SuaraKawan.com
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 85 – Randulanang

“Kembalilah, Raden, Saya minta Anda untuk kembali!” seru Ki Tunggul Pitu dengan suara lirih. Ia dapat melihat perubahan dengan membaca air muka Panembahan Tanpa Bayangan yang mendadak memunculkan kerisauan.

Permintaan Ki Tunggul Pitu justru membuat suasana semakin mencekam. Raden Atmandaru berpucat wajah ketika ujung tombak Kiai Plered mengarah tepat pada wajahnya. Batang tombak berguncang sangat hebat. Seolah ada jemari lemah yang mencoba menahan lajunya menikam muka Raden Atmandaru. Batang tombak menggetar, mungkin jemari itu tengah gemetar dan mengeluarkan keringat dingin di telapak tangannya.

Ki Gandung Jati mendadak muncul dari pintu kecil yang menjadi ujung dari lorong yang berhubungan langsung dengan halaman belakang.

“Bukankah lebih baik membunuhnya terlebih dahulu daripada ia bergerak lebih cepat dariku?” Lintas pikiran Ki Gandung Jati menyambar pusat tenaga cadangannya. Sorot tajam pandang mata Ki Gandung Jati bekerja keras memberi penilaian. Sedikit terperanjat namun sepertinya ia buta mengenai kekuatan sebenarnya yang tengah bergolak di depan matanya. Walau tidak terlihat mata, namun sambaran-sambaran tenaga terus-menerus menggebrak ruang-ruang kosong di udara. “Apa yang mereka lakukan? Jika hanya membuat sebatang tombak berdiri dan melayang, bukankah itu juga dapat dilakukan oleh Simbara? Seperti inikah lelaki tengik yang diyakini akan membawa Mataram mencapai kejayaan?”

Menurut jalan pikiran Ki Gandung Jati, sebenarnya sangat tidak mungkin dapat mengalahkan Raden Atmandaru. Ia telah memperhitungkan keadaan itu – dengan tambahan sejumlah orang-orang yang biasa berada di dekat Raden Atmandaru – maka membunuhnya menjadi tidak masuk akal. Namun ia mengerti pada waktu itu di pendapa rumahnya, Raden Atmandaru berada di titik pertahanan terlemah. Ia yakin sepenuhnya perhatian Raden Atmandaru tercurah pada cara mempertahankan Kiai Plered lebih lama mengapung di udara.

Sejenak Ki Gandung Jati mengambil waktu yang sangat singkat untuk berpikir mengenai cara menyingkirkan dua pembantu Raden Atmandaru. Ia mengerti bahwa dua orang itu hampir mendekat ketinggian ilmu Raden Atmandaru, setidaknya berada pada lapisan yang sama. Bila ia telah menghabisi Raden Atmandaru, maka jalan keluar harus segera didapatnya. “Menawarkan kedudukan tinggi di Mataram sudah tentu telah menjadi kesepakatan mereka berdua dengan lelaki tengik itu. Lalu apa yang dapat aku berikan agar mereka segera berubah menjadi anjing penjagaku?” tanya Ki Gandung Jati pada hatinya. Ketika satu rencana matang telah singgah di dalam benaknya, Ki Gandung Jati mengambil ancang-ancang untuk melenyapkan orang yang dianggapnya sebagai penjajah yang menindas harga diri keluarganya. Betapa Raden Atmandaru menganggap jasa-jasanya seperti debu tertiup angin setiap kali ia mengusulkan sesuatu yang dipandangnya penting. Bahkan di depan pengikutnya, Raden Atmandaru kerap memberinya perintah dengan nada yang tidak pantas diterima oleh seorang pemimpin pedukuhan. “Ia harus mati!” tekad Ki Gandung Jati.

Ki Tunggul Pitu mengalihkan pandang, melihat lurus pada Ki Gandung Jati yang berdiam diri dengan tatapan lekat pada Kiai Plered. Berbagai pikiran datang pada Ki Tunggul Pitu tetapi seluruh bagian tubuhnya membeku!

Sementara Ki Sekar Tawang tengah berusaha keras mengendalikan tombak peninggalan Majapahit agar tidak meluncur pada wajah tuannya.

Ki Gandung Jati menyadari kemudian bahwa tiga orang di sekitarnya tengah tersedot pada pusaran tenaga yang ajaib. “Tombak itu… Benda seperti apa hingga membuat Ki Sekar Tawang sulit bernapas dan lelaki tengik itu seolah ketakutan? Apakah tombak itu akan membunuhnya? Hey, Ki Tunggul Pitu, kenapa  dengannya?”

Sekali tepuk, tiga ekor lalat akan tersapu lidi. Hati Ki Gandung Jati memekik gembira!

Telapak tangan Ki Gandung Jati mengembang, kemudian ia memutar lengan. Dalam waktu yang sangat sempit itu – karena ia merasa tengah berpacu dengan sikap tubuh Ki Sekar Tawang yang kentara ingin mengendalikan keadaan – Ki Gandung Jati akan menyambar Ki Tunggul Pitu yang berdiri di dekatnya dengan satu pukulan langsung. Sekelebat kemudian tubuh Ki Gandung Jati bergerak sangat cepat. Menghantam dada dengan serangkum tenaga yang keluar dari telapak tangannya. Namun sebelum ia berada lebih dekat, tiba-tiba, seolah ada yang melontarkannya, Kiai Plered melesat sangat deras, sangat cepat, bahkan mungkin Ki Sekar Tawang tidak akan melampaui kecepatan tombak pusaka itu bila ia harus mengejar lalu menangkap pangkal tombak!

Kiai Plered tiba-tiba berhenti hanya serentang jarak tiga ruas jari dari leher Ki Gandung Jati.

Tidak ada suara yang keluar ketika terjadi lubang di bagian tengah leher Ki Gandung Jati.

Angin tenaga yang begitu hebat hingga menyebabkan tubuh Ki Gandung Jati terlontar dalam keadaan berdiri lalu menimpa seseorang yang melintas di balik rimbun tanaman perdu. Seruan tertahan keluar dari mulut orang yang berpakaian agak gelap. Tubuhnya terjungkal lalu berdebam. Sambil bangkit dengan tangan menepuk-nepuk pakaian berdebu, lelaki itu bergumam sendiri.

Raden Atmandaru segera melesat, mengulurkan tangan, meraih kembali Kiai Plered yang masih melayang di udara tetapi tidak lagi bergetar. Raut wajahnya berubah ketika melihat wajah orang yang tengah terpana menatapnya dengan pandangan kosong.

“Swandaru! Kembali ke bilikmu!”


Related posts

Kiai Plered 11 – Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 30 – Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 58 – Gondang Wates

Ki Banjar Asman