SuaraKawan.com
Suara Sejarah

Strategi Mumpuni Lalu Tumbanglah Kertanagara

Keberadaan ahli di balik strategi membawa Jayakatwang mampu berdiri di atas kekalahan Kertanegara. Bendera merah putih berkibar. Musuh mendekat, terlihat di timurnya Haniru. Tentara Ardharaja kocar-kacir. Pasukan Wijaya pun tercerai berai.

Kedua menantu Raja Kertanagara itu tak mengira kedatangan pasukan musuh dari arah berbeda. Peristiwa itu menjadi awal tercerai berainya pasukan Wijaya.

Begitulah Prasasti Kudadu mencatat pengalaman Wijaya, yang nantinya mendirikan Majapahit, ketika menghadapi serangan pasukan Sri Jayakatwang pada 1214 Saka (1292 M).

Arkeolog Bambang Sulistyanto dalam “Melacak Jejak Kerajaan Glang-Glang” yang terbit dalam Bhumi Wurawan menjelaskan dikibarkannya bendera merah putih adalah tanda dimulainya perang besar yang meluluhlantakkan pasukan Singhasari dan menewaskan raja terakhirnya, Sri Maharaja Kertanagara, raja yang bahkan tak takut melawan ancaman kaisar Mongol, Kubilai Khan.

 

Klik : Pertempuran 10 November 1945

 

Serangan Mendadak
Serangan datang tiba-tiba. Bahkan, Kertanagara sendiri tak percaya kalau tentara Jayakatwang sudah menggasak desa-desa di perbatasan utara negara Singhasari.

“Tidak mungkin Jayakatong [Jayakatwang] berbuat begitu kepadaku karena dia mendapat kesenangan dari saya,” ujar Kertanagara sebagaimana dicatat Serat Pararaton.

Kertanagara baru percaya ketika dia melihat banyak orang menangis, berteriak, dengan tubuh penuh luka, membanjiri ibu kota. Mereka adalah penduduk dari utara yang desanya telah diratakan tentara Jayakatwang.

“Pasukan [dari utara] membawa bendera dan alat bunyi-bunyian. Rusaklah orang-orang yang melawannya,” catat Serat Pararaton.

Terkejut dengan apa yang dia disaksikan, Kertanagara mengutus menantunya yang masih muda dan kurang pengalaman, Wijaya untuk menghalau pemberontak di utara ibu kota Singhasari. Tak ada pilihan lain, personel yang lebih berpengalaman sudah dia kirim ke misi di seberang laut dalam ekspedisi Pamalayu.

Prasasti Kudadu mencatat, Ardharaja, menantu Kertanagara lainnya sekaligus putra Jayakatwang, dikirim juga untuk ikut menghadang serangan. Serat Pararaton bercerita, para aryya terkemuka pun disuruh membantu. Mereka adalah Banyak Kapuk, Rangga Lawe, Pedang, Sora, Dangdi, Gajah Pagon, Nambi, Peteng, dan Wirot.

“Mereka [para aryya terkemuka] itu prajurit terbaik yang melawan pasukan Jayakatwang dari utara,” tulis Novi Bahrul Munif, pelestari sejarah-budaya Kadhiri, dalam “Kajian Sejarah Nagara Glang-Glang di Bumi Wurawan” yang terbit dalam Bhumi Wurawan.

Sewaktu rombongan Wijaya dan Ardharaja berangkat ke utara, pasukan Jayakatwang telah tiba di Jasun Wungkal. Sesampainya di Desa Kdungpluk, Wijaya bertemu musuh dan menang dalam pertarungan pertamanya itu.

Pasukan Wijaya melanjutkan perjalanan ke Lembah, tapi tak menemukan musuh di sana. Mereka lalu bergerak lagi melewati Batang. Sesampainya di Kapulungan, mereka bertemu lagi dengan musuh. Wijaya berperang di sebelah barat Kapulungan dan kembali mengalahkan musuh. Pasukan Wijaya bergerak lagi. Sampailah mereka di Rabut Carat. Tak lama musuh datang dari barat, tapi tak sanggup melawan pasukan Wijaya hingga lari terbirit-birit.

Tapi sesaat kemudian mereka menyadari ada iring-iringan bendera merah dan putih melambai-lambai dari sebelah timur Haniru. Itu bukan bendera pasukan Singhasari, melainkan milik musuh.

Melihat bendera-bendera itu, Ardharaja dan prajurit bawahannya balik arah, mundur melarikan diri. Mereka menuju Kapulungan.

Ada serangan pasukan lain yang tak mereka ketahui. Yang mana serangan ini lebih fatal. Bendera-bendera yang melambai tinggi itu seakan memberitakan kemenangan sudah di tangan musuh.

