SuaraKawan.com
Bab 2 Sabuk Inten

Sabuk Inten 20

“Hey, bukankah engkau dapat berbicara, Ki Tumenggung?”

“Kanjeng Adipati,” kata Ki Suradilaga sedikit gugup, “izin yang diberikan oleh Raden Trenggana bukanlah izin biasa.”

“Aku mendengarkan.”

“Saya akan bersikap jujur dan mengatakan yang saya tahu. Bahwa alasan Raden Trenggana dengan memilih saya untuk menjadi utusan menemui Adipati Hadiwijaya, sejujurnya, saya tidak tahu. Saya tidak berani menduga karena itu akan membuat saya berangan-angan. Bahkan saya pun tidak mengerti jalan pikiran Raden Trenggana yang memberikan keris Sabuk Inten sebagai bukti bahwa saya adalah utusan yang terpilih. Anda tahu, kita semua mengerti bahwa masih ada benda lain yang dapat menguatkan kedudukan saya sebagai seorang duta negeri.”

Arya Penangsang menggelengkan kepalanya sambil bergumam, “Ya, Anda benar. Ada yang ingin aku ketahui dari Anda. Telah banyak orang bicara tentang benda itu. Mereka mengatakan bahwa perpindahan keris Sabuk Inten memberi tanda kepemimpinan selanjutnya. Maksudku, Sabuk Inten yang sekarang berada di Pajang seperti menegaskan bahwa Pajang adalah penerus Demak. Apakah benar seperti itu? Apakah paman mengisyaratkan itu pada Anda saat beliau mengangsurkan keris itu?”

“Tidak ada, Tuan. Tidak ada ucapan maupun kata-kata beliau yang menunjuk seseorang di sini untuk mewarisi tahta Demak. Saya mendengar kabar itu dari banyak orang, tetapi saya anggap bahwa Sabuk Inten hanya satu kebetulan. Ia ada  sebagai barang bukti pengangkatan saya sebagai utusan khusus Raden Trenggana.”

“Baiklah, baiklah, aku menganggapmu berkata jujur. Dan aku harap semua yang kau katakan padaku saat ini adalah kebenaran dan kenyataan.” Dalam waktu itu, Arya Penangsang nyaris kesulitan meredakan gejolak untuk mencecear Ki Suradilaga dengan banyak pertanyaan. Namun ia dapat mengendalikan perasaannya yang masih menyimpan luka atas kematian ayahnya. Lalu ia beralih ke samping Ki Suradilaga, kemudian berkata, “Apakah ada pengetahuuan yang tersimpan padamu mengenai Sabuk Inten?”

“Apa yang saya tahu tidak lebih dari pengetahuan Anda, Kanjeng Adipati.”

“Katakan.”

“Dari Ki Ageng Pandan Arang, meski tidak secara langsung, saya mendengar bahwa Sabuk Inten adalah permintaan khusus Sunan Kalijaga pada Prabu Brawijaya.”

“Hmm…”

“Beliau, Sunan Kalijaga, mengharap Prabu Brawijaya agar mengajak orang-orang untuk kembali bekerja. Kemakmuran  yang telah diraih sewajarnya dapat dipertahankan dengan ikatan tanggung jawab pada masing-masing orang. Tetapi, kita mengetahui, selalu ada yang terlambat.”

“Selalu ada yang tidak dapat terpuaskan.”

“Saya, Kanjeng Adipati. Mohon ampun.”

“Tidak ada alasan bagiku untuk tidak memaafkanmu. Ini semua tentang sejarah dan kenangan. Bila aku teringat masa kelam itu, yah, itu wajar karena kenangan tidak akan dapat dimusnahkan dari ingatan. Kenangan adalah kenangan yang bertahan semasa nyawa masih dikandung badan.” Arya Penangsang beralih tempat, bergeser ke samping Ki Suradilaga. Mereka berdiri sejajar. Saling bersebelahan. Kata Arya Penangsang kemudian, “Apakah ada orang lain yang mengetahui ketika Anda membawa Sabuk Inten keluar dari Demak?”

“Saya tidak tahu. Bahkan saya terkejut saat mengetahui Anda menyebut nama keris itu di depan saya.” Ia menghela napas. Mengatur aliran udara yang keluar ,masuk ke dalam rongga dadanya. “Itu menjadi pertanyaan menarik bagi saya. Tidak ada yang meragukan ketinggian ilmu Anda, sehingga saya harus menatap langit setiap kali membayangkan Anda. Menembus pertahanan Adipati Hadiwijaya bukan pekerjaan mudah. Atau petugas sandi Anda begitu hebat hingga mampu merembes lalu menjadi dinding bertelinga di istana Pajang. Apapun itu, Kanjeng Adipati, saya sudah mengatakan yang sebenarnya.”

“Mungkinkah Anda berpikir bahwa ini adalah jebakan atau ujian bagi Ki Rangga atau Anda?”

“Maksud Anda?”

“Perintah menuju Sambi Sari adalah perintah kecil. Remeh. Dan menurutku, hanya orang dungu yang bersedia melakukannya.”

“Walaupun dengan perintah adipati?”

“Ya, walaupun dengan perintah adipati Pajang.”

“Saya tidak mengerti, Kanjeng Adipati,” kata Ki Suradilaga dengan kepala menggeleng. “Saya tidak mengerti bagaimana perintah itu Anda golongkan sebagai pekerjaan dungu, sementara setiap prajurit tahu bahwa Sambi Sari adalah tempat khusus untuk membuat senjata.”


Related posts

Sabuk Inten 11

Redaksi Surabaya

Sabuk Inten 6

Redaksi Surabaya

Sabuk Inten 18

Ki Banjar Asman