SuaraKawan.com
Bab 3 Pangeran Benawa

Pangeran Benawa 1

Lelaki muda itu berjalan dengan langkah lebar mencapai padepokan tempat Ki Buyut Mimbasara membimbing Jaka Wening. Sorot mata yang memantulkan ketegasan tidak mampu menyamarkan rasa pedih yang tersimpan di dalam dadanya. Rahang lelaki muda itu sedikit mengeras ketika kakinya hampir menapak masuk halaman padepokan. Sejenak ia berhenti melangkahkan kaki lalu perlahan membuka pintu regol padepokan.

“Kakek!” seru lelaki muda itu memanggil Ki Buyut Mimbasara.

Sesaat Ki Buyut melihat ke arah suara kemudian berkata pada anak lelaki yang berada di depannya, ”Jaka Wening, tetap lanjutkan apa yang kakek ajarkan pagi ini. Aku akan temui pamanmu dan kau lanjutkan latihan hari ini sesuai petunjuk kakek.”

Jaka Wening menganggukkan kepala dan berkata, ”Baik, Ki Buyut.”

Ki Buyut Mimbasara berjalan menghampiri lelaki muda yang berdiri beberapa belas langkah dari Jaka Wening.

“Angger Arya Penangsang, aku tidak menyangka jika kau akhirnya datang mengunjungi padepokan yang didirikan oleh salah satu anak Prabu Brawijaya.” Ki Buyut mengulurkan tangan menyambut Arya Penangsang.

“Memang pada hari ini saya kira tidak ada kesibukan di sekitar Adimas Hadiwijaya,” ia berkata lalu mengikuti Ki Buyut Mimbasara yang mengajaknya berbincang di bawah pohon ketapang. Arya Penangsang kemudian berkata lagi, ”Ki Buyut ternyata mempunyai cita rasa tinggi dalam menata padepokan. Saya melihatnya dari bangunan dan taman yang tertata rapi dan sepertinya lingkungan ini tidak seperti sebuah padepokan.”

“Lalu seperti apa?” bertanya Ki Buyut dengan mengembangkan senyum.

“Seperti istana raja,” tawa kecil Arya Penangsang menutup kalimat pendek yang ia ucapkan. Lalu ia bertanya, ”Apakah Kakek masih menjadikan cambuk sebagai senjata utama di padepokan?”

“Benar, Ngger. Pada mulanya cambuk bukanlah senjata utama yang harus dikuasai oleh setiap orang yang belajar di sini. Tetapi garis penerus yang kedua akhirnya mengembangkan pengetahuan, lalu, seperti yang kau saksikan hari ini bahwa cambuk telah menjadi ciri khusus padepokan,” jawab Ki Buyut Mimbasara.

“Ya, saya dapat melihatnya,” berkata Arya Penangsang. Kemudian untuk beberapa lama ia berdiam diri. Dalam sekejap Ki Buyut Mimbasara telah mampu menangkap kegelisahan yang menyusup di relung jiwa Arya Penangsang.

“Peristiwa apakah yang terjadi di kraton Pajang hingga aku dapat merasakan hatimu yang tidak menentu?” Ki Buyut Mimbasara berdiri tegak menghadap Arya Penangsang dengan pandang mata menyelidik.

“Saya mendengar dari kakang Hadiwijaya bahwa paman Trenggana berencana menyerang wilayah timur. Beberapa waktu yang lalu, saya adalah orang ketiga ketika kakang adipati berbicara dengan Ki Suradilaga,” jawab Arya Penangsang beberapa lama kemudian. Terdengar olehnya Ki Buyut Mimbasara menarik napas panjang. Lalu ia bertanya, ”Apakah Ki Buyut belum mendengar kabar berita itu?”

“Aku mengetahui kehadiran utusan dari Demak ketika keris Sabuk Inten sempat dikeluarkan dari selongsongnya oleh angger Hadiwijaya. Maka dengan begitu, Raden Trenggana telah diwakili sepenuhnya oleh Ki Tumenggung Suradilaga. Dan tentu saja aku telah mendengar kabar berita itu. Namun aku belum sempat memastikan berita itu pada angger Hadiwijaya. Sebagai seorang raja, aku kira Raden Trenggana telah menimbang rencana itu dengan masak,” jawab Ki Buyut.

“Dan yang pasti adalah saya tidak dapat menilai keputusan paman mengenai rencana itu, Ki Buyut. Namun saya menyayangkan kalau pada akhirnya pertumpahan darah kembali terjadi.” Mata Arya Penangsang menatap jauh kaki langit. Seolah ia sedang menerawang masa depan. Ia mendesah pelan lalu berkata, ”Saat merasa gelap dan kelam, saya sering berpikir bahwa kedudukan Jipang sebenarnya tidak layak bagi saya.”

Ki Buyut menarik napas dalam-dalam. Ia adalah orang yang seringkali menjadi pendengar yang baik bagi segala keluh kesah Adipati Arya Penangsang. Dalam hatinya, ia dapat merasakan kegetiran hati seorang lelaki muda yang terkadang terlihat sangat jauh untuk dijangkaunya.

“Kita semua tentu berharap kekerasan tidak akan pernah terjadi, meskipun kita juga tahu jika harapan tidak selalu dapat sejalan dengan perencanaan, Ngger.” Ki Buyut bergeser setapak. Kini mereka berdua berdiri menghadap sebuah gunung yang menjulang tinggi jauh di depan mereka. Ia bertanya kemudian, ”Kau telah cukup lama berada di Pajang. Kapan kau berencana kembali pulang?”


Related posts

Pangeran Benawa 2

Ki Banjar Asman

Pangeran Benawa 3

Ki Banjar Asman

Pangeran Benawa 5

Ki Banjar Asman