SuaraKawan.com
Bab 2 Sampai Jumpa, Ken Arok!

Sampai Jumpa, Ken Arok! 14

Toh Kuning terkejut ketika merasakan rasa pedih yang menembus kain bajunya. Ia sebenarnya telah mengukur kekuatan ilmu Mahendra tetapi tidak mengira sambaran angin tendangan Mahendra dapat menembus daya tahannya. Dan  kini Toh Kuning berusaha mendesak Mahendra dengan serangan yang datang bergulung-gulung. Mahendra telah mendapatkan gambaran kehebatan Toh Kuning tidak memandang dengan sebelah mata. Ia sadar bahwa tidak mungkin bertarung setengah hati. Mahendra merasa bahwa ia harus mengerahkan seluruh kepandaian dan kecepatannya untuk membendung arus serangan Toh Kuning.

Pada saat itu, Toh Kuning menggunakan bagian ilmu yang dipelajarinya secara khusus dari seorang brahmana untuk pengobatan. Kemudian ia mengembangkan ilmu itu hingga dapat menggunakan jari-jarinya sebagai senjata yang dapat merusak jaringan tubuh lawannya. Setiap sentuhan ujung jemarinya mampu mengantarkan lawannya ke gerbang negeri kematian. Toh Kuning sungguh-sungguh telah mengetahui setiap simpul syaraf dan urat yang berkekuatan sebagai perusak dari dalam tubuh. Pengetahuan dari Begawan Purna Bidaran semakin membuatnya kaya dengan ragam gerak, keadaaan itu menjadikannya sebagai pemuda yang sulit ditandingi oleh mereka yang seusia dengannya.

Tetapi lawan Toh Kuning bukan seseorang yang baru mengenal pertarungan tetapi dia adalah Mahendra. Lelaki bertubuh tinggi besar ini perlahan mulai dapat menyerap dasar ilmu Toh Kuning, kini ia dapat membuat seimbang kedudukan dan mulai membalas serangan tiada henti dari Toh Kuning.

Kedua orang ini kemudian terlibat dalam pergumulan yang seimbang dengan gerakan yang aneh dan sukar diduga perkembangannya.

Diam-diam Mahendra menaruh rasa kagum, bahkan sesekali mengendurkan serangannya untuk melakukan pengamatan terhadap olah gerak Toh Kuning.

“Dalam usia begini muda dan mungkin seusia dengan anakku, pemuda ini telah menguasai olah gerak yang sangat tinggi dan tenaga inti yang sedemikian hebat dan menggetarkan. Tetapi sangat disayangkan jika ia akhirnya mati muda dalam kejahatan,” Mahendra membatin.

Mereka saling mengagumi dalam hati masing-masing.

Toh Kuning memuji dalam hatinya bahwa lawannya merupakan orang yang matang dalam pertarungan hidup mati. Ia telah banyak bertemu dan berkelahi dengan banyak orang berkepandaian tinggi untuk meluaskan wilayahnya, namun Toh Kuning merasakan kekuatan yang tersembunyi dalam setiap gerak Mahendra.

Benar-benar berbeda dari orang-orang yang pernah aku lawan sebelumnya, pikir Toh Kuning.

Tubuh Mahendra berkelebat ke segala arah. Sedangkan tangan dan kaki memainkan olah gerak yang hanya dikuasai oleh orang-orang padepokan atau setingkat guru besar.

Toh Kuning yang bersenjata keris menggeser tubuh dengan langkah-langkah kaki yang tersusun seperti sebuah aksara. Ayun tangannya yang mengenggam keris  terlihat mantap dan menyiratkan kedalaman ilmu yang dimilikinya. Ketika bergeser selangkah, ujung keris Toh Kuning mendapatkan celah dan mematuk lambung.

Tetapi Mahendra mampu menghindar dengan memutar tubuhnya, lalu ia membenturkan tombak pendeknya untuk menangkis serangan Toh Kuning.

Meskipun Mahendra dapat memperkirakan kekuatan tenaga Toh Kuning, ia masih saja terkejut ketika senjatanya beradu sangat keras. Tombak pendek Mahendra nyaris terlepas dari genggaman, tangannya tergetar hebat dan terasa hingga pangkal lengan. Sekejap kemudian ia bergeser dua langkah ke samping dan cepat menguasai keadaan.

Pertempuran keduanya berlangsung semakin seru dan semakin cepat. Mahendra kemudian menyadari jika lawannya itu mempunyai kelebihan beberapa tingkat melebihi dugaannya. Serangan Toh Kuning semakin cepat dan kuat sehingga Mahendra menjadi terdesak. Namun Mahendra adalah orang yang gigih dan ulet, maka ia berjuang keras meskipun ia menghadapi kenyataan apabila Toh Kuning berkelahi dengan cara yang sulit untuk dilawan.

Tiba-tiba terdengar sorak sorai sekelompok orang berseragam datang memasuki arena pertempuran. Kata-kata yang membangkitkan semangat serempak terucap dari orang-orang yang  masih menyimpan senjata masing-masing.Perisai dan tombak yang beradu dentang semakin menggelorakan nyala yang seolah mengatakan ‘kami datang untuk menang.’

Toh Kuning meloncat surut lalu melihat Mahendra yang memandangnya dengan senyum mengembang. Raut wajah Toh Kuning berubah manakala dua matanya melihat kelompok yang baru datang itu adalah prajurit Kediri. Dadanya berdesir dan darahnya mengalir kencang. Ketegangan segera menjulur lalu mencengkeram Toh Kuning. Ia menabar pandang. Sekarang, ia seorang diri yang masih tegak melawan kelompok Mahendra ditambah kehadiran prajurit Kediri.


Related posts

Sampai Jumpa, Ken Arok! 19

Ki Banjar Asman

Sampai Jumpa, Ken Arok! 15

Ki Banjar Asman

Sampai Jumpa, Ken Arok! 10

Ki Banjar Asman