Enam Pernyataan Sikap Gereja-gereja di Surabaya

Tidak ada komentar 110 views

SURABAYA (suarakawan.com) – Sehari paska kejadian bom tiga gereja di Surabaya, para pendeta dan pimpinan gereja di Surabaya berkumpul bersama elemen ormas Islam khususnya dari Nahdlatul Ulama (NU) untuk menyatakan sikap terkait aksi teroris dengan bom bunuh diri.

Pendeta Jonathan dari Gereja Pathekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Arjuno Surabaya, Senin (14/5) sore mengatakan bahwa saat bom mobil meledak, dirinya tengah memimpin ibadah ketika mengumumkan pengumuman gereja dan hendak nyanyian terakhir serta doa berkah.

“Ada 6 orang jemaah yang menjadi korban dan puluhan yang luka-luka. Paska ledakan, asap mengepul dan listrik mati sehingga gelap. Saya akhirnya memandu jamaah keluar lewat pintu Bromo,” ujar Jonathan.

Ia juga sangat menyesalkan dengan aksi terorisme. Pasalnya, tak ada agama yang merestui radikalisme. “Kami rindu bisa beribadah dengan aman. Ke depan pemerintah bisa tanggulangi terorisme sehingga umat bisa bebas menjalankan ibadah. Sebab sesuai pasal 29 UUD 1945 seluruh warga negara Indonesia dijamin melaksanakan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya.”

“Dan Kami tetap mengampuni dan menyerahkan pada Tuhan supaya bisa pulihkan umat agar mau ibadah. Kami juga
mendoakan jemaat yang meninggal supaya mendapat tempat yang terbaik disisi Tuhan,” jelas pria berkacamata ini.  

Senada Romo Kurdo pastor paroki dari gereja Santa Maria Tak Bercelah (SMTB) Ngagel Surabaya mengatakan bahwa bom meledak terjadi saat jemaat masuk masa peralihan antara misa pertama dan misa kedua. “Misa pertama biasanya dilakukan pada pukul 5.30-6.30 WIB. Sedangkan misa kedua dilakukan pada pukul 7.30 WIB,” terang Kurdo.

Dijelaskan Romo Kurdo, kedua pelaku bom bunuh diri yang menggunakan sepeda motor sebenarnya sempat dihadang oleh Bayu salah seorang relawan yang mengatur keamanan gereja. “Mungkin kalau tak dihadang Bayu, pelaku bisa masuk dan korban jumlahnya bisa lebih banyak,” ungkapnya.

Pihaknya juga menolak dan berharap segera hentikan kekerasan seperti itu. Kepada para korban juga disampaikan duka mendalam. Sedangkan kepada para pelaku teror, kami mengampuni dan berdoa supaya Tuhan mengampuni mereka. 

“Umat katolik dimanapun dan suadara yang lain hendaklah tetap setia dan berbuat baik. Kebencian hanya bisa selesai jika dihadapi dengan kasih yang sejati.
Tolak rasa takut, jalin saling menghormati dan berani berbuat baik dan benar,” pesan Kurdo kepada jemaat.

Sementara itu ketua PCNU Kota Surabaya Dr Muhibbin Zuhrie menegaskan bahwa jika ada elemen bangsa yang sakit apapun agamanya itu juga akan menyakiti NU. Sebab sejak awal pendirian bangsa ini NU komitmen kalau Indonesia adalah bhineka tunggal ika.

“Kami yakin pelaku bom bunuh diri itu tidak amalkan Islam dan ajaran agama apapun. NU mengecam kekerasan yang mengatasnamakan agama,” tegas Muhibbin Zuhri.

Bagi NU, lanjut Muhibbin komitmen kebangsaan (ukhuwah wathoniyah) itu harus terus dijaga bersama-sama. Namun lebih dari itu juga perlu menjaga ukhuwah basariyah (kemanusian). Karena itu atas nama umat Islam, khususnya NU mengucapkan bela sungkawa kepada para korban.

“Sebagai pemimpin-pemimpin agama, ini tanggungjawab kita bersama untuk mendidik umat masing-masing agar memahami agama dengan benar. Mari kita bekerjasama untuk melawan aksi terorisme. NU juga posko kemanusiaan supaya bisa memberikan ketentraman. Bahkan kalau diperlukan Ansor bersama banser siap membantu aparat kalau diperlukan,” ujarnya.

Inilah enam pernyataan sikap dari gereja-gereja korban bom di Surabaya.

1. Mengungkapkan keprihatinan dan duka cita.
2. Mengecam perilaku kekerasan berupa bom bunuh diri atau terorisme
3. Mengapresiasi kerja-kerja kepolisian yang tanggap menciptakan rasa aman.
4. Menghargai kehadiran Presiden para Menteri yang datang langsung ke Surabaya sebagai bentuk solidaritas.
5. Menyerukan seluruh warga jemaat tetao tenang, tidak takut dan panik. Tetapi tetaplah waspada dan kerjasama dengan aparat setempat.
6. Menuntut DPR dan pemerintah segera menerbitkan UU Anti Terorisme. (aca/rur)