SuaraKawan.com
Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Agung Sedayu Terperdaya 37

Serangan yang mendadak dan sangat berbahaya itu membuat sibuk Agung Sedayu dan Ki Jayaraga. Agung Sedayu segera mengurai cambuknya dan menahan lontaran benda-benda panas dengan putaran cambuk yang sangat sulit ditembus. Sementara itu Ki Jayaraga melompat panjang ke sebelah Ki Gede Menoreh lalu menghantam tanah dengan satu pukulan yang dahsyat. Maka kemudian di depan Ki Jayaraga seolah ada dinding baja yang sangat tebal dan serangan Ki Garu Wesi pun gagal mengenai sekumpulan pengawal yang kesulitan untuk menghindari serangannya yang mematikan. Pada saat itu Ki Gede telah memutar tombak pendeknya dan berulang kali terdengar bunyi ledakan tatkala tombaknya bersentuhan dengan benda-benda panas yang melesat ke arahnya.

Kesibukan tiga orang berilmu tinggi dari Tanah Menoreh itu akhirnya seperti memberi kesempatan bagi Ki Garu Wesi untuk melepaskan diri dari Agung Sedayu dan Ki Jayaraga. Kepandaiannya yang tinggi membuatnya dengan sangat cepat menghilang dari pandangan mata lawan-lawannya.

Dari kejauhan terdengar Ki Garu Wesi berkata, ”Agung Sedayu! Waktu akan meluncur secepat anak panah. Dan apabila masa itu tiba, kau akan mengakui aku sebagai pengganti gurumu. Aku akan mengajarimu bagian-bagian kitab gurumu yang belum kau pelajari. Aku minta kau dapat melupakan peristiwa yang terjadi hari ini. Rumah dan harta benda yang pernah kau miliki, tentu akan kembali padamu. Tetapi kitab Kiai Gringsing akan menjadi milikku dan kembali padamu sebagai ilmu yang telah matang.”

Agung Sedayu menangkap dengan jelas suara Ki Garu Wesi yang terdengar seperti berbicara di dekat telinganya. Kali ini Agung Sedayu benar-benar merasa geram dan sangat marah. Hampir saja ia menumpahkan perasaannya melalui senjatanya. Cambuk yang telah memendarkan warna biru dari ujung hingga pangkal membuat hati miris dan tergetar hebat. Kekuatan Agung Sedayu yang benar-benar nggrigisi terpancar jelas dari warna cambuknya.

Ki Garu Wesi telah dapat meraba kekuatan Agung Sedayu dari kekuatan yang terlihat olehnya dari kejauhan.  Ia berkata pada dirinya sendiri, ”Kehadiran senapati pasukan khusus itu pasti akan membawa kematian bagiku pada hari ini. Aku harap Ki Tunggul Pitu dapat melepaskan diri darinya. Kekalahan Ki Tunggul Pitu akan menjadi beban yang sangat sulit bagiku untuk menjadi orang terbaik di Mataram.”

“Jika ia mampu meninggalkan Tanah Perdikan dengan kitab guru, aku harus menjelajahi seluruh tlatah Mataram untuk membunuhnya tanpa peduli sampai kapan aku dapat menemukannya,” geram Agung Sedayu dalam hatinya.

Ki Gede Menoreh masih berada ditempatnya ketika Ki Jayaraga menghampiri Agung Sedayu lalu mengajaknya untuk meninggalkan rumahnya yang telah menjadi puing-puing berserakan. Agung Sedayu masih tajam memandang arah kepergian Ki Garu Wesi dengan dada berdentang sangat keras. “Aku harus segera mengabarkan ini pada Swandaru,” bisiknya dalam hati.

“Marilah, Ngger,” berkata Ki Jayarga,”Tidak ada lagi yang dapat kita perbuat di sini. Biarlah para pengawal membersihkan reruntuhan dan puing-puing yang bertebaran. Kita harus mampu mengamati gejolak dalam diri kita masing-masing.”

Agung Sedayu menggeleng lalu berkata,”Tidak apa-apa, Kiai. Aku dapat melihat apa yang sedang terjadi padaku hari ini. Agaknya semua ini terjadi karena aku keras kepala dan yakin pada rencanaku sendiri.”

Ki Gede yang ikut mendengarkan kata-kata Agung Sedayu kemudian berkata,”Benar apa yang dikatakan Ki Jayaraga, Ngger. Aku akan perintahkan para pengawal untuk membersihkan tempat ini, dan besok pagi-pagi kita akan membangun kembali apa yang telah hancur pada hari ini.”

Agung Sedayu menoleh pada Ki Gede. Ia melihat sinar mata Ki Gede yang seperti menyimpan rasa bersalah. Sejenak ia merenungi keadaan, lalu, ”Saya akan menjemput Sekar Mirah terlebih dahulu.“

“Baiklah,” sahut Ki Gede, ”aku minta kalian tinggal di rumahku hingga segala sesuatu telah kembali wajar.” Ki Jayaraga menganggukkan kepala kemudian ia mendekati Ki Gede dan keduanya menunggu Agung Sedayu melangkahkan kaki.

Untuk beberapa lama mereka berdua menunggu Agung Sedayu meninggalkan tempat itu. Namun Agung Sedayu belum menunjukkan gelagat akan meninggalkan mereka. Ia berdiri terpaku memandangi reruntuhan rumahnya dengan hati yang pilu. Ki Jayaraga memandang Ki Gede dengan perasaan heran. Lalu ia berpaling pada Agung Sedayu dan bertanya, ”Kenapa, Ngger?”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya dan tatap matanya menyapu tanah yang baru saja menjadi gelanggang perkelahian hingga menghancurkan rumahnya. Ki Jayaraga berkata lirih, ”Andai saja aku dapat mencegahnya memasuki pekarangan rumah, tentu peristiwa buruk ini tidak akan pernah terjadi.”

Terdengar tarikan nafas panjang Agung Sedayu, lalu ia berkata, ”Tidak ada yang dapat disalahkan selain diriku sendiri, Kiai.”

Namun sebelum ia melanjutkan ucapannya, Ki Gede  menyentuh bahunya lalu katanya, ”Marilah, kita bicarakan tentang perstiwa hari ini di dalam rumah. Kau tidak dapat terlalu lama berdiri di tempat ini lalu menyesali semua yang terjadi.”

 


Related posts

Agung Sedayu Terperdaya 15

Ki Banjar Asman

Agung Sedayu Terperdaya 14

Ki Banjar Asman

Agung Sedayu Terperdaya 6

Ki Banjar Asman