SuaraKawan.com
Bab 1 Bulan Telanjang

Bulan Telanjang – 17

Perhatian dan pandanganku teralihkan ketika mendengar ibu mengeluarkan lengkingan nyaring. Aku terpana menyaksikan tubuh ibu berkelebat begitu cepat. Gerakannya terlihat sangat ringan dan gesit. Kebutan selendanganya telah menggagalkan serangan demi serangan Ki Jalapitu. Benda lentur yang lebih panjang dari senjata milik Ki Jalapitu begitu luwes meliuk-liuk menangkis serangan dan mematuk lawan. Kemampuan ibuku di luar dugaanku. Mungkin, bila aku besar kepala, ibu bahkan lebih hebat dari lawannya. Namun aku hanya dapat melihat perkelahian itu sebagai pengamat. Kenyataannya adalah ibu mampu mengubah atau memindahkan arus serangan dan Ki Jalapitu tampak kewalahan dengan tata gerak Lis Prabandari.

Ketika Ki Jalapitu meningkatkan kemampuan serangnya, ibuku tangkas memutar selendang lalu memangkas setiap cabang yang diperkirakannya akan menjadi jalan serangan lawan. Aku dapat menduganya. Aku belajar lebih cepat pada senja itu.

Tiba-tiba dari bibir Ki Jalapitu terdengar suara menggeram yang menggetarkan dada. Jantungku berdaetak lebih cepat. Tanpa sadar, dua tanganku gemetar. “Apa yang akan dilakukan orang itu?” aku bertanya dengan rasa cemas yang kuat mengerat jantungku sangat kuat.

Ibuku meloncat surut, memutar tubuh jungkir balik selagi melayang di udara tetapi Ki Jalapitu terbang memburunya. Lelaki itu berusaha menerkam ibu dengan gerak bengis dan terkaman yang tentu saja terlihat kejam. Ki Jalapitu terlihat seperti harimau yang melihat mangsa yang bertubuh ranum. Mungkin lelaki itu telah mencium bau darah dari wangi yang selalu melekat pada tubuh ibuku. Sayang, aku tidak dapat melihat sorot matanya. Apakah ia dikuasai keinginan membunuh yang sangat kuat atau hasrat bersetubuh tengah memupuk jiwanya? Aku tidak tahu. Namun bila lelaki itu benar-benar seorang pejantan, keinginan untuk merengkuh tubuh hangat ibuku tentu lebih kuat daripada keinginannya membunuh. Dan itu hanya perasaanku saja karena aku tidak tahu yang sesungguhnya terjadi dalam hati Ki Jalapitu.

Ibu, Lis Prabandari, masih berusaha menjauh dari terjangan-terjangan lawannya. Lalu, seketika ia menjerit panjang. Apakah ibuku terhantam serangan? Oh, bukan. Lis Prabandari justru melakukan serangan balik dengan lompatan panjang sambil menggerakkan dua ujung selendang, mengarah pada simpul-simpul pembuluh darah Ki Jalapitu. Berulang-ulang Ki Jalapitu mampu mengelak, sekali-kali ia menangkis, dan setiap tangkisan akan menimbulkan dentuman yang pelan namun menggetarkan isi dada. Bila itu terjadi, dua kakiku selalu menggigil. Aku tidak tahu penyebabnya, tetapi dugaanku berpusat pada dentum suara yang dihasilkan setiap dua senjata itu berbenturan.

Dari balik selendang yang berputaran sangat hebat, tiba-tiba ibuku memutar tubuh dan sebuah kakinya terjulur panjang. Memasuki celah pertahanan Ki Jalapitu tanpa terhalang! Lelaki setengah baya itu lambat menghindar serangan berbahaya yang diluncurkan ibuku.

Kejutan terjadi!

Ibuku merendahkan tubuh, lalu melenting tinggi dengan tubuh berputar melingkar, lalu dua ujung selendangnya menghantam kepala, leher dan dada Ki Jalapitu secara bertubi-tubi dengan suara berdesit mengerikan!

Aku tak sanggup melihat akhir dari serangan Lis Prabandari. Aku pejamkan mata. Tak lama kemudian suara orang berteriak ramai salin memaki perlahan-lahan menurun. Apakah pertempuran telah usai? Pikiranku berisi pertanyaan itu.

Benar. Aku melihat orang-prang, maksudku, para pengawal kami beredar mengelilingi kawanan yang menghadang kami. Sais kami duduk di atas salah satu tumitnya, mungkin ia sedang menanyakan sesuatu pada salah seorang penghadang. Namun, sekelebat tangannya bergerak membunuh penyerang kami. Aku tidak ingin keluar dari kereta. Aku enggan berjalan di atas permukaan tanah yang penuh dengan anggota tubuh yang terpisah dan basah tergenang darah.

Sais kami yang juga merupakan kepala pengawal yang ditugaskan oleh Han Rudhapaksa terlibat perbincangan sungguh-sungguh dengan ibuku. Mereka mengamati pemuda yang tertancap tiga sujen pada dahinya. Sesekali mereka menatap ke arahku.

Aku tutup tirai jendela kereta. “Mereka mungkin akan bertanya dan saling menanyakan tentang peristiwa itu. Nantinya, mungkin mereka akan bertanya padaku. Lantas, apa yang harus aku katakan? Perkelahianku melawan pemuda yang sedap dipandang itu benar-benar di luar nalar dan pengetahuanku,” bisik hatiku. Aku bersandar dan orang-orang berbincang-bincang setelah menyingkarkan tubuh-tubuh yang beranjak beku.

Malam tiba tetapi aku masih merasa mual. Tubuh terasa hangat selagi daging kelinci yang dibakar dengan bercampur tumbukan rempah-rempah mulai terurai di dalam perutku. Dalam kesendirianku di dalam kereta, aku membuat perkiraan tentang bahasan yang mereka bicarakan. Para penghadang itu, dengan kepentingan khusus yang ada di dalam hati dan benak mereka, tentu berada di depan perintah seseorang. Kayu Merang dari Jatiraga adalah orang yang mempunyai kekuasaan di atas mereka. Aku terkenang kematian mereka. Mungkin mereka menemui kematian yang terkuasai oleh kesetiaan pada janji atau di bawah kendali keinginan yang lain. Dan di atas segalanya, aku merasa lebih bijaksana dibandingkan  pekan lalu.


Related posts

Bulan Telanjang 6

Ki Banjar Asman

Bulan Telanjang 16

Ki Banjar Asman

Bulan Telanjang 18

Ki Banjar Asman