraan yang dibisikkan Kiai Bagaswara : rumah Ki Gandung Jati adalah pusat pergerakan.


Related posts

Merebut Mataram 4

Redaksi Surabaya

Merebut Mataram 6

Redaksi Surabaya

Merebut Mataram 5

Redaksi Surabaya