SuaraKawan.com
Bab 1 Agung Sedayu Terperdaya

Agung Sedayu Terperdaya 4

Prastawa mengangguk-angguk. Ia menjawab kemudian, ”Sebenarnya saya akan melaporkan tentang adanya perkemahan di luar Tanah Perdikan, Paman. Tetapi laporan dari Sukra akhirnya membuatku merasa harus mennyatakan keadaan lebih cepat dari rencana semula.” Prastawa diam sesaat dan mengedarkan pandangan. Prastawa kemudian menyampaikan bahwa ia membenarkan ancaman bahaya yang diterima oleh Agung Sedayu dari Ki Garu Wesi. Prastawa melihat perkemahan yang baru didirikan dua tiga hari sebelumnya, namun ia belum dapat mengambil dugaan karena pada mulanya hanya dua kemah.

“Kang Santa telah memberitahu bahwa kemah itu ternyata bertambah hingga belasan jumlahnya. Lalu aku mengawasinya bersama Kang Santa pada sore hari, dan kami melihat sejumlah orang sedang berlatih dengan senjata,” kata Prastawa. Ki Gede mendengarkan laporan Prastawa serta pendapat-pendapat orang-orang yang ada di sekitarnya.

“Aku tidak mungkin akan menyerahkanmu pada mereka, Agung Sedayu. Kau adalah seorang pemimpin pasukan khusus maka dalam hal ini yang lebih mempunyai hak untuk melakukan itu adalah Panembahan Hanyakrawati,” kata Ki Gede, ”dan mereka juga tidak mempunyai wewenang lebih dengan menyerang Tanah Perdikan.”

Prastawa menggelengkan kepala. “Kita akan bertahan,” kata Prastawa, ”kita dapat meminta bala bantuan pada Mataram untuk mempertahankan diri, Paman.”

Agung Sedayu merenung sejenak. Ia berpaling pada Sekar Mirah seolah ingin mendengar pendapat istrinya. Sekar Mirah mengangguk-angguk dan meraih lengan Agung Sedayu. Katanya, ”Jika Kakang ingin melaporkan keadaan ini pada Ki Patih Mandaraka, sebenarnya Kakang melakukan hal yang benar. Namun jika Kakang tidak ingin Mataram mengetahui perkembangan yang terjadi, suatu saat mereka akan mendengarnya. Kakang tentu lebih tahu mengenai kemungkinan itu.”

“Apakah kau tidak ingin membicarakan keberadaan pengikut Ki Garu Wesi pada Ki Untara, Agung Sedayu?” bertanya Ki Gede Menoreh.

“Sebetulnya setiap laporan yang kita berikan akan membawa kita pada satu tujuan yaitu bantuan. Kakang Untara tentu akan mengirim sebagian pasukan di Jati Anom untuk memperkuat pertahanan Tanah Perdikan. Bahkan jika kita melaporkan secara langsung pada Mataram, tentu saja Ki Patih akan memerintahkan Kakang Untara memperkuat kedudukan pengawal atau pasukan khusus,” jawab Ki Rangga Agung Sedayu.

“Saya akan mengumpulkan pemimpin kelompok para pengawal Tanah Perdikan,” Prastawa berkata, ”terlepas dari ada bantuan atau tidak, tetapi Agung Sedayu adalah orang Menoreh.”

Agung Sedayu terkejut mendengar kata-kata Prastawa. Lalu ia berkata, ”Aku sangat bersyukur karena telah diijinkan untuk hidup bersama orang-orang Menoreh.” Sementara Sekar Mirah menitikkan air mata melihat Prastawa yang telah bersiap berdiri di belakang suaminya.

Kemudian Ki Gede berkata, ”Baiklah, Agung Sedayu. Kau telah mendengar apa kata Prastawa. Tanah ini berhutang padamu, kami semua telah melewati banyak hal bersamamu. Kami sudah meraih segala sesuatu dengan bantuanmu, maka aku tegaskan sekarang jika kau dapat menggunakan apa saja yang ada di Tanah Menoreh untuk mengatasi persoalan yang ada di depan kita saat ini.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya, sekali lagi ia mengucap syukur dalam hatinya atas limpahan kasih sayang dari Yang Maha Agung. Sejenak kemudian ia berkata, ”Malam ini aku akan melakukan pengintaian bersama Sukra.”

Seolah tidak percaya dengan gagasan Agung Sedayu, Ki Gede menatap wajah Sekar Mirah dan Prastawa bergantian. Tetapi mereka tidak mengucap sepatah kata karena percaya jika Agung Sedayu sedang menyusun rencana yang terbaik baginya dan bagi orang-orang Tanah Perdikan Menoreh seluruhnya.

“Aku kira sudah saatnya Sukra melakukan pekerjaan setingkat lebih maju, ia mempunyai kemampuan untuk pekerjaan ini,” kata Agung Sedayu yang mengerti pertanyaan yang tidak diucapkan oleh ketiga orang di sekelilingnya.


Related posts

Agung Sedayu Terperdaya 34

Ki Banjar Asman

Agung Sedayu Terperdaya 8

Ki Banjar Asman

Agung Sedayu Terperdaya 23

Ki Banjar Asman