SuaraKawan.com
Bab 6 Lembah Merbabu

Lembah Merbabu 22

Langkah Pangeran Parikesit terhenti saat  mendengar teriakan kasar Rambesaji, ia berpaling lalu menatap wajah Rambesaji sejenak. Sang pangeran hanya melepaskan senyum kecil padanya, namun bagi Rambesaji senyum Pangeran Parikesit diterimanya sebagai sebuah ejekan yang luar biasa. Seiring langkah pangeran yang menjauhinya, Rambesaji tiada henti mengeluarkan kata-kata kasar.

“Lihat dirimu sekarang! Kau begitu mudah memohon ampun dan meminta maaf lalu kau akan melupakan segalanya ketika kau telah mendapatkan pengampunan,” Pangeran Parikesit menghela napas, lalu, ”dan kau juga perlu untuk tahu bahwa aku masih mengejar dan mencari orang yang telah mendobrak bilik khusus Ki Ageng Pengging. Ada kemungkinan atau bahkan telah menjadi sebuah kepastian bahwa kau belajar dari orang yang memasuki bilik Ki Ageng Pengging. Bila tidak dapat dikatakan biadab, apakah kau mempunyai sebutan yang tepat bagi orang yang menerobos bilik dari sebuah rumah ketika seluruh penghuni rumah itu sedang bersiap untuk merawat jasad Ki Ageng Pengging?”

Hiruk pikuk perkelahian telah meninggalkan tempat. Suasana pun mencekam karena suara Pangeran Parikesit begitu dingin dan penuh wibawa!

“Jawab, Batara Keling!” suara Pangeran Parikesit terdengar bagai halilintar yang meledakkan udara di angkasa. Terbayang kembali dalam ingatannya ketika banyak orang sedang berkhidmat dalam penghormatan terakhir untuk kepergian Ki Ageng Pengging, seseorang menerobos memasuki kediaman lalu meninggalkan kekacauan yang belum terselesaikan hingga Batara Keling tunduk di hadapannya.

Usianya yang kurang lebih sekitar seabad seolah tidak memberi pengaruh pada kekuatan wadag Pangeran Parikesit. Tidak terlihat rasa lelah pada Pangeran Parikesit meskipun telah melewati perjalanan dan peristiwa yang sangat menguras tenaga, termasuk pertarungannya dengan Batara Keling. Denyut napasnya masih teratur dan tidak tampak darinya tanda-tanda kemunduran. Ia berhenti tiga langkah di depan Batara Keling yang bertopang lutut, Pangeran Parikesit berdiri dengan sorot mata  menggetarkan. Ia berkata dengan nada datar dan wajah membeku, ”Di manakah sesembahanmu sekarang, Batara Keling?”

Dengus napas tidak teratur terdengar dari Batara Keling, peluh yang membasahi wajahnya membuatnya semakin kusam karena debu yang melekat. Lalu bibir Batara Keling menggetar,”Apa pedulimu?”

“Bukankah telah berkata bahwa denyut jantungmu yang masih berdetak hingga saat ini adalah wujud kasih Tuhan padamu? Lalu apakah Ia telah meninggalkanmu ketika aku memutus riwayatmu pada malam ini?” wibawa yang luar biasa memancar dari dalam diri Pangeran Parikesit. Batara Keling tak mampu membalas tatap mata sang pangeran yang seolah mengorek segala isi hatinya.

“Mengapa kau tiba-tiba menjadi bisu?”

Batara Keling mendengus lalu membuang pandangnya ke lain arah. Ia seperti dicekam perasaan yang sanggup menggetarkan kulitnya. Selintas terbayang kematian dan ia tidak mengerti, apakah perasaan itu adalah sebuah ketakutan atau rasa cemas yang berlebihan?  Namun ia mengerti kenyataan yang dihadapinya adalah selembar nyawa yang terkandung benar-benar berada di ujung jari Pangeran Parikesit. Tanpa mampu ia sembunyikan meski dalam malam yang pekat, wajah pucat Batara Keling terlihat jelas di mata Pangeran Parikesit.

“Aku tahu bahwa Tuhanmu telah meninggalkanmu sebagai anugerah untukku,” berkata Pangeran Parikesit.” Ia tidak akan kembali untukmu, bukankah kau pun berpikir seperti itu?”

Lagi-lagi Batara Keling tidak dapat menjawab, ia hanya merasa bahwa kengerian kini merambat pelan dalam dadanya. Meskipun ia ingin membalas ucapan sang pangeran, tetapi tenggorokan Batara Keling seperti tersumbat dan seolah ia merasakan dadanya hampir saja meledak.

“Katakanlah, Batara Keling!” perintah Pangeran Parikesit. Sekilas ia mengerling pada Rambesaji yang masih terbaring tanpa daya, Pangeran Parikesit melangkah setapak maju lalu katanya, ”Apabila kau sama sekali tidak menyatakan keberatan, maka aku telah memutuskan hukuman kepadamu.” Sejenak Pangeran Parikesit memejamkan mata dengan wajah tengadah. Lalu ia bergumam pelan, ”Tentu angger Adipati telah berada dalam kepungan kawananmu, tetapi aku yakin angger Adipati akan mampu mengatasinya terlebih angger Getas Pendawa pasti mampu menyusulnya. Namun, siapakah yang dapat membawamu lepas dari tanganku?”


Related posts

Lembah Merbabu 29

Ki Banjar Asman

Lembah Merbabu 16

Ki Banjar Asman

Lembah Merbabu 9

Ki Banjar Asman