SuaraKawan.com
Bab 1 Rencana Penaklukan

Rencana Penaklukan 3

“Tidak perlu! Kau ambil kantung di sisi kiri lambung kuda. Ki Tumenggung Arya Dipa telah menyiapkan untukmu.” Gagak Panji menarik napas dalam-dalam, kemudian ia bangkit mendekati batas air laut.

“Aku mengetahui kedua orang ini. Tetapi aku tidak tahu apakah mereka mengerti kekuatan prajurit Demak di atas samudera,” gumam Gagak Panji dalam hatinya. “Aku mendengar jika Raden Trenggana sedang menyiapkan ribuan kapal. Apakah kalian termasuk prajurit yang akan ikut serta dalam salah satu kapal itu?” Gagak Panji bertanya.

“Maafkan saya karena tidak tahu, Ki Rangga. Lurah kami dan Ki Tumenggung belum mengatakan persoalan itu pada kami,” jawab seorang dari mereka dengan kesan heran dalam hatinya.

Seperti mengetahui isi hati orang yang menjawab, kemudian Gagak Panji berkata, ”Tentu saja kalian akan bertanya meski dalam hati kalian sendiri. Bagaimana mungkin seorang rangga tidak mengetahui rencana pemimpinnya? Apalagi kalian telah mengenalku sebagai orang yang dekat dengan Ki Tumenggung Arya Dipa. Bukan begitu?”

Kedua prajurit itu menganggukkan kepala sambil memasukkan sesuap makanan setelah dipersilahkan Gagak Panji untuk mendahuluinya.

“Kadang-kadang seorang prajurit yang berada di bawah lurah dapat mengetahui keadaan sebenarnya. Bahkan tidak jarang seorang prajurit justru menjadi kepercayaan seorang raja,” berkata Gagak Panji. Kemudian ia mulai makan bekal yang disiapkan oleh Ki Tumenggung Arya Dipa. Setelah beristirahat untuk beberapa lama dan memberi kesempatan kuda-kuda mereka mengambil napas, ketiga orang ini kembali melanjutkan perjalanan menuju Tuban menembus pekatnya malam.

“Tentu saja Raden Trenggana tidak akan melalui jalur darat untuk mengambil alih Panarukan. Selain tempuh yang akan menjadi lebih lama, daya tahan para prajuritnya tentu tidak berada dalam keadaan sebenarnya saat mereka mulai peperangan,” Gagak Panji merenung di atas punggung kudanya.

Dalam renungannya, Gagak Panji mengakui ketangguhan prajurit Demak di atas lautan. Gagak Panji masih ingat kisah yang ia dengar tentang bala prajurit Demak yang membelah lautan menuju semenanjung Malaka. “Sudah barang tentu Jepara, seperti yang dikatakan Paman Parikesit, akan mengirimkan kapal bantuan bagi Raden Trenggana.” Ia menoleh ke arah dua prajurit yang berkuda di belakangnya.

Setelah menempuh perjalanan kira-kira beberapa laksa tombak, Gagak Panji memutuskan untuk kembali beristirahat dan melanjutkan perjalanan menjelang fajar esok hari.

“Kalian berdua dapat kembali ke Demak sekarang. Katakan pada Ki Tumenggung Arya Dipa jika aku akan berhenti barang sehari dua hari di Lasem,” kata Ki Rangga Gagak Panji kemudian memberi beberapa keping logam sebagai bekal kedua prajurit untuk kembali ke Demak. Sejenak kemudian mereka pun berpisah.

Gagak Panji memacu kuda secepat angin bertiup kencang. Sejumlah mata memandang penuh heran saat mereka berpapasan di jalanan yang sudah dipadatkan. Matahari hampir berada di puncak langit ketika Ki Rangga Gagak Panji mendekati hutan lebat yang berada di depannya. Ujung jalan itu berakhir seperti sebuah lorong panjang yang membelah hutan. Pohon-pohon raksasa tampak menjulang menggapai langit. Kepulan debu tinggi membumbung ketika Gagak Panji telah melewati bulak kering yang panjang, tiba-tiba ia menarik tali kudanya sambil memicingkan mata.

“Gandrik! Siapa mereka yang berkelahi di tepi hutan itu?” desis Gagak Panji dalam hatinya. Ia sendiri telah mengetahui jika hutan lebat yang berada di lereng Argopuro itu sering menjadi lintasan para penyamun. Akan tetapi semenjak Ki Tumenggung Badra Lodaya ditunjuk sebagai penanggung jawab keamanan, maka keadaan di sekitar lereng mulai dapat dikendalikan.

“Orang-orang itu tentu bernyali besar jika berani beradu wajah dengan prajurit Ki Tumenggung Badra Lodaya,” Gagak Panji menghentak lambung kudanya dan berjalan pelan mendekati lingkaran perkelahian yang agaknya melibatkan sekelompok orang-orang berseragam tertentu.

Gagak Panji dengan tenang duduk di atas punggung kudanya memperhatikan dua kelompok orang itu saling menyerang dengan diiringi umpatan dan caci maki kotor. Sementara sekelompok orang berseragam telah menyita perhatian Ki Rangga Gagak Panji.

“Ki Tumenggung memang orang hebat. Dalam jumlah kecil, prajuritnya dapat mengimbangi mereka yang mungkin saja satu gerombolan penyamun.” Senyum Gagak Panji mengembang ketika ia dapat melihat dengan jelas kedudukan dari dua kelompok yang bertempur di hadapannya.


Related posts

Rencana Penaklukan 5

Ki Banjar Asman

Rencana Penaklukan 1

Ki Banjar Asman

Rencana Penaklukan 4

Ki Banjar Asman