Serangan Tipuan
Kemenangan mudah dan sementara yang didapat Wijaya sebelumnya bukannya tanpa alasan. Pasukan penyerang yang dikirim ke Singhasari dari utara memang bukanlah tentara unggulan.

Di tengah keributan yang dibawa pasukan dari utara, tentara Jayakatwang lainnya sudah siap menyergap dari selatan. Menurut Pararaton, pasukan Jayakatwang yang menyerang dari selatan, tak seperti tentara dari utara, mereka datang dengan mengendap-endap dari tepi Sungai Aksa ke Lawor menuju Singhasari. Yang menjadi prajurit utama dari tentara selatan ini  adalah Patih Daha Kebo-Mundarang, Pudot, dan Bowong.

“Secara samar kesuksesan serangan Jayakatwang dari selatan dapat dilihat pada saat berkhianatnya Ardharaja setelah melihat bendera berwarna merah dan putih berkibar-kibar,” tulis Novi.

Serat Pararaton dan Kidung Harsawijaya menyebutkan bahwa Batara Siwa-Buddha atau Kertanagara sedang minum tuak bersama patihnya ketika pasukan selatan menyerbu masuk ke istana. Tapi sebenarnya bukan minum tuak untuk berpesta.

Menurut Suwardono, sejarawan Malang yang menulis buku Kertanagara dan Misteri Candi Jawi, Kertanagara sedang melaksanakan upacara untuk mendatangkan Dewi Heruka, kekuatan feminim yang bersifat tantris.

Tapi dia terlambat. Upacaranya tak selesai. Dia dan bawahannya keburu tewas di tangan pasukan raja bawahannya sendiri. Sebagai penganut Tantrayana yang taat, inilah usaha terakhir Kertanagara menyelamatkan negaranya.

Strategi Makara-Wyuha
Menurut Bambang Sulistyanto, strategi perang Jayakatwang itu kemudian terkenal dengan sebutan makara-wyuha. Maksudnya, serangan mendadak dengan membagi pasukan dari dua arah yang berlawanan dari utara dan selatan.

“Pasukan menyerang dari utara sebagai siasat agar pasukan Singhasari keluar dari keraton dan mengerahkan seluruh kekuatannya,” jelas Bambang. “Padahal kekuatan penuh berada pada pasukan di sebelah selatan.”

Epigraf Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, menjelaskan soal jalan yang ditempuh oleh pasukan Jayakatwang waktu menyerang Singhasari. Sumber-sumber sastra yakni Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama, dan Kidung Harsawijaya, semua bercerita tentang bagaimana pasukan Jayakatwang menyerang dari dua jurusan.

Pasukan dari utara berhenti di Memeling, lalu menjarah desa itu. Penjelasan yang lebih rinci dari Kidung Harsawijaya mengatakan bahwa setelah tujuh hari perjalanan, pasukan utara sampai ke Jurang Angsoka, daerah jajahan Singhasari. Sore harinya mereka tiba di Kali Turan. Di sini mereka berkemah. Baru keesokannya mereka menyerang Memeling.

Sedangkan pasukan yang menyerang dari selatan, ketiga sumber mengatakan pasukan itu melewati Lawor dan Sridahabhawana. Dari sana langsung masuk ke kota Singhasari. Dalam Pararaton ditambahkan informasi bahwa sebelum sampai di Lawor, mereka melewati Pingiraksa.

Menurut Boechari, masuk akal jika pasukan Jayakatwang menyerang dari Glang-Glang atau daerah Madiun sekarang. Jalur utara yang diambil, bisa dibayangkan kalau sekarang pasukan itu melewati Nganjuk, Kartosono, Jombang, Prigen, dan Lawang. Sementara yang dari selatan melalui Tulungagung, Blitar, Wlingi, dan Malang (Singhasari).

Begitulah kehancuran Kertanagara dan kerajaannya, Singhasari. Kejatuhannya rupanya bukan disebabkan Kubilai Khan, kaisar Mongol penguasa Dinasti Yuan yang ambisinya telah membuat Kertanagara waspada dan bersiap sedia. Kekuasaan Kertanagara justru binasa gara-gara serangan tak terduga dari raja bawahan sekaligus besannya sendiri, Jayakatwang. [HS]


Related posts

Tuban adalah Pelabuhan Besar, Nasibmu Kini

Redaksi Surabaya

Segi Tiga Cinta di Mataram

Redaksi Surabaya

Pertempuran 10 November 1945 Ancen Sangar, Rek! (3)

Redaksi Surabaya