SuaraKawan.com
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 34 – Pedukuhan Janti

Sementara Nyi Kuswari menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kehadiran permata Sekar Mirah, Agung Sedayu mengusap-usap bagian perut Sekar Mirah dengan jemari bergetar. Bibir Agung Sedayu bergerak-gerak tanpa desah suara. Tidak jelas terdengar yang ia ucapkan pada bayi yang masih berlindung di gua garba ibunya. Dalam waktu itu, Agung Sedayu dipenuhi prasangka dan pikiran yang beraneka macam, apakah ia dapat menolong kelahiran anaknya? Apakah ia dapat mencegah bahaya datang menghampiri istrinya? Tetapi ia segera berpegang pada pesan Kiai Bagaswara, bahwa tidak ada urat maupun otot perut yang dapat mengundang keadaan gawat. Semuanya berpulang pada ketenangan Sekar Mirah. Segalanya bermuara pada kehendak Sang Maha Agung.

“Aku tidak boleh melakukan kesalahan. Ini hanya sekali dan sedapatnya dilewati tanpa cela,” demikian kesimpulan Agung Sedayu setelah dapat memperkirakan kedudukan anaknya. Maka ia mencoba bersenandung dalam gumam. Bila benar yang dikatakan oleh Nyi Kuswari, maka sepatutnya bayi akan merasakan senang dan nyaman ketika mendengar suara ayahnya.

Sedikit anggukan Sekar Mirah terlihat di bawah himpitan rasa sakit yang luar biasa. Satu atau dua kali ia terlihat melepaskan senyum. Mungkin Sekar Mirah berusaha menunjukkan bahwa ia membenarkan tindakan suaminya.

Semakin lama dan semakin jauh  Agung Sedayu pun tenggelam dalam usahanya. Persoalan perlahan terurai. Kebuntuan telah mendapatkan tindakan pemecahan. Agung Sedayu merasa bahwa ia belum setara dengan gurunya dalam pengobatan, tetapi keyakinannya jauh melampaui perasaan itu. Meski jalan lahir anaknya belum terbuka – menurut keterangan Nyi Kuswari yang memantau perkembangan melalui sentuhan lembut pada perut Sekar Mirah –  tetapi regang tubuh anaknya mengendur.

Waktu terus menyeret langkah dengan tertatih-tatih meski itu menurut perasaan Agung Sedayu dan keluarganya, dan perkembangan tahap demi tahap berlanjut maju. Hingga kemudian Nyi Kuswari melangkah menuju pintu, mencari Kiai Bagaswara, lalu berkata, “Akhirnya kita semakin dekat, Kiai.” Sejenak ia berpaling pada Sukra, pesannya, “Bila engkau tidak keberatan, aku memintamu untuk menemui Nyi Demang. Katakan pada beliau, bahwa Nyi Mirah mungkin akan membutuhkan beliau bila waktunya telah tiba.”

Sukra mengangguk dan bergegas melangkah lebar memasuki pringgitan. Walau tidak mengerti maksud percakapan singkat Nyi Kuswari dan Kiai Bagaswara, Sukra dapat menyangka bahwa sesuatu yang sangat mendebarkan segera terjadi. “Tak lama lagi. Tidak akan lama lagi,” bisik Sukra berulang-ulang dalam hatinya.

“Ya, aku mengerti maksud Nyi Kuswari,” jawab Nyi Demang ketika Sukra merendahkan tubuh di hadapannya setelah mengutarakan pesan Nyi Kuswari. “Aku segera bersiap. Katakan pada beliau, Ngger.”

“Baik, Nyi.” Sukra kembali ke tempatnya semula. Lalu menyibukkan diri dengan berangan-angan tempat untuk merawat ari-ari anak Sekar Mirah.

Bunga hati Agung Sedayu saat tatap matanya membentur seperangkat alat persalinan milik Kiai Bagaswara. “Semoga kita tidak berjodoh. Semoga memang tidak ada waktu untuk bekerja sama.” Ia mengangguk lalu senyumnya memaksa diri untuk keluar. Ia harus menguatkan hati agar selalu mempunyai dugaan-dugaan yang baik dan penuh harapan. Bila akhirnya terjadi pendarahan akibat kesalahan saat menggores bagian tubuh, apakah ia sanggup memandang wajah Sekar Mirah dengan mata terbuka? Salah satu rongga pikirannya penuh berisi tanya jawab tentang itu.

“Apakah saya dapat memperoleh izin masuk?” bertanya Kiai Bagaswara dari balik dinding.

Nyi Kuswari melihat Agung Sedayu dan berharap mendapatkan jawaban meski dari sorot mata senapati Mataram. Kemudian kata dukun bayi itu, “Silahkan, Kiai.”

Terasa longgar dada Kiai Bagaswara menyaksikan Agung Sedayu tekun memenuhi saran-sarannya dan Nyi Kuswari. “Ia tidak lagi berada di jalan buntu dan pendek. Agung Sedayu dapat bertemu dengan anaknya,” hati Kiai Bagaswara berbisik. Sejengkal ia berada di samping Agung Sedayu. Dengan isyarat, Kiai Bagaswara meminta Nyi Kuswari mendekat lalu memeriksa kedudukan bayi.

Dua tangan Nyi Kuswari bekerja di balik kain penutup tubuh Sekar Mirah. Kiai Bagaswara beralih tempat ke balik punggung Agung Sedayu.

“Ia tidak lagi melintang,” lirih ucap Nyi Kuswari.

“Kendalikan dirimu, Ngger.” Sentuhan tangan  Kiai Bagaswara meredam semangat Agung Sedayu yang nyaris menghentak sangat hebat!

Nyi Kuswari meminta Agung Sedayu agar bersedia menepi.

Pergulatan segera terjadi. Kini tinggallah Nyi Kuswari dengan bayi Sekar Mirah. Mereka terpisah jarak yang sangat dekat. Mungkin seukuran ruas jari atau sebaris putih kuku jemari.

Sejenak Agung Sedayu terlupa dengan bahaya  yang semakin dekat dan nyaris menguasai sebagian Sangkal Putung. Raden Atmandaru? Agung Sedayu mungkin butuh waktu untuk mengingat nama itu. Segenap pikiran dan perhatiannya terlimpahi dan terbanjiri bayangan-bayangan mengenai anaknya.

Lelaki atau perempuan?

Lengkap atau timpang?

Sehat atau sakit?

Hidup atau mati?

Pucat Agung Sedayu menatap wajah Sekar Mirah yang memudar! Ada apakah ini? Mengapa darah tiba-tiba menghilang dari urat wajah Sekar Mirah sedangkan dadanya masih turun naik meski begitu panjang dan pelan?

Selagi ia memandang erat paras Sekar Mirah, segenap otot dan urat perut Sekar Mirah kian kuat meregang!

Pertanyaan terakhir menghilangkan cahaya dan senyum yang sempat singgah pada wajah Agung Sedayu. Semoga dugaannya keliru. Semoga Nyi Kuswari telah bersiap sepenuhnya ketika bayi Sekar Mirah mendadak berhenti bergerak!

 


Related posts

Kiai Plered 88 – Randulanang

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 26 – Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 59 – Gondang Wates

Ki Banjar Asman