Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Waspadai, Penipuan Lewat Medsos Kian Marak

17 May 2017 // 05:50 // HEADLINE, INTERNET

A smartphone user shows the Facebook application on his phone in Zenica, in this photo illustration

MELBOURNE (suarakawan.com) – Sebuah laporan tahunan di Australia menyebutkan adanya peningkatan tajam’penipuan menggunakan sosial media seperti Facebook, dengan korban mencapai 200 ribu orang dengan kerugian 300 juta dolar AS (sekitar Rp 3 triliun).

Laporan yang dibuat oleh Badan Perlindungan Konsumen Australia (ACCC) mengatakan terjadi peningkatan 47 persen penipuan dibandingkan tahun sebelumnya. “Saat ini susah sekali mengetahui siapa yang jujur dan siapa yang penipu.” kata wakil kepala ACCC Delia Rickard.

Laporan yang dibuat bersama antara ACCC dan Jaringan Pelaporan Kejahatan Online Australia menunjukkan adanya 200 ribu laporan penipuan tahun lalu, dengan total kerugian mencapai 300 juta dolar AS (sekitar Rp 3 triliun).

Rickard mengatakan dua bentuk penipuan yang paling banyak terjadi adalah kencan online, dan penipuan jual beli. Sekitar 30 persen korban penipuan dalam soal kencan online, yaitu sebanyak 1352 orang mengatakan mereka menjalin kontak lewat sosial media, khususnya Facebook.

“Penipu kencan online ini menipu dengan membuat korban mereka jatuh cinta dan kemudian menggunakan rasa percaya yang diperlihatkan korban untuk mengambil uang mereka,” kata Rickard.

“Jangan sekali-kali mengirim uang ke seseorang yang Anda tidak kenal, karena uang anda pasti tidak akan kembali. ”

Penipun kencan online lain merugikan warga Australia sebanyak 42 juta dolar AS di tahun 2016, nomor dua setelah penipun investasi, yang menimbulkan kerugian sekitar 59 juta dolar AS. Penipuan penjual barang palsu semakin meningkat, dimana korban melihat adanya iklan toko online yang menjual barang-barang ternama dengan harga murah.

ACCC mengatakan banyak dari toko online ini adalah palsu, dan para korban membeli barang yang sebenarnya tidak ada. Penipuan seksual (sextortion) juga menggunakan sosial media untuk mengetahui korbannya.

Bentuknya adalah pemerasan dengan menggunakan foto-foto bernada seksual dari korban yang diancam akan disebarkan bila mereka tidak mau membayar. “Kami melihat sejumlah besar orang mengirim foto-foto bernada seksual kepada orang yang mereka kenal di online, kemudian menjadi sumber pemerasaan dalam jumlah besar, dan bila mereka tidak membayar, gambar-gambar itu akan disebarkan ke keluarga dan teman dekat.” kata Rickard.
(rol/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini