SuaraKawan.com
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 64 – Gondang Wates

Selepas mereka berbelok pada jalan yang menuntun mereka menuju banjar pedukuhan , Marmaya melontarkan kegeramannya dengan teriakan keras. Ia tidak ingin mengumpat seseorang, tetapi Marmaya hanya merasa harus melakukan itu untuk menghempas pepat berada di dalam dadanya. Sederhana ia berpikir, bahwa Sayoga adalah penghubung dari pedukuhan induk dan kewajibannya untuk memberi pelindungan atau menjaga keselamatan Sayoga. Namun di Gondang Wates, nyawa Sayoga berada sebentang ujung lancip tombak. Bahkan, Dharmana pun hampir terbunuh oleh pengikut Raden Atmandaru.

Semua telah berlalu dan hanyut seperti sekuntum bunga yang terbebas dari jerat tangkainya. Marmaya, pada saat itu, tengah berusaha bangkit dari rasa malu yang menggenggam erat hatinya. Menurutnya, mundur adalah kekalahan yang lebih dulu memantul sebelum mereka benar-benar terkulai tanpa daya. Namun Dharmana terus-menerus meyakinkannya bahwa pengawal Gondang Wates bukan sekelompok orang yang tengah berjalan beriring menuju pekuburan.

Malam, yang teriris menjadi banyak bagian waktu, berderap dengan ayun rasa berpasangan. Ada ketakutan yang muncul dalam hati pengawal, tetapi lahir pula kegembiraan yang sulit diucapkan dengan kata-kata yang indah.

“Kakang,” kata Marmaya pada Dharmana, “apakah seluruh yang kita lakukan malam ini akan menjadi  jejak-jejak di atas pasir tepi Kali Praga?”

Dharmana berusaha menampakkan senyum. “Kita tidak dapat berpikir atau berangan melebihi apa yang kita hadapi kemudian. Bagaimana kita terpecah perhatian untuk sesuatu yang belum tentu terjadi?”

Semenjak Dharmana memberi jawaban yang mempunyai arti sangat dalam, perjalanan mereka pun ditelan oleh sepi. Setiap orang terlena oleh riuh suara dalam pikiran masing-masing. Dalam waktu itu, Marmaya dan teman-temannya berlega hati karena hadirnya Sayoga dan Ki Panuju. Sehingga pada satu sisi, mereka mendapatkan bantuan yang mampu memberi bukti besar : Sayoga sanggup menahan terjangan lawan lebih lama.  Maka satu harapan segera membumbung tinggi. Mereka berharap Bunija dapat membawa bantuan dari pedukuhan induk. Pengawal Gondang Wates mengetahui tujuan Bunija lebih jelas ketika Dharmana mengungkapkan perpisahan mereka di dekat gardu jaga.

Bangunan banjar pedukuhan terlihat seperti bayangan hitam yang dirundung murung ketika para pengawal pedukuhan telah belasan langkah dari regol banjar. Puluhan orang dengan bermacam usia tampak berkumpul dan seakan menanti kedatangan Marmaya dan kawan-kawan. Bahwa pesan Agung Sedayu melalui Dharmana tersampaikan sangat baik. Banyak raut wajah yang masih bertanya-tanya alasan mundur. Sebagian seakan ingin membantah, mengapa mundur sedangkan perang pun belum dimulai?

Sejumlah pemimpin pengawal dari pedusunan ingin menemui Marmaya untuk bertanya tentang itu, tetapi Marmaya memberi isyarat agar mereka menunggu sekejap lagi. Ketika ia telah memastikan Dharmana mendapatkan perawatan, Marmaya mengumpulkan segenap pemimpin pengawal pedusunan. Marmaya memberi tanda agar mereka berhimpun di dekat Watu Sumping. Tidak lama kemudian, kata Marmaya, “Aku telah menerima perintah dan memang benar bahwa kita diperintahkan untuk mundur. Dimulai dari gardu jaga simpang tiga di sebelah barat sampai ke perbatasan pedukuhan induk akan menjadi daerah pertahanan Gondang Wates. Di sini, di Watu Sumping kita akan memusatkan seluruh kekuatan. Maka mulai saat ini, aku ingin kalian memberi laporan padaku atau kakang Dharmana setiap perkembangan di dusun kalian atau wilayah lain di Gondang Wates.”

Mereka mengangguk, lantas seseorang yang bernama Waluya bertanya, “Apakah benar kalian telah bertempur di tempat itu?”

“Benar. Kami telah berbenturan dengan mereka di gardu jaga.” Marmaya kemudian mengisahkan singkat perjumpaan mereka dengan pasukan Raden Atmandaru.

“Apakah kita telah mempunyai gambaran atau setidaknya perkiraan bahwa orang-orang itu pasti mengejar kalian?”

“Bukankah itu memang tujuan mereka? Selagi mereka hanya mendapatkan wilayah sisi barat gardu jaga, aku yakin mereka akan menyerang kita di sini.”

“Mungkinkah itu terjadi pada sisa malam ini atau esok pagi?” Waluya berlanjut tanya.

Marmaya menjawab disertai anggukkan kepala, “Semua bagian waktu selalu terbuka bagi mereka. Mereka dapat menyerang kita setiap waktu mereka mau.”

“Apakah ada tanda-tanda mereka membawa panah api atau benda lain untuk membakar pedukuhan kita? Saya khawatir kita bernasib sama dengan Janti atau Jati Anom.”

“Selagi kami berkelahi melawan mereka, kami tidak melihat benda-benda yang dapat menjadi sumber api ada pada mereka. Tetapi, entahlah jika ada orang-orang yang datang setelah perkelahian itu.“

Tiba-tiba terdengar suara yang ingin menenangkan mereka. “Kebakaran di Janti berada di luar wilayah yang banyak dipenuhi rumah-rumah penduduk. Mereka membakar sebagian hutan yang berada di sebelah barat. Namun api yang menyala di dalam wilayah Janti adalah siasat Ki Rangga yang memerintahkan pengawal untuk membakar lumbung dan gudang perbekalan yang lain,” kata Ki Panuju yang mengetahui sebagian rencana Agung Sedayu ketika mereka bertemu di Jati Anom.

“Ki Sanak sekalian,” masih kata Ki Panuju, “Raden Atmandaru tidak akan menghancurkan Sangkal Putung hingga titik lebur. Seperti masa lalu, seperti ketika Macan Kepatihan yang menginginkan kademangan ini seperti itu pula kehendak mereka.”

“Aku belum pernah mendengar kisah itu, Ki Sanak,” ucap seorang anak muda dengan alis saling bertaut. “Siapakah Ki Sanak berdua ini?

“Beliau merupakan prajurit Mataram dengan barak di Jati Anom. Seseorang berpangkat lurah dan bernama Ki Panuju,” jawab Dharmana yang memasuki percakapan dengan langkah kaki tertatih. “Dan anak muda ini, ia adalah Sayoga. Anak muda yang dipercaya Ki Gede Menoreh dan Ki Rangga Agung Sedayu untuk menjadi penghubung, tetapi sayang, ia terbelit dengan kesulitan kita di sini.”


Related posts

Kiai Plered 62 – Gondang Wates

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 39 – Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 38 – Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman