SuaraKawan.com
Parsosbud

Situs Religi Dan Budaya Tionghoa Klenteng Kwan Tie Miaw

Klenteng Kwan Tie Miaw telah terdaftar ke dalam situs warisan Indonesia. Klenteng ini juga termasuk ke dalam beberapa jajaran klenteng tertua yang ada di Indonesia. Sekilas mungkin klenteng juga merupakan salah satu bentuk dari destinasi wisata religi sekaligus budaya khas suku Tionghoa. Sama seperti klenteng lain yang juga dimanfaatkan sebagai area tempat wisata. Namun khusus untuk klenteng yang satu ini, sama sekali tidak difungsikan sebagai destinasi wisata.

Jadi Klenteng Kwan Tie Miaw menjadi salah satu aset tempat ibadah yang dilindungi. Lalu klenteng ini juga hanya difungsikan sebagai tempat ibadah. Oleh karena itu, di Klenteng Kwan Tie Miaw tidak terdapat beberapa fasilitas ataupun perlengakapan wisata. Termasuk tempat parkir bagi setiap pengunjung dan beberapa fasilitas umum yang memadai.

Sumber Gambar: regional.kompas.com

Walaupun Klenteng Kwan Tie Miaw tidak mempunyai fungi sebagai destinasi wisata, tetapi untuk suatu moment klenteng ini menjadi salah satu wisata budaya sekaligus religi yang sangat recommended. Pada hari – hari tertentu, terutama pada hari raya umat Budha dan keturunan Tionghoa klenteng selalu mengadakan suatu festival. Festival tersebut dibuka untuk umum. Sehingga setiap orang dapat menikmati festival yang diadakan.

Klenteng Kwan Tie Miaw berada di kawasan salah satu kampung pecinan yang ada di daerah Bangka Belitung. Di kepulauan Bangka Belitung menjadi salah satu daerah dengan populasi suku Tionghoa terbanyak di Indonesia.

Karena hal itu, di daerah Bangka Belitung juga menjadi daerah dengan jumlah vihara dan klenteng paling banyak. Ada puluhan klenteng / vihara yang dapat dijumpai di daerah ini. Beberapa klenteng pun ada yang berumur hingga beberapa abad, ada pula beberapa bangunan kelenteng / vihara baru.

Untuk lokasi dari Klenteng Kwan Tie Miaw berada di Jl MH Muhidin 1, Pasir Padi, Rangkui, Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka, provinsi Bangka Belitung. Untuk akses menuju ke lokasi klenteng tidak begitu sulit dan dapat dijangkau dengan mudah. Begitu pula dengan pemanfaatan Google map sebagai petunjuk arah jalan.

Apalagi letak dari Klenteng Kwan Tie Miaw berada di jalan Raya. Selain itu letak dari klenteng pun juga sangat strategis. Bahkan berada di dekat salah satu pusat perbelanjaan modern market, yaitu Ramayana Plaza Pangkal Pinang.

Tidak jauh dari lokasi Klenteng Kwan Tie Miaw juga terdapat sebuah danau, taman dan lain sebagainya. Tempat – tempat tersebut dapat dijadikan sebagai alternatif destination setelah melakukan sembahyang di klenteng ini.

Keunikan Klenteng Kwan Tie Miaw

Desain dari Klenteng Kwan Tie Miaw sangat klasik dan pesona dari arsitektur Cina sangat kental. Dengan dominasi warna merah dan ornament klas Cina. Di bagian puncak klenteng terdapat suatu lingkaran hitam – putih. Lingkaran tersebut merupakan sebagai suatu simbol ying / yang. Simbol tersebut mengandung arti sebagai keseimbangan hidup dan alam semesta.

Pada bagian puncak klenteng, tepatnya di bagian atap dan langit – langit penuh dengan ornament Chinese lantern / lampion china. Selain itu juga terdapat lambang patkwa. Lambang tersebut merupakan simbol darurat hewan babi yang sangat dipercaya dapat membawa rezeki, keberuntungan dan kebahagian.

Sumber Gambar: Google Mpas @Pablo Pablo

Pada bagian dalam klenteng, terdapat ruang ibadah / sembahyang yang cukup luas. Di dalam ruang sembahyang dihiasi pula dengan ornaments Chinese lantern / lampion China. Selain itu perlengakapan sembahyang yang tersedia juga sangat lengkap, mulai daring patung Dewa, guci, lilin besar, dupa, buah sesaji dan lain sebagainya.

Patung Dewa yang terdapat di tempat persembayangan yaitu Dewa Guan Yu (dalam dialek Chinese) / Kwan Kong (dalam dialek hokkian). Dewa Guan Yu sendiri merupakan Dewa Perang dalam ajaran konghucu / Taoisme.

