SuaraKawan.com
Bab 4 Perwira

Perwira 6

“Ya,” orang pertama itu memandang Toh Kuning dengan dahi berkerut, ”dan aku dibebaskan setahun yang lalu.” Kedua kawannya menatap lurus padanya. Lalu ia berkata lagi, ”Aku tidak begitu yakin sebenarnya. Tapi sudahlah, andai ia memang benar pernah aku lihat di Alas Kawitan berarti ia seorang penjahat.”

“Mungkin saja,” kata orang bergelang emas, ”seperti kita semua yang juga pernah menjadi orang jahat.”

Lalu ketiganya kembali tenggelam menikmati makanan dan minuman di siang hari yang cukup terik.

Ketika Toh Kuning mendengar Alas Kawitan dan seseorang terdengar seperti mengenalinya, maka Toh Kuning merenung untuk sesaat. Kemudian ia berkata pada dirinya sendiri, ”Jika ia adalah pengikut Ki Ranu Welang, mungkin ia tidak akan mengenaliku terlalu dekat. Meski begitu keberadaannya di tempat ini harus tetap mendapat pengawasan.”

Selanjutnya Toh Kuning tidak mendengar perkataan yang dapat dijadikannya sebagai petunjuk untuk menyelidiki peristiwa Bukit Katu. Agar tidak menjadi kecurigaan dari orang-orang yang sedang diintainya, Toh Kuning dan Jerabang bergegas mengakhiri keperluannya. Toh Kuning segera berjalan keluar kedai dan membawa kudanya menjauh.

“Apakah mungkin mereka adalah orang-orang yang membantai para prajurit Kediri, Toh Kuning?” bertanya Jerabang saat mereka membeli wedang jahe dan kelapa manis di bawah pohon beringin besar yang tumbuh di dekat tugu kecil batas pedukuhan.

“Tidak mudah untuk menjawabnya. Jika kita menilai dari pakaian dan sikap mereka yang kasar tentu saja kita telah berbuat salah,” jawab Toh Kuning. Ia bergeser tempat duduk lalu berkata, ”Pedukuhan ini adalah wilayah tenang. Begitu pula Tumapel sekalipun Akuwu Tunggul Ametung dikabarkan sering bersikap melebihi raja, namun kita tidak dapat melakukan tindakan yang membahayakan siapapun.”

Kemudian ia bergumam, “Persoalan ini mempunyai kekhususan tersendiri. Agaknya Ki Rangga Gubah Baleman berharap agar kita dapat menguak tabir tanpa membuat kekacauan di permukaan. Sehingga penduduk tidak mengetahui apa yang sedang terjadi hingga persoalan telah tuntas diselesaikan.”

Jerabang mengerti jika kesalahan dalam mengambil keputusan tentu akan menyinggung kehormatan Tumapel. Akuwu Tunggul Ametung akan merasa dilecehkan karena tidak ada yang melaporkan kegiatan para prajurit Kediri yang sedang dalam tugas khusus. Sehingga apabila kehadiran mereka kemudian diketahui olehnya, maka Tunggul Ametung akan mengerahkan prajuritnya secara terang-terangan. Dan para prajurit satuan khusus akan mengalami kesulitan untuk melakukan rencana mereka lebih lanjut. Apalagi jika Tunggul Ametung menjadi marah dan memutar balik kenyataan dengan menuding prajurit Kediri telah bersikap semena-mena di wilayahnya, maka Sri Baginda Kertajaya akan dengan mudah membubarkan satuan khusus.

Toh Kuning dapat mengerti tingkat hubungan antara Akuwu Tunggul Ametung dengan Sri Baginda Kertajaya, maka ia ia bersikap hati-hati dalam memutuskan dan bertindak.

“Jerabang,” berkata Toh Kuning, ”kita akan mengikuti mereka hingga esok hari. Dan jika kita mempunyai petunjuk yang dapat menuntun kecurigaan bahwa mereka adalah tersangka, maka kau harus memberikan kabar pada kawan-kawan.”

Toh Kuning menjelaskan cara mereka untuk menghubungi kelompok lain dalam waktu singkat. Jerabang akan menemui kelompok pertama yang mengawasi sisi selatan Jalur Banengan, lalu ia dan seorang lagi akan menghubungi yang lain dan seterusnya. Sehingga orang yang menjadi pemimpin kelompok dapat langsung menuju tempat yang ditentukan Toh Kuning untuk berkumpul.

Jerabang mengangguk-angguk. Ia berkata kemudian, ”Toh Kuning, berarti kita harus menemukan jalan masuk. Mungkin mereka mengenalimu tetapi mungkin juga mereka tidak tahu jika kau sekarang telah berbeda sama sekali dari masa lalu.”

Toh menyahut pendek,”Ya.”

Tetapi saat itu Jerabang seperti tidak memperhatikan Toh Kuning. Ia seolah berada di tempat lain dan melihat sesuatu yang mempunyai daya tarik sangat besar.

“Apakah kau telah mempunyai tambatan hati, Jerabang?” tersenyum Toh Kuning sambil melemparkan sebatang rumput ke wajah Jerabang. Ia mengulangi pertanyaannya ketika Jerabang tidak memperhatikan padanya.


Related posts

Perwira 2

Ki Banjar Asman

Perwira 7

Ki Banjar Asman

Perwira 8

Ki Banjar Asman