SuaraKawan.com
Resensi FIlm

Resensi Film : THE HYMN OF DEATH : TRAGEDI CINTA TERLARANG

Drama bergenre historicalromance, dan melodrama ini ternyata mendapatkan banyak apresiasi dari tiga sisi. Yaitu tata busana, alur cerita, dan cinematography nya.

Setting pakaian dan lingkungan serta kondisi memang dibuat mengikuti jaman, yaitu pada tahun 1920 an saat Korea berada di bawah penjajahan Jepang. Saya sih suka dengan pakaiannya alias outfit yang digunakan. Yang paling saya suka ada style baju dari pemeran utama wanitanya. Sederhana dan sangat berkelas.

Lee Jong Suk yang berperan sebagai Kim Woo Bin dan Shin Hye Sun sebagai Yun Sim Deok didapuk sebagai pemeran utama drama ini.

Diceritakan di sini bahwa Kim Woo Bin (Woo Bin) adalah seorang pria yang banyak disukai teman-temannya. Dia adalah anak orang kaya yang kuliah di jurusan Sastra Inggris Tokyo University dan sangat menyukai dunia menulis serta panggung sastra. Woo Bin sudah menikah dengan perempuan pilihan ayahnya, yang masih tinggal di kampung halamannya Bersama ayahnya. Pria ini meski pun hidup di Tokyo, namun kehidupannya berada dalam kontrol ketat ayahnya.

SUMBER : WIMALA

Demikian juga dengan Yun Sim Deok (Sim Deok) yang juga berkuliah di Tokyo University namun di jurusan yang beda. Yaitu jurusan musik. Berbeda dengan Woo Bin yang berasal dari keluarga kaya, Sim Deok berasal dari keluarga yang cenderung kekurangan. Sim Deok lah yang menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Sebagai anak tertua dari tiga bersaudara, dia memilik tanggung jawab terbesar. Dia bekerja sebagai penyanyi sopran. Dalam catatannya, Sim Deok diakui sebagai soprano perempuan pertama di Korea Selatan.

Pertemuan keduanya terjadi karena drama yang sedang dikerjakan Woo Jin membutuhkan pemeran utama perempuan. Kemudian temannya yang seorang pemain biola mengajak Sim Deok untuk bergabung dalam drama tersebut. Pertemuan pertama mereka tidak berjalan mulus dan malah menyalakan api permusuhan bagi keduanya.

Dengan pertemuan rutin yang terjadi karena alasan berlatih drama, tentu saja mereka sering bertemu. Posisi awal sebagai pemeran utama perempuan pun gagal, karena pada akhirnya Sim Deok ditunjuk untuk menjadi solois yang akan membuat drama semakin hidup.

Pada akhirnya mereka saling jatuh cinta.

The Hymn Of Death

The Hymn Of Death

Saya sebagai penonton, melihat bahwa Woo Bin masih mencoba untuk menahan diri terhadap perasaan cintanya kepada Sim Deok. Namun Sim Deok ternyata tidak mampu untuk menahan rasa cintanya. Apalagi Sim Deok tidak tahu bahwa Woo Bin sudah menikah.

Nah. Di sinilah tragedi dimulai. Yaitu saat mereka melakukan aksi panggung di Korea Selatan, dan mereka diundang untuk datang ke rumah Woo Bin. Mereka disambut oleh perempuan cantik yang ternyata adalah istri sah dari Woo Bin.

Hati Sim Deok terluka mengetahui kenyataan tersebut. Hal ini membuat dia benar-benar luluh lantak. Malam itu dia pergi tanpa pamit dari rumah Woo Bin dan kembali ke Tokyo.

Sejak hari itu, mereka berdua tidak pernah bertemu lagi. Mereka mengubur semua rasa yang ada dan kembali ke kehidupan masing-masing tanpa saling mengganggu. Kondisi ini berjalan selama 5 (lima) tahun.

Hingga suatu hari Woo Bin membaca sebuah berita bahwa seorang soprano perempuan bernama Sim Deok akan tampil di sebuah gedung teater besar yang dulu menjadi mimpinya. Mimpi itu pernah Sim Deok sampaikan kepada Woo Bin, dan berharap Woo Bin akan menjadi salah satu yang hadir untuk menyaksikannya menyanyi di Gedung besar itu.

Pertemuan yang terjadi setelah sekian tahun, dan rasa cinta yang mereka miliki semakin mengikat.

Saat pertemuan ini, duh saya kurang suka dengan peran Sim Deok. Saya merasa, seorang perempuan tidak seharusnya begitu. Apalagi dia tahu bahwa lelaki yang dia cintai sudah berkeluarga. Mungkin ini juga sebabnya, meskipun ceritanya mengharu biru tetapi saya tidak sedikit pun meneteskan air mata. Saya juga merasa aneh. Karena saya termasuk orang yang mudah sekali berurai airmata, saat mendengar lagu, membaca, dan menonton film yang menyedihkan.

Lanjut. Balik ke cerita ya.

Di antara rasa cinta yang semakin panas, keinginan untuk sering bertemu pun semakin besar. Woo Bin yang sudah memimpin perusahaan keluarga dan berada dalam kontrol ayahnya semakin terhimpit dalam keadaan dan merasa stress berat. Ayah dan anak ini akhirnya sering bertengkar. Apalagi karena kegiatan menulis Woo Jin masih terus berjalan. Puncaknya adalah Ketika ayahnya membakar semua buku dan karya tulis Woo Jin. Yang akhirnya membuat Woo Jin benar-benar pergi dari rumah.

