SuaraKawan.com
Sastra Kawan

AKU MAH APA ATUH

AKU MAH APA ATUH

Teronggok di pojok ruangan, kadang ditendang dan diinjak tanpa rasa bersalah sedikit pun. Tidakkah mereka tahu bahwa aku pun bisa kesakitan?

Teriakanku tak pernah digubris. Bahkan seringkali karena menurut mereka aku hanyalah biang kotoran, maka aku dibuang! Ke tempat sampah? Masih bagus!

Ke sungai! Atau bahkan diikutkan truk yang mengangkut sampah dari seluruh kota!

Ugh!

Bau!

Kemudian aku berakhir di tempat pembuangan sampah akhir. Kadang hanya ditumpuk saja, tetapi ada juga yang membakarku. Yang lebih menyedihkan ketika badanku basah karena lendir sampah basah. Begini tidak bergunanyakah diriku?

Nyeri!

Sakit!

Airmata dan teriakan minta tolong dariku hanyalah hembusan angin tanpa suara bagi mereka. Aku sungguh terhina dengan semua perlakuan mereka terhadapku.

Waktu terus berjalan dari menit hingga jam. Dari jam menuju hari kemudian minggu dan bulan. Aku tetap hanya sehelai kain perca yang tidak bisa dimanfaatkan oleh siapapun yang bertemu denganku. Harapan adalah harapan, namun hidupku tetap terus berjalan mengikuti takdir.

Aku tetap menjadi guntingan kain tanpa fungsi.

Kembali teronggok di ujung ruang dan dibuang.

Namun beberapa hari terakhir aku merasa bahagia. Seorang perempuan cantik telah mengangkat derajatku.

Dari onggokan di ujung ruangan, aku dijadikannya penghuni lemari.

Dari potongan kecil kain yang selalu diinjak dan dibuang, aku dijadikannya media berkreasi.

Lihatlah aku kini!

Aku tidak bisa lagi disebut sebagai kain perca!

Tetapi aku telah berubah menjadi hiasan dinding, dompet, kantong laptop, kantong buku, dan lain sebagainya. Aku sungguh tersanjung dengan semua yang dilakukan Alin.

Yah, dialah Alin. Perempuan yang telah menyulap tampilanku menjadi lebih cantik dan bermanfaat.

KIni, aku bisa berkata bahwa harapan bisa menjadi sebuah kenyataan. Berharaplah bertemu dengan orang dan lingkungan yang tepat agar bisa menjadikanmu “sesuatu”.

Inilah aku, sampah yang akhirnya bisa menjadi teman bagi siapapun dan dimanapun.

Sekarang aku tak perlu lagi menangis dan berteriak. Tidak lagi merasa terhina dan menganggap diriku tak berguna. Tak ada lagi kata “aku mah apa atuh” dalam hatiku.

Sebab aku telah memenangkan peperangan ini! Tangan terampil telah mengubahku menjadi barang yang berguna.

Aku bangga!

Yes! I am the winner!

 

Wimala Anindita
22Juli2021


Related posts

Puisi : Catatan Senja

Redaksi Surabaya

Airmata Dalam Persembunyian

Redaksi Surabaya

Puisi : Tarian Liar Keheningan

Redaksi Surabaya