SuaraKawan.com
Suara Sejarah

Menelusuri Jejak Kerajaan Glang-Glang

Sri Jayakatwang berhasrat memerdekakan diri dari pengaruh Kerajaan Singhasari. Dari Glang-Glang di Bumi Wurawan, dia menyerbu istana Kertanagara, membawa nasib buruk bagi kekuasaan Singhasari.

Pasukannya menyerang dari dua jurusan. Dari utara mereka menuju Jurang Angsoka. Sorenya mereka berkemah di Turan. Paginya menjarah Desa Memeling, membuat penduduknya lari mengungsi ke ibu kota.

Pasukan yang menyerang dari selatan bergerak melewati Lawor dan Sridahabhawana. Dari sana mereka langsung masuk ke kota Singhasari.

Demikianlah kisah itu menjadi akhir bagi Singhasari. Namun, ini adalah awal kekuasaan untuk Jayakatwang, raja dari Glang-Glang.

Keberadaan Kerajaan Glang-Glang, dalam banyak sumber, tak pernah diperhitungkan sebagai ancaman oleh Kertanagara. Dia lebih fokus membentuk aliansi dengan kerajaan-kerajaan di seberang lautan untuk menghadapi tekanan dari penguasa Mongol di Cina.

Prasasti Mula Malurung (1255 M) pun menyebut Glang-Glang hanyalah wilayah yang berada di bawah kuasa Singhasari. Yang menggenggam singgasana di wilayah itu juga masih kerabat Kertanagara.

Arkeolog Titi Surti Nastiti dalam disertasinya di Universitas Indonesia berjudul “Kedudukan dan Peranan Perempuan dalam Masyarakat Jawa Kuna (Abad VIII-XV Masehi)” menjelaskan, ketika Kertanagara masih menjadi putra mahkota di bawah pengawasan ayahnya, Wisnuwardhana, Singhasari telah menjadi sebuah emporium. Pemerintahannya tergabung dari negara-negara daerah yang dikendalikan oleh raja di Singhasari sebagai pusatnya.

Prasasti Mula Malurung menyebutkan, raja Singhasari membawahi sakweh nira prabhu ŋke riŋ nusa jawa mwaŋ i madhura atau seluruh raja di sini, di Pulau Jawa, dan di Madura. Setidaknya ada delapan negara daerah yang berada di bawah kendali Singhasari, yakni Madhura, Janggala, Lamajang, Daha, Wurawan, Morono, Hring, dan Lwa.

“Sebagai perwujudan dari ekspansinya Sminigrat [Wisnuwardhana] mengangkat anggota kerabatnya di berbagai negara,” jelas Titi.

Para penguasa daerah di Singhasari yang disebutkan Prasasti Mula Malurung yaitu Sri Harsawijaya, keponakan Wisnuwardhana, yang menguasai Madhura. Sang Apanji Dimurti, anak laki-laki Wisnuwardhana, menguasai daerah Janggala. Penguasa Tumapel adalah Sang Apanji Adimurti yang telah dianggap anak oleh Wisnuwardhana. Nararyya Kirana, anak laki-laki lainnya mendapat wilayah Lamajang. Sri Kertanagara sebagai putra mahkota menempati wilayah Daha di Kadiri. Putrinya, Turukbali bersama suaminya, Sri Jayakatwang menduduki Glang-Glang di Wurawan. Sri Ratnaja, Sri Narajaya, Sri Sabhajaya, sepupu raja, masing-masing ditempatkan di Morono, Hring, dan di Lwa.

Kini sudah tujuh abad berlalu sejak nama Jayakatwang menyerobot masuk dalam jajaran penguasa di Jawa dengan menggulingkan hegemoni Singhasari pada 1292 M. Namun Glang-Glang agaknya tak hilang sama sekali. Banyak yang yakin bahwa wilayah yang dulunya adalah Bumi Wurawan kini masih menyisakan jejak pada sebuah dusun di Kabupaten Madiun, yakni Dusun Ngrawan di Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo.

Dari Prasasti Mula Malurung jelas bahwa Glang-Glang adalah nama ibu kota wilayah Wurawan. Selama ini banyak menjadi pertanyaan, apakah nama Dusun Ngrawan di Madiun identik dengan nama Wurawan pada era Jayakatwang.

Nama Ngrawan atau yang mirip dengan nama itu muncul dalam tiga prasasti, yaitu Prasasti Mula Malurung dari 1255 M, Prasasti Taji dari 901 M, dan Prasasti Pucangan dari 1041 M. Prasasti Mula Malurung menyebutkan bahwa Jayakatwang dan permaisurinya Turukbali, adik Kertanagara, mendapat wilayah Glang-Glang di Bumi Wurawan.

