SuaraKawan.com
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 60 – Gondang Wates

Pengintai itu adalah Simbara yang mengambil jalan memutar. Simbara tidak ingin para pengawal kademangan mempunyai pikiran bahwa ia tengah membayangi Bunija beserta tiga orang lainnya. “Mereka bisa saja berpikir macam-macam, kemudian mengatakan yang tidak-tidak. Itu meresahkan sekali. Aku tidak dapat mengendalikan isi pembicaraan orang-orang di kademangan ini. Meski aku sedang mencari jalan lain agar Sangkal Putung dapat selamat, tetapi hati orang, siapa yang tahu?” Simbara mengatakan itu pada hatinya.

Selagi Simbara memikirkan cara agar dapat mendengar pembicaraan yang akan terjadi di rumah Swadaru, Bunija dan tiga orang lainnya telah duduk melingkar di beranda.

Dalam waktu itu Agung Sedayu dapat bernapas lega bahwa Pedukuhan Gondang Wates tidak terputus dari pedukuhan induk. Keterangan demi keterangan dapat didengarnya dari Bunija. Wedang sereh panas dan sedikit makanan hangat tersaji di tengah lingkaran duduk mereka.

“Oh, mereka berdua terikat oleh pertempuran di gardu jaga setelah parit kecil yang melintang jika kita menempuhnya dari sini?” tanya Agung Sedayu.

Bunija mengangguk dalam, lalu katanya, “Saya tidak diizinkan oleh kakang Dharmana untuk terlibat perkelahian.”

“Aku mengerti,” kata Agung Sedayu.

Sukra memandang Bunija dengan pertanyaan dalam hatinya, “Mengapa? Bukankah mereka berjumlah lebih banyak?” Pada saat itu Sukra sedikit kecewa dengan keputusan Dharmana yang justru mengurangi jumlah bantuan. Menurutnya, seharusnya Bunija turut dalam perkelahian dengan segala akibatnya. Walau demikian, seperti juga Agung Sedayu, Sukra merasakan kelonggaran pada perasaannya tentang Sayoga.

Agung Sedayu menahan gejolak dalam hatinya yang mendesak untuk segera bertanya keadaan terakhir perkelahian sebelum Bunija menjauh dari gelanggang. Namun ia sadar bahwa yang terpenting baginya adalah pesan dari Dharmana. “Bunija, apakah Dharmana memintamu mengatakan sesuatu untuk kami?”

Bunija mengangguk tetapi kali ini cemas datang menyergapnya. Bagaimana mungkin pesan itu juga didengar oleh orang selain Ki Rangga. Anak muda di samping Ki Rangga, siapakah ia? pikir Bunija yang tidak mengenal Sukra. Sejenak Bunija memejamkan mata, menimbang dan mengendapkan gugup dalam hatinya.

Seakan tahu yang tengah dipikirkan oleh Bunija, Agung Sedayu kemudian berkata, “Mereka yang berada di beranda ini adalah orang-orang yang dapat dikatakan dekat denganku. Aku belum mengenalkan padamu, namanya Sukra. Dari Tanah Perdikan Menoreh dan telah tinggal bersamaku sejak usia belum belasan tahun.” Agung Sedayu menepuk pundak Sukra ketika mengatakan itu.

Bunija bernapas lega setelah mengetahui kenyataan yang ada di depannya. Lalu ia mengatakan pesan dari Dharmana untuk Agung Sedayu.

Akhirnya Agung Sedayu mengerti alasan tiadanya penghubung dari Pedukuhan Janti yang datang melapor padanya. Selubung yang selama ini menggayut di atas Sangkal Putung mulai tersibak Senapati Mataram dapat melihat banyak hal lebih terang dan benderang.

Perubahan wajah Agung Sedayu dapat ditangkap oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka menunggu rencana yang mungkin akan dijabarkan oleh orang yang kini menjadi panglima tertinggi kademangan. Redup api yang berada di relung dada mereka perlahan-lahan kembali berkobar. Segala penat, kesal dan kecewa seperti sadar diri lalu menepi. Lima pemuda menghadapkan wajah sepenuhnya pada Ki Rangga Agung Sedayu. Dalam pikiran mereka, perkembangan baru akan terjadi di Sangkal Putung. Ini hanya masalah waktu yang mungkin dapat tiba lebih cepat dari perkiraan mereka. Bukankah sepanjang malam batiniah orang Sangkal Putung benar-benar terlindas oleh gerakan Raden Atmandaru? Apalah artinya jika menunggu lebih lama lagi? Sedikit lagi?