Di sisi lain, Sim Deok pun merasa putus asa karena terus menerus dijodohkan dengan lelaki kaya oleh orangtuanya agar bisa menopang hidup keluarga dan menyekolahkan kedua adiknya ke luar negeri. Sehingga Ketika Woo Jin mengajaknya untuk lari dan pergi dari semua derita, Sim Deok masih harus memikirkan cara untuk mencari uang bagi keluarganya. Dia bekerja keras untuk itu, dan menolak semua lelaki yang dijodohkan. Tujuannya satu, agar bisa Bersatu dengan Woo Jin.

Saat Sim Deok bekerja keras untuk mendapatkan pekerjaan, muncul berita kurang baik tentangnya karena dia sering terlihat datang dan pergi ke rumah seorang kaya yang menyukai bakat menyanyinya. Ketika dia menceritakan semuanya ke Woo Jin, lelaki itu hanya mengatakan, “Tetaplah bersamaku. Saya tidak yakin akan hidup tanpamu.” Wih, romantis ya. Sayangnya, lelaki itu sudah punya istri. Hmmm.

Pekerjaannya sebagai penyanyi, membuat Sim Deok banyak mendapatkan cibiran dari orang-orang. Termasuk dari pejabat yang tidak menyukainya. Banyak tekanan yang dia terima. Bahkan dia pun menerima ancaman dengan jaminan keselamatan keluarganya. Meski berat, dia tetap jalani semuanya. Hufftt… hidup yang lumayan rumit.

Ini juga bagus : Sampai Jumpa, Ken Arok!

Pada akhir cerita, mereka digambarkan selalu bersama. Woo Jin pun menemani Sim Deok ke Osaka untuk rekaman lagu. Beberapa momen menyentuh dihadirkan dalam perjalanan kebersamaan mereka. Saat Woo Jin menulis dan melahirkan karya sambal dipeluk Sim Deok dari belakang tubuhnya. Pun saat mereka duduk berdampingan di kereta.

The Hymn Of Death

The Hymn Of Death

Termasuk saat mereka melepaskan sepatu dan berdansa di geladak kapal. Dan mereka melakukan ciuman pertama dan terakhir dalam hidup mereka. Hingga mereka mengakhiri hidup dengan terjun ke laut Bersama-sama.

The Hymn Of Death

The Hymn Of Death

Sama seperti buku kesukaan Woo Jin yang ditulis oleh Takeo Arishima. Buku yang menceritakan tentang tentang cinta yang tak sampai hingga berakhir pada keputusan untuk bunuh diri.

 

Life is running in the vast wilderness. Where is it that you are heading? In this lonely world filled with cruel suffering. What are you looking for?

(Sim Deok)

In this worl made of tears will my death truly be the end of it all? Those of you in search of happiness, only futility awaits you

(Woo Jin)

Those smiling flowers and crying birds, all share the same fate

(Sim Deok)

Pitiful life, absorbed in living, you are the once dancing on the blade

(Woo Jin)

Berikut adalah lagu Praise Of Death yang merupakan ciptaan Sim Deok yang sempat dia rekam di Osaka dengan iringan piano dari adik perempuannya.

Rekaman dan lagu terakhir menghasilkan jumlah uang yang lumayan besar untuk ditinggalkan kepada keluarganya. Sim Deok punya harapan bahwa uang itu bisa mengantarkan adik-adiknya untuk sekolah ke luar negeri.

Your unforgettable name.

 Deep in my heart your name is engraved, and I long for you.

You set fire to my heart. In my heart, you ignited the indistinguishable flame of love.

 Before your name can be forgotten, I long for you again.

 Ah, even at the moment of death, I shall call out your name.

 Even as I am living, my heart longs for you.

 Until the moment of death, I will long for you.

 You set fire to my heart.

 In my heart, you ignited the isdistinguishable flames of love.

(Sim Deok)

The Hymn Of Death

The Hymn Of Death

Secara keseluruhan, sebenarnya ceritanya menarik. Tetapi sayangnya setragis apapun cerita meraka, salah satu dari mereka sudah punya pasangan sah. Andai mereka masih sendiri, mungkin hati saka akan lebih teriris dan airmata saya tidak berhenti mengalir.

Tetapi karena ceritanya berdasarkan kisah nyata, ya saya tidak boleh banyak protes ya. Mungkin karena permainan perasaan saya sendiri, maka saya merasa bahwa drama ini sedikit kurang greget.

Dari cerita, sebenarnya suka tetapi kembali ke paragraph sebelumnya bahwa saya kurang sreg dengan cerita perselingkuhan. Sesedih apa pun ceritanya.

Dari alur ceritanya, bisa dimengerti dan diikuti dengan mudah. Untuk orang yang sering mengeluh dengan cerita yang maju mundur, jangan khawatir. Ceritanya bakal mudah sekali diikuti.

Dilihat dari tata busana, saya harus katakan bagus. Karena memang pakaian yang digunakan di drama ini indah dan sesuai. Hanya satu kekurangannya, yaitu tata busana untuk pemeran utama wanita yang digambarkan berasal dari keluarga yang kekurangan, tetapi bajunya terlihat sangat elegan dan menurut saya harganya tidak murah.

Dari sisi cinematography, jangan ditanyakan lagi. Bagus. Keren. Lingkungan, sisi pengambilan gambar, dan lain-lain terlihat sempurna untuk mata saya yang menyukai keindahan gambar.

Masukkan drama ini dalam daftar wajib tonton teman-teman semua ya. Terutama untuk teman-teman penyuka melodrama. Kalau saya tanpa uraian airmata, mungkin di antara teman-teman bakal ada yang benar-benar menangis dengan hati teriris.

This is a recommended drama for you my friends.

 

Wimala Anindita

24Juni2021