SuaraKawan.com
Suara Sejarah

Pertempuran 10 November 1945 Ancen Sangar, Rek! (4-Selesai)

Pernyataan Moehkardi tentu saja bukan isapan jempol semata. Des Alwi, pelaku Pertempuran Surabaya, mengisahkan bagaimana mulai 10 November 1945 para pelaku bom bunuh diri mulai berkeliaran di seluruh wilayah palagan. Menjelang tengah malam, mereka yang terdiri dari anak-anak muda fanatik dan hanya bersenjatakan granat melakukan penyergapan massal terhadap tank-tank Inggris yang mulai keluar dari sarangnya.

“Mereka ramai-ramai menaiki tank-tank tersebut, membuka kanopi-nya dan langsung menerjunkan diri masuk ke dalam tank: meledakan seluruh isinya, termasuk diri mereka,” ungkap Des Alwi dalam Pertempuran Surabaya November 1945.

Des juga masih ingat ketika sekumpulan serdadu Inggris yang mungkin beragama Islam terkepung oleh para pejuang Indonesia. Secara histeris dan panik mereka berteriak-teriak “Allahu Akbar”. Namun massa yang marah dan mengira mereka meneriakan takbir hanya untuk mencari selamat, tak lagi peduli: semua terbantai dalam sekejap.

Sementara itu guna membungkam artileri para pejuang Indonesia yang terus menyalak, para serdadu Inggris membakar sekaligus membombardir sejumlah perkampungan penduduk yang padat seperti Pengampon, Pasar Turi, Kapasan, Semoet, Djagalan, Paneleh, Pasar Kembang, Tamarind Laan, Pasar Besar, Kebalen dan beberapa kampung lainnya.

“Ratusan jasad yang terdiri dari manusia dan binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kucing dan anjing bergelimpangan tanpa nyawa di jalanan,” kisah veteran Pertempuran Surabaya Letnan Kolonel (Purn) Moekajat pada 2010.

Praktis gang-gang di perkampungan itu musnah. Penduduknya yang masih hidup kocar-kacir sambil berusaha menyelamatkan nyawa mereka tanpa bisa membawa harta secuil pun.

Saksi lain, Suhario Padmodiwiryo alias Hario Kecik mengenang bagaimana saat dia dan pasukannya menghindari tembakan-tembakan artileri Inggris, di jalan menuju Bioskop Flora dia berpapasan dengan dua perempuan dan seorang lelaki tua.

“Semula saya kira pria itu menggendong bayi, ternyata yang dipegang adalah ususnya yang keluar dari perut. Melihat pemandangan itu, salah seorang pejuang yang mengikuti saya muntah,” kenang Hario Kecik dalam otobiografinya, Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit.

Selain duel artileri, tidak jarang terjadi perkelahian brutal satu lawan satu di tengah gang, jalanan dan bahkan di balik reruntuhan bangunan. Hario ingat beberapa hari sebelum meletus Peristiwa 10 November 1945, dia pernah tak berdaya mencegah gerombolan massa mengambil puluhan serdadu Inggris yang menyerah dari tangan pasukannya. Secara brutal, seluruh prajurit Inggris itu disembelih dan dipenggal di atas sebuah jembatan tua.

“Seorang yang berbadan kecil maju ke arah saya, dan dengan wajah merah dan suara serak meminta agar saya meminjamkan pedang. Tampak senyuman sadis pada wajahnya. Tangannya memegang pedang berlumuran darah. Pedang itu bengkok, mungkin karena kualitas bajanya yang rendah dan tidak tahan untuk memotong tulang,” tutur Hario Kecik.

Pertempuran Surabaya memang merupakan salah satu episode paling heroik, mencekam sekaligus brutal dalam sejarah pasca Perang Dunia II. Akibat Inggris bersikeras untuk tetap setia kepada Perjanjian Potsdam, di ujung Desember 1945 mereka harus kehilangan sekira 1.500 serdadu nya (termasuk di dalamnya dua perwira terkemuka berpangkat brigadir). Jumlah orang Indonesia yang gugur dalam peristiwa itu sendiri diperkirakan berjumlah sekira 16.000 jiwa. (HT)


Related posts

Pertempuran 10 November 1945 Ancen Sangar, Rek! (2)

Redaksi Surabaya

Pertempuran 10 November 1945 Ancen Sangar, Rek! (3)

Redaksi Surabaya

Jember Bukan Nama Asal Catut

Redaksi Surabaya