SuaraKawan.com
Bab 1 Bulan Telanjang

Bulan Telanjang 4

Han Rudhapaksa memandang lekat wajahku. Aku merasakan getaran janggal ketika bola mata kakek terlihat membesar, lalu tiba-tiba kembali wajar. Semacam kengerian merasuki jiwaku, namun mendadak berubah menjadi kegembiraan. Bagaimana mungkin dengan beradu pandang lalu bermacam perasaan mampu mengaduk suasana hatiku? Aku tidak mengerti.

Han Rudhapaksa memandang lekat wajahku. Kemudian bibirnya bergetar, ia berkata, “Aku mendapatkan kisah ini dari ayahku.”

Aku mendengar ucapannya tetapi aku tidak berada di sana.

Han Rudhapaksa memandang lekat wajahku. Kemudian bibirnya bergetar, ia bersuara, “Ketika itu ayahku bercerita pada waktu yang sama dengan yang kita lakukan saat ini. Di tempat yang sama dan duduk berhadapan tanpa suara. Ayahku berkata, ‘Dua tahun silam, seseorang telah dihukum karena satu perbuatan. Ia memaksakan hubungan yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang lelaki yang telah beristri.’

“Aku mengerutkan kening, tidak mengerti maksud ucapan ayahku. Lalu aku bertanya, ‘Apa yang terjadi, Ayah?’

“Ayahku menjawab, ‘Waktu itu, sang hyang chandra begitu bersih dan terang. Lelaki itu menerobos batas yang telah ditentukan oleh para rama. Ia mengucapkan kalimat-kalimat pada beberapa perempuan yang bertelanjang dada. Tidak seorang pun dapat memastikan kata-katanya. Hingga sekarang, ucapannya masih menjadi bagian yang rapat tersembunyi di wilayah ini. Mungkin juga belum dapat terkuak hingga waktumu tiba. Tidak seorang pun tahu bagaimana perempuan berjalan, keluar dari sungai lalu mendaki jalan setapak di utara sungai. Yang kami tahu, yang kami alami dan saksikan adalah tiba-tiba sang hyang chandra menghilang!’

“Aku mengerutkan kening, tidak mengerti maksud kata menghilang yang diucapkan ayahku.

“Ayahku belum keluar dari kisahnya, katanya, ‘Benar. Aku adalah seorang rama yang muda usia pada masa itu. Suasana di sekitar sungai menjadi ramai dengan suara ramai orang berteriak. Mereka bertanya-tanya tetapi tidak ada satu orang pun yang menjawab. Permukaan sungai yang awalnya berkilau lalu menjadi gelap. Tidak ada yang dapat aku lakukan waktu itu. Ayah hanya mampu mendongak dan menatap langit yang beralih menjadi lembaran gelap. Bintang telah bertabir selimut kelam. Benar-benar gelap dan mengerikan! Aku tidak dapat melihat telapak tanganku sendiri. Berjalan selangkah pun, aku tak berani. Keadaan sangat mencekam. Udara dipenuhi oleh teriakan-teriakan amarah. Aku mendengar orang menjerit, menangis, ada pula orang yang bicara keras-keras tanpa makna.’

“Aku mengerutkan kening. Gelap dan kelam adalah gambar yang berada di dalam benakku.

“Ayahku masih berkata-kata, ‘Ketika kaki langit mulai menampakkan diri dengan tapak tangan berwarna merah, barulah, aku dapat menyaksikan keadaan orang-orang. Seorang perempuan bersandar beku pada sebongkah batu. Seorang lagi menekuk perut hingga rapat dengan lututnya, dan dia membeku! Tiba-tiba suara parau seorang lelaki terdengar dari dalam daerah pantangan. Tahukah kamu, Han? Lelaki yang menerobos wilayah larangan itu keluar dengan bagian bawah tubuhnya hanya belulang!’

“Aku bergumam, ‘Belulang?

“Ayahku memastikan, ‘Benar. Dia berjalan dengan kerangka, sementara tubuh bagian atasnya masih sempurna.’”

Han Rudhapaksa mengangkat wajah menantang langit. Ia berkata kemudian, “Mari, kita turun ke sungai. Yang harus engkau penuhi adalah selalu memperhatikan batas-batas yang ditentukan rama.”

Aku adalah Dyah Prabandari yang lahir pada saat walang sangit telah berlalu dari wanua. Mendengarkan kisah kakekku, aku dapat membayangkan betapa meresahkan ketika lelaki bertulang pinggang itu melenggang menyisir jalan-jalan di wanua.

“Apakah aku akan mengikuti jalan lelaki bertulang?” tanyaku sendiri. Selontar pertanyaan keluar dari bibirku, “Lalu bagaimana nasib perempuan yang bersamanya?”

“Ia kehilangan payudara.”

Sontak aku meraba dua buah dadaku. Ketika aku meremas payudaraku, maka terasalah dagingnya belum menggumpal. Putingku masih berukuran sepucuk jari kelingking. “Masih ada,” ucapkau lirih, “sekalipun rata, setidaknya aku masih memiliki buah dada dengan putingnya.”

Han Rudhapaksa tertawa lalu cemberut ketika memandangku. Oh, lelaki renta ini mendengar ucapanku, tetapi aku tak perlu malu. Han Rudhapaksa adalah kakekku.


Related posts

Bulan Telanjang 15

Ki Banjar Asman

Bulan Telanjang 7

Ki Banjar Asman

Bulan Telanjang 13

Ki Banjar Asman