Dewa Guan Yu merupakan salah satu panglima besar pada masa 3 kerajaan / abad 1 – 2 Masehi. Guan Yu mendapat gelar khusus dari Kaisar Han sebagai Han Shou Thing Hou / Marquis dari Hanshou.

Pembangunan Klenteng Kwan Tie Miaw

Klenteng yang mempunyai luas bangunan sebesar 12,5 meter × 24 meter, telah ada pada abad ke 18 Masehi. Umur bangunan darurat klenteng ini pun telah mencapai 1½ abad. Bangunan dari klenteng diresmikan pada 1841. Waktu peresmian tersebut tertulis pada salah satu lonceng besi yang terdapat pada klenteng kwa tie miaw ini. Sedangkan untuk bangunan klenteng sendiri selesai pada 1846. Tujuan awal dari pembangunan klenteng pun bukan semata – mata sebagai tempat ibadah, ada tujuan lain dibalik pembangunan klenteng ini.

Pada 1850 – 1860, di daerah tersebut terdapat wabah penyakit beri – beri. Untuk menolak wabah dan sekaligus sebagai upaya perlindungan, dibangunlah sebuah klenteng / tempat ibadah. Sehingga orang Tionghoa dapat berdoa dan meminta perlindungan / kesembuhan atas wabah penyakit yang sedang gencar dan melanda sebagian besar penduduk yang ada di wilayah klenteng.

Sumber Gambar: Google Maps @jimmy kamadjaja

Wabah penyakit beri – beri tidak hanya melanda orang pribumi semata. Namun juga orang Tionghoa. Setelah klenteng tersebut dibangun, wabah akan penyakit beri – beri pun menjadi hilang. Semua orang yang terkena penyakit tersebut sembuh total dan sejak saat itu tidak ada lagi seorang pun yang terkena penyakit beri – beri.

Selain berdoa / sembahyang, orang Tionghoa juga melakukan suatu ritual sebagai tolak balak. Ritual tersebut yaitu Pot Ngin Bun. Upacara dari ritual tersebut masih diadakan hingga kini. Tujuan dari ritual yang semula sebagai tolak balak akan wabah penyakit yang melanda pada saat itu, berubah menjadi luas. Bukan hanya sebagai upaya agar diberi kesehatan, namun juga diberikan rezeki yang cukup.

Proses dari pembangunan klenteng ini dilakukan secara gotong royong. Pihak yang terlibat pada pembangunan klenteng pun hanya orang suku tionghoa. Orang Tionghoa pendatang di daerah ini berasal dari Provinsi Guang XI. Untuk penduduk dari Provinsi Guang XI merupakan suku Haka. Orang Tionghoa merupakan pendatang yang awalnya bertujuan untuk mencari nafkah. Tujuan pertama datang di daratan Bangka sebagai pekerja tambang timah.

Sumber Gambar: Instagram @th0m_hi3akarilim

Untuk Klenteng Kwan Tie Miaw mengalami beberapa kali perubahan nama. Pada awal pertama dibangun, klenteng ini bernama Klenteng Kwan Tie Bio. Lalu pada masa orde baru, klenteng ini berganti nama dengan Klenteng Amal Bhakti. Pada masa orde baru pun wilayah klenteng menjadi sedikit terhimpir dengan adanya proyek pelebaran jalan yang terjadi pada 1986. Tetap di bagian altar masih utuh, sehingga klenteng ini pun mengalami pemugaran dan dibuat menjadi 2 lantai.

Lalu pada 1998, klenteng ini mengalami kebakaran. Hal tersebut membuat sebagian besar bangunan klenteng terbakar seutuhnya. Kecuali pada bagian kiri bangunan. Setelah terjadi kebakaran, klenteng ini pun dilakukan suatu pemugaran. Pemugaran dari klenteng dilakukan oleh seorang ahli patung dan klenteng yang bernana Jamal. Sehingga bangunan dari klenteng ini merupakan banguan baru. Karena bangunan lama dari klenteng telah terbakar seutuhnya. Bangunan Klenteng baru selesai pada 5 Augustus 1999. Setelah proses pembangunan selesai, klenteng ini pun berganti nama yang semula klenteng Amal Bhakti menjadi Klenteng Kwan Tie Miaw. [WS]


Related posts

Desa Wisata Liya Togo Peninggalan Kerajaan Wakatobi

Redaksi Surabaya

Wisata Alam Bernuansa Lokal Di Sungai Serayu

Redaksi Surabaya

Desa Wisata Khas Sunda Desa Saung Ciburial – Garut

Redaksi Surabaya