Sementara Prasasti Taji 901 M yang ditemukan di daerah Ponorogo, Jawa Timur, menyebutkan soal para pejabat tanda dan rakryan dari Burawan. Mereka ikut menjadi saksi dalam proses penetapan sima tanah perkebunan di Taji.

Dalam “Toponim di Sekitar Kawasan Situs Ngurawan-Madiun (Gambaran Lingkungan Alam dan Aspek-Aspek Kesejarahannya” yang termuat dalam Bumi Ngurawan, Aang Pambudi Nugroho, sejarawan dan ketua Komunitas Jawa Kuno Sutasoma, menjelaskan bahwa kata Burawan dan Wurawan memiliki kemiripan. Konsonan w dan b dalam bahasa Jawa Kuno bisa saling bersinggungan atau bertukar.

Di dalam Prasasti Taji, pejabat Burawan itu pun disebutkan dua kali. Yang kedua ketika mereka berkumpul bersama para pimpinan di Taji untuk makan dan minum, menabur bunga, bermain senda gurau, menari-nari serta menyabung babi dan ayam.

“Pejabat dari Burawan mendapatkan posisi yang sangat terhormat hingga diceritakan sebanyak dua kali,” jelas Aang.

Pada masa selanjutnya, nama yang mirip dengan Ngrawan ditemukan dalam Prasasti Pucangan dari 1041 M. Isinya tentang peristiwa penyerbuan Raja Airlangga ke Kerajaan Wurathan pada 1029 M. Prasasti yang disebut juga Calcutta Stone ini ditemukan di Gunung Penanggungan, Jawa Timur.

Wurathan kemungkinan adalah Wurawan. Epigraf Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti menjelaskan penulisan huruf wa dengan vokalisasi a pada zaman Airlangga memang sangat mirip dengan huruf ta.

Soal di mana letak Wurawan, sudah banyak ahli yang mengemukakan pendapatnya. N.J Krom, orientalis, epigraf, dan arkeolog Belanda, meletakkan Kerajaan Glang-Glang di lembah Sungai Brantas. Sementara R.M.Ng. Poerbatjaraka, pakar sastra Jawa Kuno, lebih yakin kalau letaknya di kaki Gunung Wilis yang meliputi wilayah Kediri dan Madiun sekarang.

Pendapat Boechari menyebutkan kalau pusat wilayah Wurawan mestinya ada di daerah Madiun. Jika dugaannya benar bahwa Wurathan dalam Prasasti Pucangan seharusnya dibaca Wurawan, maka ini akan memperkuat anggapan bahwa Wurawan dengan pusatnya Glang-Glang berada di daerah itu.

Pasalnya, menurut Prasasti Pucangan, Wurawan seharusnya berdekatan dengan Wengker, wilayah Haji Wengker, musuh Airlangga yang juga diperkirakan berada di daerah sekitar Madiun dan Ponorogo. Ia pun menduga-duga, mungkinkah Glang-Glang ada di Goranggareng sekarang? Goranggareng letaknya berada di antara Magetan dan Madiun.

“Di sekitar daerah ini memang banyak ditemukan prasasti batu dengan huruf zaman Kadiri [huruf kwadrat] dan peninggalan arkeologi yang lain,” tulis Boechari.

Bagaimanapun kata Boechari masuk akal jika pasukan Jayakatwang menyerang Singhasari yang diperkirakan ada di Malang dari Glang-Glang atau daerah Madiun.

Kalau sekarang dibayangkan, pasukan yang menyerang dari utara, mereka akan melewati Nganjuk, Kartosono, Jombang, Prigen, dan Lawang. Sementara yang dari selatan, mereka bergerak melalui Tulungagung, Blitar, Wlingi, sampai di Malang (Singhasari).

Soal Glang-Glang, Rita Istari, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, punya pendapat yang lebih spesifik. Dalam tulisannya, “Kemungkinan Situs Ngurawan sebagai Bekas Kerajaan Kuno Berdasarkan Data Arkeologi” yang terbit di Bhumi Wurawan, dia menjelaskan bahwa letak ibu kota Wurawan mungkin bisa dicari di Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Di desa ini terdapat Dusun Gelang yang berbatasan dengan Dusun Ngrawan.

Di sekitar Desa Glonggong ditemukan juga nama-nama daerah yang berhubungan dengan Kerajaan Glang-Glang dan Jayakatwang. Misalnya, di sebelah barat Desa Dolopo terdapat Desa Doho. Lalu di Desa Doho ada sumber mata air di tengah areal persawahan yang disebut dengan Sendang Ganter. Areal di sekitar sendangnya disebut dengan Blok Ganter.

