SuaraKawan.com
Sastra Kawan

Prosa : Rahasia Hati

Ada yang berubah, musim hujan dan kemarau. Ada juga yang berlalu, daun-daun kering yang luruh terbawa angin. Atau ada yang tiba-tiba hilang, saat raga terpisah dari jiwa. Namun ada yang abadi, cinta seorang ibu pada puteranya.

Tak sanggup aku menahan luka. Ingin melupa, tapi tak kunjung aku ikhlaskan. Ada yang ingin aku ungkap tapi tak mampu terucap.
Dunia mengenalku sebagai Dewi Kunti, ibu dari Pandawa. Para kesatria Hastinapura. Dewi Kunti, ibu penuh kasih. Seorang ibu yang bijaksana.

“Aku tidak seperti yang kalian kenal. Aku lebih pantas disebut ibu keji, jahat tanpa perasaan.”
Aku, Dewi Kunti pernah melakukan hal bodoh di masa lalu. Sebuah kesalahan seorang Kunti yang menjadi penyesalan seumur hidup.

Akulah Dewi Kunti putri dari Kuntiboja. Hidup bergelimang kasih keluarga dan kerabat. Menjunjung budi pekerti dan patuh pada orang tua adalah dua hal yang aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesahajaanku telah mencuri hati seorang Resi. Hal itu membuat Resi Durwasa menganugerahiku ajian ‘Sabdo Tunggal Panggendame Dewa’
Hanya dengan membayangkan wajah seorang Dewa, aku bisa memanggil dan bertemu dengan Dewa.
Rasa ingin tahu yang teramat besar membuatku tidak dapat menahan kesabaran untuk menguji mantra pemberian sang Resi.
Diam-diam aku mulai membayangkan wajah Dewa Surya lalu menyeretku ke Mayapada oleh kekuatan gaib.

Hidup adalah rangkaian perjalanan. Langkah yang mengantarkanku pada sebuah pertemuan.
Sebuah pertemuan dan perpisahan.
“Apa yang kau inginkan, Puteri?” sapa Surya tenang.
“Salam Dewa.” Kebingungan menguasaiku. Tiada jawaban untuk pertanyaan Surya. “Tidak ada yang kuinginkan, selain mencoba anugerah dari Resi.” Aku menjelaskan pada Dewa Surya.
“Anugerah, bukan untuk main-main, Kunti!” Kilat kemerahan ada pada sepasang mata Surya.

Dewa Surya meninggalkanku dengan seorang putera dalam pangkuan. Seorang Putera yang tampan, anting dan kalung menjadi perhiasan.

Takdir telah berjalan, seluruh dunia akan menghinaku. Nasi telah menjadi bubur. Meskipun Dewa Surya sudah mengembalikan keperawananku. Tetap saja seorang putera tanpa ayah adalah bencana. Aku telah mencoreng mukaku sendiri.
Demi sebuah harga diri, aku bawa bayi mungil nan polos itu menyusuri sungai gangga. Pada Gangga aku menitipkan putera tercinta.

“Gangga, biarkan arusmu membawa lelaki kecil ini pada seseorang yang tepat. Seseorang yang akan mengambil posisiku sebagai ibunya.”
Aku, Dewi Kunti, telah kehilangan seorang Putera. Aku mulai menabung luka. Luka yang terus menggerogoti jiwa.

Waktu terus berputar, tak peduli sedalam apa rasa itu mengakar. Waktu terlalu kuat mencengkeram diri, semesta tak peduli.
Aku mulai bertanya, “Apakah hidupku penuh kepalsuan?”
Mimpi buruk menjadi momok yang setia membuntutiku. Orang lain memandang hidupku tanpa riak, tapi nyatanya penuh ombak.

Aku Kunti, hidupku bejat. Hatiku cacat. Setiap waktu merindukan putera tercinta, hanya tangis yang tertahan. Tak ada yang tahu, lara ini aku memendamnya rapat. Yang tampak di mata lain di hati.
Dewa-dewa telah menganugerahiku lima putera pilihan, tetap saja hati ini kerontang. Semakin aku memikirkannya, semakin tabungan luka itu membumbung rasa. Lebur dilumat masa dan mengendapkan perih di sana.

“Jalan satu-satunya orang hidup di dunia adalah mengukir nama baik. Namun takdir tidak selalu berpihak. Apapun garis hidup yang telah ditetapkan, seseorang tidak boleh menyerah,” Aku ingat nasehat seorang Brahmana.

Seseorang muncul di arena sayembara para puteraku. Guru Drona menguji ketangkasan Arjuna atas hasil dari pembelajarannya. Arjuna putera Indra tidak disangsikan lagi ketangkasan dalam berpanah.
Tetapi ia, yang mengaku putera Suta, putera dari seorang kusir kerajaan berani menantang Arjuna.
Hinaan demi hinaan diterimanya, tapi dia bergeming. Tidak peduli sayat lidah mencemooh, ia kesatria luhur yang punya sikap.
Seraut wajah, mengikatku erat. Gambaran masa lalu terekam kuat. Bayi mungil yang aku buang di sungai gangga dulu, kini telah dewasa. Ia berjalan tenang penuh kemenangan, Duryudana memberikan wilayah Angga untuknya. Dialah Raja Angga, dialah Karna putera sulungku.
Aku mengenalnya. Aku bisa merasakan kehadirannya. Jarak telah memisahkan, tapi hati seorang ibu tidak akan jauh dari puteranya.
Langkahnya pasti. Dia berjalan dengan pakaian perang dan perhiasan dari Ayahandanya, Dewa Surya. Namun dia tidak berjalan ke arahku.
Aku pernah menganggapnya tidak ada. Pantas aku menerima ganjaran atas sikapnya.
Langit mendadak pucat, putera-puteraku saling menghujat. Duniaku kelam, saudara saling tikam.

Aku Kunti, kini menuai luka dari masa lalu. Pertemuan ini hanya kebahagiaan sesaat, bagai sambaran kilat.

“Akulah ibumu Karna!”
Aku berlari, merentangkan tangan menyambutnya untuk memberi restu, tetapi aku tidak mampu melakukannya. Simalakama menyeretku, tubuhku ambruk.

 

 

Oleh Murni Tiyana.


Related posts

Hujan di Bulan Juli

Redaksi Surabaya

AKU MAH APA ATUH

Redaksi Surabaya

Di Satu Hari Yang (Cerah)

Redaksi Surabaya