SuaraKawan.com
Bab 7 Wedhus Gembel

Wedhus Gembel 5

“Tidak! Itu tidak boleh menimpa angger Adipati!” desis pemilik sepasang mata yang telah berjarak dua tombak dari lingkar pertarungan. “Aku akan menghadangnya, Ngger!” seru orang itu sambil melepas belasan bola cahaya dari dua telapak tangannya.

“Paman Getas Pendawa!” Adipati Pajang mengangguk lantas memindahkan aliran tenaganya dari Kiai Rontek. Kini ia sepenuhnya menghadapi Lembu Jati yang masih melayang di udara.

Kiai Rontek sempat terkejut ketika pusaran angin yang membelitnya dengan kekuatan raksasa itu tiba-tiba terhenti. Namun ia telah berada dalam jalan ilmu yang siap diledakkan. Gumpalan asap panas tiba-tiba menyelimuti tubuh Kiai Rontek yang berdiri sedikit merendah dengan dua tangan tertangkup yang bagian runcingnya menghadap ke tanah. Dari sepasang telapak yang bertangkup itulah muncul kepulan tipis asap panas lalu dengan cepat membungkus sekujur tubuh Kiai Rontek.

“Wedhus Gembel!” seruan tertahan Ki Getas Pendawa tatkala melihat perubahan yang dilakukan Kiai Rontek yang menggeleparkan udara menjadi panas..

Entah mengapa ilmu itu dinamakan Wedhus Gembel, batin Ki Getas Pendawa bertanya-tanya.

Sebenarnya ilmu itu memang pantas disebut sebagai Wedhus Gembel. Asap yang mulanya begitu tipis dan hangat telah berubah dengan cepat menjadi kepulan tebal yang bergumpal-gumpal dan sangat panas. Kiai Rontek, yang tak lagi dapat dilihat karena terbungkus rapat oleh asap yang terus menerus menggumpal,  bergerak maju.

Tiba-tiba asap panas itu menyambar Ki Getas Pendawa.

Seketika Ki Getas Pendawa memapas semburan panas Wedhus Gembel dengan angin yang terdorong keluar dari tapak tangannya. Semburan asap panas mendadak menggapai ke segala arah ketika hembusan angin dari tenaga Ki Getas Pendawa seperti berubah menjadi dinding batu Merbabu. Perang tanding antara Ki Getas Pendawa dengan Kiai Rontek pun tak lagi dapat dielakkan. Gerakan mereka yang lambat tidak menjadi ukuran dahsyatnya daya rusak yang ditimbulkan. Setiap kaki Kiai Rontek berpijak maka ia akan meninggalkan bekas hitam seperti terbakar. Dan jilatan asap panas yang tak mencapai sasaran pun semburat ke banyak penjuru lalu membakar segala yang terkena udara panasnya.

Sementara itu, Lembu Jati masih menggetarkan serangannya melalui jalur yang sama dengan tenaga inti Adipati Hadiwijaya yang mengikatnya. Kelebihan lain Sigar Kendang adalah ilmu ini mampu menyusup melalui aliran tenaga inti lawannya.

Bagian hutan yang menjadi ajang pertempuran empat orang berkepandaian tinggi pun membara. Angin yang terhempas dari kibas tangan Ki Getas Pendawa menambah pilu suasana. Betapa hutan yang semula asri dan hijau mendadak dilanda kebakaran dahsyat. Sekalipun kebakaran itu belum meluas namun Adipati Hadiwijaya dilanda rasa gelisah.

Ia menyadari bahwa kehidupan banyak orang di Pajang yang serasi dan seimbang itu tidak lepas dari kemauan mereka menjaga alam sekitarnya. Orang-orang Pajang dan sekitarnya bahu membahu saling mengamati setiap perkembangan yang terjadi pada lingkungan mereka. Mereka berdiri saling bersandar punggung, mereka berjalan dalam derap yang seirama lalu esok hari mereka akan menjumpai satu kerusakan yang kembali terulang. Mereka akan mengingat kembali kisah turun temurun bahwa Pajang pernah membara di masa Majapahit. Peristiwa getir pada masa Sri Jayanegara segera membayang, dan mungkinkah kembali terulang?

Di tengah-tengah pertarungan hidup dan mati, Adipati Hadiwijaya merasa tekanan semakin berat menggebrak jantungnya. Ia merasa bersalah dengan keputusannya untuk menghadapi Lembu Jati dalam hutan. “Aku tidak mempunyai pilihan lain,” hati Adipati Pajang itu bergolak. Ia mencoba membenarkan tindakannya. ”Aku pun tak mengira bila Kiai Rontek ternyata menguasai ilmu Wedhus Gembel dan melepaskan ilmunya di dalam hutan yang cukup rapat ini.” Pergolakan batin sang adipati pun menjadi sebab Lembu Jati mampu menggeliatkan tubuhnya. Tiba-tiba satu teriakan nyaring membelah malam yang ramai oleh gemeretak daun dan ranting yang terbakar.

Lembu Jati memutar tubuhnya lebih cepat dari gasing, setelah satu kakinya menjejak tanah lalu ia menggebrak pemimpin Pajang itu dengan satu terjangan hebat. Lutut Lembu Jati melayang menggapai dada Adipati Hadiwijaya sementara dua tangannya terbuka sebentang sayap rajawali.

“Matilah engkau, Mas Karebet!” suara geram Lembu Jati diikuti oleh dua dorongan dari kedua tangannya yang terlambari tenaga Sigar Kendang.


Related posts

Wedhus Gembel 3

Ki Banjar Asman

Wedhus Gembel 6

Ki Banjar Asman

Wedhus Gembel 4

Ki Banjar Asman