SuaraKawan.com
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 19 – Pedukuhan Janti

Pedukuhan Janti.

Dengan tergesa-gesa penghubung yang dikirim Agung Sedayu menyeberangi pedukuhan. Secepat mungkin ia ingin mencapai kedudukan Ki Gatrasesa. Namun, dari ujung jalan yang menanjak, ia melihat sejumlah bayangan orang berloncatan. Nyala api yang belum padam memberinya pandangan cukup luas untuk menilai keadaan yang terjadi di lembah yang di hadapannya. Sejumlah orang berloncatan, sekali-kali terlihat kilau senjata berkelebat membelah malam. Dalam waktu itu, teriakan-teriakan orang tak lagi terdengar. Suara berisik dentang senjata dan seruan-seruang tenggelam dalam deru api yang membakar dedaunan dan dahan.

“Ki Gatrasesa,” pelan penghubung itu berkata pada dirinya sendiri, “di mana aku dapat menemukannya?” Tidak mudah bagi penghubung itu untuk mencari Ki Gatrasesa. Ia berpikir mustahil jika dilakukannya dengan bertanya, sedangkan perhatian orang-orang tertuju pada pertempuran di tepi pedukuhan. Maka, baginya hanya satu yang tersedia : terjun langsung ke medan laga!

Di waktu itu benturan pertama terjadi hampir bersamaan dengan kedatangan penghubung dari pedukuhan induk yang dikirim oleh Agung Sedayu. Garis memanjang dengan lengkung seperti bulan sabit sedikit banyak mampu mengurangi tekanan dari pengawal kademangan.

Para pengikut Raden Atmandaru memperlihatkan kecakapan bertempur membelah hutan dengan kobar api di belakang punggung mereka. Sementara pengawal kademangan terhalang oleh silau kobar api yang masih besar. Berulang-ulang pengawal kademangan menutup wajah, bahkan tak jarang mereka memalingkan muka, menghindari gangguan yang menusuk pandangan mata. Raden Atmandaru cermat membuat perhitungan. Ia memerintahkan pasukannya untuk membuat dinding api di belakang barisan mereka, dengan begitu, tidak ada jalan bagi pengikutnya melarikan diri. Satu-satunya jalan selamat dari api adalah : kuasai Pedukuhan Janti!

Di balik siasat yang sekilas terkesan kejam, sebenarnya Raden Atmandaru telah memperkirakan arah angin bertiup. Maka dengan demikian, kepul asap dan percikan api pun tak kenal ampun menghantam bagian depan tubuh pengawal kademangan!

Pada mulanya Ki Gatrasesa tidak memberi perintah untuk pengawal supaya tidak terjun beradu muka dengan pasukan musuh. Namun, pergerakan rumit laskar Raden Atmandaru perlahan-lahan terus menerus mampu mendesak mereka hingga mencapai pategalan berlumpur. Itu artinya adalah sejengkal lagi Pedukuhan Janti akan berada dalam penguasaan Raden Atmandaru. Oleh sebab itu – karena menurutnya tidak ada jalan lain – maka menyerang adalah pertahanan terbaik!

Jalan penyerangan laskar Raden Atmandaru, sungguh, sangat mangkus dan sangkil untuk menahan tikaman-tikaman pengawal kademangan. Meskipun kemampuan kanuragan dan daya tahan dapat dianggap setara dengan pengawal kademangan, tetapi ketepatan memilih siasat benar-benar mengacaukan perhatian Ki Gatrasesa.

Masih dalam deret barisan lengkung, satu atau dua orang pengikut Raden Atmandaru selalu bergerak. Sekali-kali mereka mundur, lalu tiba-tiba mengeroyok pengawal terdekat kemudian menghilang. Pengikut Raden Atmandaru tidak selalu menghentikan pengeroyokan saat seorang pengawal roboh atau terjungkal. Mereka pun segera meninggalkan lawan ketika kawannya telah memberi tanda untuk mundur atau menghilang. Lalu mereka muncul di tempat yang berbedan, tempat semula pun digantikan oleh pengikut Raden Atmandaru lainnya. Kesan pertama yang muncul dalam benak pengawal kademangan adalah mereka menghadapi pasukan dengan jumlah yang lebih banyak!

Pergerakan berputar-putar dan saling mengisi yang diperagakan oleh laskar Raden Atmandaru ternyata ampuh untuk mengacaukan baris pertahanan Pedukuhan Janti. Ditambah Ki Garu Wesi yang berkelahi seperti seekor rajawali yang sangat buas. Ia melompat dari dahan ke dahan, menjejak kaki dari satu batang pohon ke pohon yang lain sambil terus menerus mengayunkan senjata yang menggaung dahsyat. Walau pun belum ada seorang pengawal kademangan yang tewas, sekali lagi, cara itu cukup membuat semangat lawannya terkulai lemas.

Menghadapi muslihat perang yang sangat membingungkan itu, Ki Gatrasesa pun tak surut untuk mencari jalan keluar. Setiap kali ia meneriakkan aba-aba, maka tak lama setelah itu, bangun pertahanan pedukuhan berubah. Kadang-kadang bangunan itu kokoh, namun tak jarang perintah Ki Gatrasesa tidak dapat dijalankan. Bukan karena pengawal pedukuhan yang bodoh untuk mengartikan, tetapi kehadiran Ki Garu Wesi yang melayang-layang di atas kepala mereka sanggup mengobrak-abrik rancangan pertahanan.

Tak jarang Ki Garu Wesi mengeluarkan kata-kata yang sanggup mematahkan semangat pengawal kademangan. Sekali waktu ia berteriak lantang, “Apakah Swandaru ada di antara kalian? Sungguh pun Swandaru seorang pemarah dan lelaki pemuja wanita, tapi pada malam ini, aku merindukannya.”

Dari lain tempat, Ki Garu Wesi melanjutkan, “Kalian harus dapat menjaga istri Swandaru dengan sangat baik. Aku tidak keberatan menjadi penerus Swandaru. Hey, jangan kalian marah! Bukankah Swandaru telah berhari-hari lamanya meninggalkan istrinya? Aku pikir wajar bila aku datangi Pandan Wangi di malam hari?”

Kata-kata yang diucapkan Ki Garu Wesi berulang kali di sepanjang garis Wulan Tumanggal telah memporak poranda kekokohan jiwani pengawal kademangan. Penghubung pedukuhan induk pun memerah telinga mendengar suara Ki Garu Wesi yang menggema. ia berkali-kali melihat kelebat Ki Garu Wesi, lalu terucap dalam hatinya, “Bila aku tidak segera menemukan Ki Gatrasesa, aku harus kembali pada Ki Rangga. Orang itu sangat sulit dihentikan meski dikeroyok seratus pengawal.”


Related posts

Kiai Plered 36 -Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 43 – Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman

Kiai Plered 11 – Pedukuhan Janti

Ki Banjar Asman