SuaraKawan.com
Bab 4 Perwira

Perwira 3

Malam semakin larut dalam kepekatan ketika mereka mengambil keputusan terakhir. Selanjutnya para perwira itu mengumpulkan prajurit yang terpilih pada bangsal yang berada di samping gudang senjata.

“Kalian harus melakukan pengamatan dengan cermat. Kalian tidak perlu menunjukkan tanda-tanda keprajuritan di segala tempat dan waktu. Kalian harus mampu membaur dan menyamar seperti orang biasa,” Ki Rangga Gubah Baleman berpesan ketika mereka telah berkumpul di  bangsal. Ia menoleh kepada Toh Kuning lalu katanya, ”Aku kira sudah cukup tentang yang aku ingin katakan pada kalian. Selanjutnya adalah tugasmu untuk mengatur siasat dan apapun yang berhubungan dengan tugas barumu.”

Secara singkat Toh Kuning mengatakan betapa penting dan berat  tugas yang menjadi tanggung jawab baru mereka. Ia juga berkata, ”Agar tidak ada keraguan dalam diri kita masing-masing, maka aku ingin mengingatkan bahwa seorang prajurit berbeda dengan orang-orang yang berada di dalam perguruan. Kita mempunyai landasan serta alasan untuk menjaga keselamatan orang lain, begitu pula setiap perguruan. Dan aku rasa kalian juga mengerti tentang perbedaan itu karena kita berasal dari perguruan-perguruan yang ada di Kediri. Jadi aku tegaskan bahwa aku akan bersikap selayaknya seorang prajurit meskipun aku harus melawan saudara seperguruanku sendiri. Dan bagi kalian yang mempunyai keraguan untuk dapat bersikap sama persis denganku, aku persilahkan mundur sekarang juga.”

Para perwira yang mendengarkan kata-kata Toh Kuning mengagumi cara berpikir Toh Kuning. Namun jantung mereka juga berdentang kencang ketika mendengar ucapan Toh Kuning. Satu dua orang kemudian mengundurkan diri dari satuan khusus itu.

“Kau benar, Ki Lurah. Aku berusia lebih tua darimu dan aku lebih dulu menjadi prajurit darimu. Namun kau dapat membuka pikiran kami mengenai sikap seorang prajurit. Dan aku tidak mampu melawan orang yang berasal dari perguruanku,” kata seseorang yang berpakaian lengan panjang sambil melangkah maju. Dua orang kemudian mengikuti perbuatannya.

“Aku dapat menerima keberatan kalian, dan aku minta kalian untuk tetap berada dalam barak sebagai orang yang akan menghubungkan kami dengan Ki Gubah Baleman,” kata Toh Kuning setelah menerima keberatan dari prajurit yang akhirnya memilih mundur. Ketiga orang itu menganggukkan kepala kemudian mereka melangkah memasuki kelompok petugas penghubung.

Di bawah kendali Toh Kuning, satuan khusus itu kemudian minta diri. Mereka akan berpasangan dua orang dan segera menyebar setelah berada di luar lingkungan barak pasukan Selakurung. Mereka mempunyai kewajiban untuk mencegah pembunuhan di pelataran bukit Katu itu menjalar ke banyak wilayah di Kediri.

Maka demikianlah satuan khusus itu segera menyisir jalan-jalan dan lorong-lorong hutan, membuat gambaran-gambaran kasar sebagai bahan bagi Toh Kuning. Dua pekan lagi mereka akan berkumpul di bukit Katu. Dan dalam masa dua pekan itu, Toh Kuning akan tetap menghubungi mereka dengan cara-cara yang telah mereka sepakati ketika berada di bangsal prajurit.

Toh Kuning segera memacu kuda bersama seorang prajurit menuju Tumapel. Ia akan memulai penyelidikan dari daerah yang memang telah dikenalnya dengan sangat baik. Ia akan menemui dan berbicara dengan orang yang sangat mengenal Tumapel seperti mengenal dirinya sendiri, Ken Arok. Perjalanan itu seolah menjadi bukti daya tahan prajurit Kediri memang berada di atas rata-rata. Meskipun semalam suntuk keduanya tidak memejamkan mata dan harus membuat persiapan-persiapan, namun mereka tidak merasa lelah setelah menempuh satu hari perjalanan.

Setelah bermalam di tepi sebuah pedukuhan Toh Kuning beserta kawannya kembali meneruskan perjalanan. Tatkala matahari telah naik setinggi batang alang-alang, gerbang kota Tumapel telah terlihat jelas di depan mereka.

“Kita tidak masuk ke dalam kota,” kata Toh Kuning. Kawannya memandang dengan kening berkerut.

“Di sebelah utara kota ada sebuah ladang yang luas. Kita akan tinggal di sana selama kita menjalankan tugas, Pamekas,” Toh Kuning menunjuk pada sebuah jalan menyimpang. Lantas mereka berdua memacu kuda lebih cepat agar tidak terhalang oleh kesibukan orang-orang yang mulai memenuhi jalanan.


Related posts

Perwira 8

Ki Banjar Asman

Perwira 6

Ki Banjar Asman

Perwira 2

Ki Banjar Asman