SuaraKawan.com
Suara Sejarah

Industri Gula Praja Mangkunagaran

Dibanding gedung-gedung yang ada di sekitar, pabrik itu terlihat menonjol. Bukan saja ukurannya lebih besar, tingginya pun meyakinkan: sekitar sepuluh meter. Bangunan itu berbentuk persegi, didominasi warna putih, dan kokoh berdiri di atas tanah seluas 6,4 hektar, dengan 1,3 hektar di antaranya digunakan untuk bangunan utama pabrik.

Begitu masuk ke dalam, berbagai ornamen lama pabrik tersaji dengan rapi. Terawat dengan baik, seolah-olah masih baru. Di bagian tengah bangunan menjulang sebuah cerobong asap. Sementara di bagian depan dan samping terhampar tanah lapang yang ditumbuhi pepohonan, berfungsi sebagai taman, tempat orang-orang duduk bersantai. Pada dinding sebuah bangunan terdapat tulisan “PG COLOMADU TAHUN 1861”.

Pabrik gula Colomadu merupakan bangunan bersejarah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasinya berada di Jalan Adi Sucipto, Malangjiwan, kecamatan Colomadu. Dilansir laman Kompas, rupa bangunan pabrik saat ini merupakan hasil revitalisasi tahun 2017 untuk keperluan situs cagar budaya dan wisata di daerah Jawa Tengah. Lantas bagimana pabrik tersebut bisa berdiri?

Menurut sejarawan Wasino, pabrik gula Colomadu merupakan bisnis peninggalan Praja Mangkunagaran. Dalam acara Serial Seminar Nasional Sejarah “The Mangkunegara Sugar Industry and Road Infrastructure in The Surakarta Residency”, Jumat (19/02/2021), staf pengajar di Universitas Negeri Semarang itu menyebut jika pabrik didirikan pada 1860 oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV.

Untuk mendirikan pabrik, pertama-tama Mangkunegara IV memilih tempat di desa Krambilan, Distrik Malang Jiwan, sebelah utara Kartosura. Pertimbangannya, tanah di tempat itu subur dan ketersediaan air melimpah. Ia lalu memerintahkan R. Kamp, seorang ahli tanaman tebu berkebangsaan Jerman untuk meneliti tanah di sana apakah cocok untuk ditanami tebu atau tidak. Setelah dinilai sesuai, serta mendapat persetujuan dari Residen Surakarta, Nieuwenhuiz, Mangkunegara IV memulai pembangunan pabriknya.

Dalam tulisannya di Humaniora Vol. 17, No. 1 tahun 2005, “Mangkunegara IV, Raja-Pengusaha, Pendiri Industri Gula Mangkunagaran (1861-1881)”, Wasino mengatakan bahwa peletakan batu pertama pembangunan pabrik dilakukan pada 8 Desember 1861. Sementara biaya yang dihabiskan seluruhnya mencapai f 400.000, berasal dari pinjaman hasil keuntungan perkebunan kopi Mangkunagaran dan bantuan dari seorang Mayor Cina di Semarang Be Biauw Tjwan, teman dekat Mangkunegara IV.

Setelah melalui pembangunan selama setahun, pada 1862 pabrik gula itu siap beroperasi. Dalam sebuah upacara pembukaan pabrik, Mangkunegara IV menamai pabrik pertamanya itu Colo Madu, suatu nama Jawa yang artinya “gunung madu”.

“Tidak ada penjelasan resmi mengapa menggunakan istilah itu, tetapi jika dilihat dalam tradisi penguasa Jawa, maka nama itu mengandung suatu harapan agar kehadiran industri gula ini menjadi simpanan kekayaan Praja Mangkunagaran dalam bentuk butiran pasir berjumlah besar hingga menyerupai gunung,” jelas Wasino.

Karena Colomadu merupakan perusahaan pribadi, pegelolaan kebun berada di bawah kontrol langsung Mangkunegara IV. Namun pengawasan sehari-hari dilakukan seorang administratur, yang untuk pertama kalinya dipercayakan kepada R. Kamp. Namun ia hanya memegang jabatan selama 8 tahun, karena pada 1870 Mangkunegara memberi tugas perombakan dan perluasan perkebunan kopi kepadanya. R. Kamp lalu digantikan oleh putranya, G. Smith sebagai administratur pabrik gula Colomadu.

Berdasar arsip Praja Mangkunagaran, panen perdana pabrik Colomadu tahun 1862 mampu menghasilkan sebanyak 6000 pikul gula dari 135 bahu sawah yang ditanami tebu. Produksi itu menyamai rata-rata produksi gula per pikul di seluruh Jawa pada 1870. Hasilnya pun ketika itu tidak hanya untuk konsumsi lokal saja, tetapi sudah bisa dijual hingga ke Singapura dan Maluku.

“Meskipun ini perusahaan pribumi tetapi jaringan perdagangannya tetap menggunakan jaringan-jaringan yang dibangun oleh perusahaan Belanda dan orang-orang Cina,” kata Wasino.

Keberhasilan pabrik gula Colomadu mendorong Mangkunegara IV membangun pabrik keduanya, yakni PG Tasik Madu. Dikisahkan dalam Jalur Gula: Kembang Peradaban Kota Lama Semarang, terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama World Heritage Camp Indonesia, pabrik itu didirikan pada 1871. Lokasinya berada di Distrik Karang Anyar, sebelah barat lereng Gunung Lawu.

Sama halnya dengan pabrik pertama, pabrik Tasikmadu juga dikelola secara langsung oleh Mangkunegara IV. Sistem pekerja di sana juga masih sama, yakni digarap oleh petani dari desa-desa sekitar pabrik secara cuma-cuma. Dengan kata lain para petani tebu itu dikenakan kerja wajib tanam tanpa dibayar sesuai dengan kebijakan dari Praja Mangkunagaran.

Mulanya sistem produksi di Tasikmadu tidak teratur. Sebagian besar kegiatan produksi gula dilakukan tatkala perkebunan kopi mengalami penurunan keuntungan. Akan tetapi sejak ditandatanganinya kontrak dengan NHM (Nederland Handels Matschappij) di Semarang, produksi gula di Tasikmadu dilakukan secara teratur. Suntikan dana dari kamar dagang pemerintah Belanda itu membuat pabrik mengalami peningkatan jumlah produksi dan pemasaran.

Tiap tahun jumlah permintaan gula dari kedua pabrik kian meningkat. Sejalan dengan itu, Praja Mangkunegaran juga segera melakukan perluasan lahan untuk tanaman tebu. Tidak hanya di distrik Karang Anyar, tetapi meluas ke wilayah lain. Selain itu, Praja Mangkunegaran pun dengan cepat membangun akses transportasi, utamanya jalur kereta api, guna memperlancar dan memperluas proses penyaluran hasil produksi.

“Keberhasilan industri gula ini sangat membantu penghasilan Praja Mangkunegaran untuk melengkapi sumber pendapatan tradisionalnya dari pajak tanah. Keuntungan yang diperoleh dari pabrik gula sebagian digunakan raja untuk membayar gaji para bangsawan dan sebagian lagi dapat digunakan untuk menebus tanah lungguh yang belum selesai ditarik kembali,” ujar Wasino.

Setelah Mangkunegara IV wafat, segala proses produksi di kedua pabrik gula dilakukan di bawah pimpinan Mangkunegara V. [HT]

Related posts

Ken Arok Bukan Rakyat Jelata

Redaksi Surabaya

Pertempuran 10 November 1945 Ancen Sangar, Rek! (1)

Redaksi Surabaya

Asal Perlawanan Ken Angrok

Redaksi Surabaya