Suasana yang mendadak berubah di beranda dapat diketahui dan dirasakan oleh para penjaga regol dan peronda yang berkumpul di gardu jaga. Sebelumnya mereka menyaksikan bahasa tubuh yang begitu lemah tak bertungkai dan wajah suram di bawah temaram api berminyak jarak, kini mereka melihat api yang lebih besar dari yang pernah menjilat Jati Anom dan Pedukuhan Janti. Mereka dapat menarik napas dengan lega dengan perasaan tidak sabar menanti perintah Agung Sedayu!

“Watu Sumping,” gumam Agung Sedayu pelan mengulang pesan Dharmana. Jalan pikiran Agung Sedayu menimbang dengan hati-hati bila ia mengirim pasukan kecil ke banjar Pedukuhan Gondang Wates. Kekuatan pasukan di kademangan akan berkurang dan itu pasti. Bilamana pasukan Raden Atmandaru menyerang dengan kecepatan kilat di salah satu bagian pedukuhan induk, Agung Sedayu harus menimbang pertahanan di banjar pedukuhan dan sekitar rumah Ki Demang. Selain ada anaknya yang belum berusia sehari, Sekar Mirah pun masih tergolek lemah, dan ia sendiri? Ini bukan perkara mudah untuk mengirim orang dalam jumlah lebih dari lima belas, pikirnya.

“Apa yang akan kita lakukan, Ki Rangga?” Bunija tidak sabat untuk bertanya.

“Yang pasti adalah kita akan melakukan sesuatu, Bunija. Namun untuk setiap gerakan, kita tidak dapat  gegabah membuat keputusan. Ingat, mereka sanggup memisahkan Janti dan Gondang Wates! Bahkan, mereka berhasil menawan beberapa kawanmu. Di tempat lain, Jagaprayan, Nyi Pandan Wangi pun belum dapat meninggalkan pedukuhan itu hingga kalian berada di sini,” kata Agung Sedayu. “Lagipula serangan-serangan yang cukup menganggu terus-menerus mereka lakukan. Menyerang lalu menghilang begitu seterusnya. Nah, bukankah itu juga menjadi pertimbanganku? Tidak hanya Gondang Wates yang menjadi perhatianku sementara ini, tetapi seluruh wilayah Mataram yang berada di seputar Sangkal Putung.”

“Termasuk Tanah Perdikan?” Sukra bertanya sambil tetap berpikir tentang kemungkinan diperintahkan menuju Randulanang karena Sayoga telah dikabarkan terlibat pertempuran. Mungkin ia selamat, semoga menjadi selamat, harapnya.

“Termasuk Tanah Perdikan,” tegas Agung Sedayu.

Ketika Randulanang melintas dalam benak Sukra, anak muda ini kembali dirundung gelisah. Betapa paras Gendhis tiba-tiba memenuhi ruang hatinya! Apakah Sukra harus gembira atau merasa susah? Sukra tak sanggup menjawabnya.

Kemudian Agung Sedayu meminta mereka lebih mendekat padanya. Lagi, lagi dan begitu rapat!

Sewaktu Agung Sedayu membeberkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi serta pesan untuk penyelesaian, dari kegelapan dan mendadak muncul di tengah jalan, Simbara melenggang mendekati regol halaman.

Walau kedatangannya menyentak perasaan para pengawal, tetapi mereka menyambut terbuka anak bekel pedukuhan itu. Pergaulan Simbara dengan anak-anak muda Sangkal Putung begitu baik, maka dari itu tiadalah rasa curiga dalam hati mereka. Sedikit pertanyaan dari pengawal adalah kedatangan Simbara di kediaman Ki Demang, sedangkan Simbara adalah orang penting dalam susunan pertahanan di banjar pedukuhan. Sikap wajar dan sapaan hangat dari Simbara menjadi jawaban yang melegakan para pengawal Sangkal Putung.

“Rupanya mereka belum mendengar bahwa aku telah mengundurkan diri dari banjar dan segera kembali ke Randulanang,” bisik Simbara dalam hatinya.


Related posts

Kiai Plered 48 – Gondang Wates

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 62 – Gondang Wates

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 59 – Gondang Wates

Ki Banjar Asman