SuaraKawan.com
Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Agung Sedayu Terperdaya 12

“Bagus, Sukra!” tiba-tiba terdengar orang berkata dari belakang mereka. Anak-anak muda pengawal Tanah Perdikan cepat memutar badan dengan senjata terhunus. Mereka melihat seseorang dalam gelap berjalan menghampiri mereka. Ketika orang itu semakin dekat dan wajahnya mulai dapat dikenali, tiba-tiba serentak anak-anak muda Menoreh berseru,”Ki Rangga!”

Agung Sedayu mengangkat tangannya sambil tersenyum lalu berkata,”Aku berada di tempat ini sesaat sebelum kalian datang. Dan aku mendengar apa yang kalian bicarakan.” Agung Sedayu melangkah maju lantas berkata,”Kalian lakukan apa yang dikatakan Sukra. Sementara Sukra akan menemui Prastawa dan melaporkan ini padanya.”

Anak-anak muda itu mengangguk lalu membubarkan diri menjalankan tugas masing-masing. Agung Sedayu masih berdiri mematung di tempat itu sepeninggal para pengawal Menoreh. Ia bergumam dalam hatinya,”Apa yang menjadi rencana mereka selanjutnya?” Tak lama kemudian ia bergegas memeriksa beberapa tempat bekas perkemahan untuk mencari petunjuk yang mungkin akan diperlukan.

“Orang-orang Menoreh sangat beruntung memiliki pemimpin yang pandai menyusun siasat,” desis Ki Garu Wesi. “Sebenarnya mereka telah bersiap. Mereka menjaga setiap pedukuhan dan wilayah Tanah Perdikan dengan bersembunyi. Kita sangat beruntung mempunyai orang-orang yang berpengalaman dalam tugas sandi. Tempat kita bersembunyi ternyata berada di luar jangkauan mereka. Kita akan dapat melakukan serangan dengan sangat cepat tanpa mereka ketahui asal serangan berawal.”

“Benar, Ki Garu Wesi,” sahut Ki Tunggul Pitu. “Para pimpinan kelompok kita akan lebih cepat memukul dan lari sebelum mereka sadar apa yang terjadi.”

Ki Garu Wesi mengangguk. Ia berkata,”Kita hanya membutuhkan kesabaran yang tinggi.”

“Mereka sedang menunggu kita dengan sabar,” sahut Ki Tunggul Pitu.

Hampir sepanjang malam memang tidak ada pergerakan dari pengikut Ki Garu Wesi. Mereka terbagi dalam kelompok kecil dan tersebar di setiap penjuru Tanah Perdikan. Karena itu pergerakan mereka tidak diketahui oleh para peronda. Kelompok-kelompok ini berjalan diantara pategalan dan sela-sela tanaman yang tumbuh di pekarangan, kadang-kadang mereka berjalan diatas bulak-bulak yang mengering. Kewaspadaan para pengikut Ki Garu Wesi terhadap keadaan sekitar mereka rupanya dapat mengelabui para peronda sehingga akhirnya mereka dapat mencapai tempat-tempat akan digunakan sebagai pijakan untuk esok hari.

Demikianlah para pengikut Ki Garu Wesi telah menyebar dengan kesiagaan dan kekuatan penuh. Namun mereka mempunyai kesabaran yang cukup tinggi sehingga tidak serta merta melakukan serangan sebelum perintah Ki Garu Wesi dijatuhkan. Para pemimpin mereka telah mempertimbangkan kemampuan tempur pengikutnya yang sebenarnya tidak kalah dengan orang-orang yang akan menjadi lawan mereka. Tetapi pemimpin kelompok Ki Garu Wesi menyadari apabila mereka akan mengalami kegagalan karena mereka tidak mempunyai orang yang pandai mengatur gelar perang. Maka akhirnya mereka bersepakat untuk melakukan satu serangan yang benar-benar akan melumpuhkan kekuatan Tanah Perdikan Menoreh sekali gebrakan.

Meskipun perintah untuk menyerang belum mereka dapatkan, mereka telah bersiap dengan senjata yang tergenggam erat. Mereka telah bersiap seandainya pengawal Tanah Menoreh atau pasukan khusus tiba-tiba datang menyergap.

“Apakah yang dapat terjadi bila kita lakukan hal ini selama dua malam?” bertanya Ki Tunggul Pitu.

“Akan terjadi keresahan diantara orang-orang kita. Mereka akan kehilangan pengamatan diri dan akhirnya akan mengundang bahaya yang dapat melibas semua kekuatan serta harapan yang tela lama kita mimpikan,” jawab Ki Garu Wesi.

Ki Tunggul Pitu mengangguk. Katanya,”Kita sebenarnya mempunyai kemampuan dan keberanian yang sama dengan para prajurit dalam pasukan khusus. Kita juga merupakan sekumpulan orang-orang yang mempunyai ketahanan diri yang cukup saat melakukan pekerjaan. Namun apabila keadaan yang demikian ini berlangsung hingga beberapa malam tentu akan mempengaruhi ketahanan, terutama kita telah cukup lama tidak melakukan perbuatan yang menggembirakan.”

Ki Garu Wesi bangkit berdiri, kemudian,”Waktunya telah tiba.” Ia menengadahkan wajah  menatap langit yang mulai ditinggalkan bintang. Ia melihat seolah cahaya bintang semakin redup seiring gelora yang makin membara dalam hati pengikutnya. Ia berdiri tegak kemudian memandangi jalanan berbatu yang akan dilaluinya.

Kata Ki Garu Wesi, ”Mereka bukan orang-orang bodoh. Namun mereka tidak mengerti siapa yang sebenarnya mereka hadapi. Tanpa mereka sadari sebenarnya kita akan menusuk dari dalam pada saat mereka mengira kita sedang mengepung mereka.”


Related posts

Agung Sedayu Terperdaya 11

Ki Banjar Asman

Agung Sedayu Terperdaya 25

Ki Banjar Asman

Agung Sedayu Terperdaya 5

Ki Banjar Asman