Nama Doho mengingatkan pada Kertajaya, penguasa Daha sekaligus leluhur Jakayatwang, yang digulingkan Ken Angrok sebelum dia mendirikan pemerintahan di Tumapel (Singhasari). Pun nama Ganter sama dengan lokasi di mana pertempuran antara Kertajaya (Dandang Gendis) dan Ken Angrok terjadi.

Kalau menurut Aang Pambudi Nugroho, toponim Doho mungkin menunjukkan kalau dulunya di sana adalah permukiman bagi orang-orang Daha yang mengikuti Jayakatwang ketika memerintah di Wurawan. Prasasti Mula Malurung menunjukkan hubungan politik dan perkawinan antara penguasa Singhasari, Kadiri (Daha), dan Glang-Glang (Wurawan).

Daerah Madiun, khususnya wilayah Situs Ngurawan, merupakan daerah subur. Lokasinya berada di dataran rendah di antara dua gunung, Wilis di timur dan Lawu di barat.

Banyak sungai mengalir di sekitar Situs Ngurawan, seperti Kali Glonggong, Kali Dawung, dan Kali Ngendut. Lokasi situs juga berada di bagian Bengawan Madiun serta sekitar hilir dari aliran Kali Asin, Kali Beken, Kali Klepek, dan Kali Tawang.

“Ditunjang pula oleh beberapa sumber mata air yang berada di sekitarnya,” lanjut Aang.

Kondisi itu, kata Aang, mengisyaratkan adanya hubungan kuat antara Situs Ngurawan dan lingkungan di sekitarnya. Dugaan bahwa Dusun Ngrawan menyimpan kisah kerajaan dari masa silam terbukti ketika para arkeolog menemukan banyak artefak di sana.

Lewat survei dan penggalian arkeologis pada 2016-2017, arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta mengidentifikasi benda-benda terakota, pecahan wadah sisa-sisa perkakas rumah tangga, umpak-umpak batu bekas mendirikan tiang-tiang bangunan, serta jejak aktivitas peribadatan. Menurut data Balai Arkeologi Yogyakarta total ada 69 titik tinggalan arkeologis di seluruh Dusun Ngrawan. Itu termasuk struktur bangunan berdinding bata.

“Dapat diperkirakan bahwa lokasi di situs [Ngurawan] itu merupakan kompleks permukiman yang dibatasi pagar memanjang arah timur-barat,” jelas Rita Istari. “Bagian dalam permukiman berada di sebelah selatan, sedangkan bagian luar pagar di sebelah utara.”

Artefak-artefak yang ditemukan di daerah sekitar Situs Ngurawan membuktikan pula kekunoan kawasan ini. Misalnya, temuan miniatur rumah di Wisata Umbul bertuliskan 1037 M. Ada juga miniatur rumah lainnya yang ditemukan di tepi Bengawan Madiun, tepatnya di Makam Sudetan Sungai Madiun di Dusun Jati, Desa Rejosari, Kebonsari, Kabupaten Madiun. Artefak miniatur rumah itu berinskripsi 906 Srawana, artinya 906 Saka atau 984 Masehi Bulan Srawana (Juli-Agustus).

Sementara ini tinggalan arkeologi yang ditemukan di Situs Ngurawan mayoritas berindikasi dari abad ke-14-15 M. Benda-bendanya mirip dengan yang ditemukan di situs peninggalan Majapahit, Trowulan, Mojokerto.

Adapun berdasarkan sumber tekstual, baik naskah kuno maupun prasasti nama Wurawan pada abad itu sudah tidak disebut lagi. Nama Wurawan kemudian digantikan Wengker sebagai wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit di barat Gunung Wilis dan sekitar Bengawan Madiun.

“Mungkinkah lokasinya telah dipindahkan karena terjadi serangan musuh atau bencana alam seperti yang terjadi pada pemindahan pusat-pusat ibu kota kerajaan lain sebelum masa tersebut?” tulis Aang.

Setahun setelah Jayakatwang menggulingkan takhta Singhasari, pemerintahannya ditundukkan oleh menantu Kertanagara, Wijaya, bersama pasukan Mongol. Menyusul kemudian Kerajaan Majapahit pun berdiri.

Kidung Harsawijaya mengisahkan, semua penghuni keputrian ikut bela pati setelah kematian Jayakatwang, sang penguasa Bumi Wurawan. “Karena dalam hidup ini nasib untung dan malang silih berganti dan tak ada sesuatu pun yang lestari,” kata Jayakatwang menurut kisah di dalam Kidung Harsawijaya. [HS]

 


Related posts

Pertempuran 10 November 1945 Ancen Sangar, Rek! (1)

Redaksi Surabaya

Saksi Bisu Dua Kekuatan Besar Sumatra

Redaksi Surabaya

Mayor vs Jenderal dalam Sejarah TNI

Redaksi Surabaya