SuaraKawan.com
Bab 6 Pengepungan

Pengepungan 7

Demikianlah kemudian, keesokan hari, Toh Kuning beserta pasukannya meninggalkan Tumapel. Mereka dilepas oleh Akuwu Tumapel dalam upacara yang meriah. Pasukan khusus Selakurung tiu terlihat gagah dengan pakaian keprajuritan yang lengkap dengan tanda-tanda yang menjadi keistimewaan mereka.

*****

Ketika matahari belum lelah menyinari bumi, tahun terus melangkah dan seringkali ia meninggalkan masa lalu tanpa menoleh lagi ke belakang. Toh Kuning yang menginjak usia  sekitar tiga puluhan masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia bermain-main dengan kuda yang telah dianggapnya seperti kawan yang mengerti kemauannya. Perwira yang lebih tua darinya telah berulang kali mengingatkannya untuk tujuan lain dari kehidupan. Tetapi Toh Kuning selalu menanggapinya dengan senyum tanpa kata-kata. Sekalipun ia sering merasa sendiri namun Gubah Baleman belum lelah untuk menasehatinya.

Musim berganti dengan menyeret angin yang terengah-engah merayap.

Seiring dengan perubahan itu, Toh Kuning semakin jauh setapak demi setapak dari Ken Arok. Terlihat tangan Toh Kuning terkadang mengusap kening. Berat baginya untuk mengabaikan keberadaan Ken Arok yang telah mengguncang tanah Kediri. Berat pula baginya untuk menghilangkan kenangan betapa mereka saling membantu di masa lalu. Kedua lelaki muda itu saling mendukung ketika melewati masa sulit. Pun ketika mereka berada di bawah deras rintik senjata sewaktu menghadang perjalanan saudagar-saudagar kaya. Berdua, mereka telah melintasi banyak lembah dan ngarai, sungai dan hutan demi sebuah tujuan. Impian.

Sebagai sahabat, Toh Kuning dan Ken Arok telah banyak mematrikan janji. Di bawah pohon, di depan batu cadas amupun di ambang jurang. Sungguh, tak mudah bagi Toh Kuning untuk mengingatkan Ken Arok!

Toh Kuning berada di Selakurung pada saat Tumapel digoncang kejadian yang menggetarkan. Gubah Baleman sengaja menahan Toh Kuning agar tetap berada di dalam barak.

“Aku tidak ingin kau gagal saat membagi perhatian. Ken Arok adalah sahabatmu tetapi pembunuhan itu merupakan peristiwa yang tidak dapat disangkal. Jika aku biarkan, mungkin kau akan membawa pasukanmu utnuk memberi hukuman padanya. Namun aku mengerti bahwa kau telah memahami keadaan di Tumapel,” kata Gubah Baleman pada suatu ketika.

Toh Kuning tidak memberi tanggapan atas ucapan Gubah Baleman. Mereka berdua duduk berhadapan di bilik khusus Ki Rangga Gubah Baleman. Kegelisahan merambat dan merasuk makin jauh ke dalam hati Toh Kuning. Ia sulit memahami betapa Ken Arok telah membunuh Tunggul Ametung tetapi tidak ada sikap keras dari Kediri untuk memberi peringatan pada Tumapel!

Sikap duduk Toh Kuning dapat dimengerti oleh Ki Gubah Baleman, kemudian ucapnya, ”Katakan apa yang  menjadikanmu gelisah!”

Toh Kuning mengalihkan tatap matanya keluar jendela. Ia kemudian menyandarkan punggung lalu berkata, ”Diamnya Sri Baginda atas kematian Tunggul Ametung adalah persoalan yang mengganjal dalam hati saya, Ki Rangga.”

Gubah Baleman memandangnya penuh perhatian. Ia telah menganggap Toh Kuning seperti anak sendiri dan ia menghargai usaha keras Toh Kuning dalam meraih kepercayaan dari seluruh anggota pasukan khusus. Kegigihan Toh Kuning dalam mempertahankan pendapat dan kecakapannya dalam siasat perang memberi nilai lebih dalam pandangan Gubah Baleman. Oleh karena itu, Gubah Baleman tidak ingin Toh Kuning kehilangan arah maka ia pun menyediakan waktu agar dapat berbicara tanpa ada gangguan dengan lelaki muda berkepandaian tinggi itu.

“Kau dapat berkata terus terang padaku, Ngger,”pinta Gubah Baleman.

Toh Kuning menganggukkan kepala lalu katanya, ”Sri Baginda tidak seharusnya membiarkan kematian Tunggul Ametung berlalu begitu saja tanpa ada penyelesaian. Setidaknya Sri Baginda dapat memaksa Ken Arok menyatakan penyesalan. Namun aku tidak mendengar adanya usaha dari Sri Baginda.” Dengan dada berdebar karena khawatir terjadi salah paham, lantas Toh Kuning melanjutkan, ”Sri Baginda dapat menugaskan Ki Rangga untuk memberi teguran pada Ken Arok, maksud saya, Sri Baginda tidak perlu menghentikan upaya penyelidikan dan penegakkan hukum atas perbuatan akuwu yang sekarang.”

Kehangatan yang dibangun Gubah Baleman di dalam barak menjadikan Toh Kuning merasa nyaman sehingga dalam hati ia menempatkan pimpinannya itu seperti ayahnya. Senyum Gubah Baleman sedikit menjadi penawar kegelisahan Toh Kuning, lalu katanya, ”Sri Baginda mempunyai alasan kuat dengan pembiaran itu, Ngger.”


Related posts

Pengepungan 8

Ki Banjar Asman

Pengepungan 4

Ki Banjar Asman

Pengepungan 5

Ki Banjar Asman