Wanita Harus Berpolitik Bawa Suara Kaumnya

SURABAYA (suarakawan.com) – Semangat perjuangan Kartini menghapuskan perbedaan gender terus digaungkan oleh genari-generasi selanjutnya. Tidak terkecuali dunia politik. Lambat laun banyak kaum hawa menghiasi kancah perpolitikan dari tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga nasional.

Salah satunya Khozanah Hidayati. Anggota DPRD Jatim ini sangat sangat mengapresiasi ketika ada perempuan mampu berkarir di politik. Sebab, tidak semua perempuan punya kesempatan untuk dapat duduk di parlemen. Butuh perjuangan yang tidak mudah.

“Harus ada yang wakili dari perempuan. Karena kalau tidak perempuan siapa lagi yang menyuarakan perempuan. Siapa yang mewakili perempuan. Sekalipun laki memahami tapi saya pikir perempuan lebih paham,” ujar wanita yang akrab disapa Ana, Jumat (20/4).

Peran perempuan di legislatif, menurutnya, sangatlah vital. Dirinya mencontohkan, seperti pembuatan rancangan peraturan daerah (raperda) perlindungan buruh. Perlu ada wakil perempuan yang menyuarakan suara buruh wanita. Karena, hanya mereka yang tahu kebutuhan dan bisa merasakan apa yang dialami. Misalkan ketika mens ada dispen, orang perempuan yang paling mengerti.

“Sekarang masyarakat sudah tidak lihat gender laki atau perempuan,” jelasnya.

Kendati demikian, lanjut Ana, untuk mencapai titik sukses didunia politik perlu juga dukungan dari keluarga. Baginya ini nomor satu sebelum mencari dari konstituen. Oleh karena itu kodrat sebagai seorang ibu jangan sampai ditinggalkan. Dua peran tersebut semestinya bisa berjalan beriringan. Meskipun sedang berada dipuncak karir. “Berdasarkan prioritas. Tetep keluarga prioritas nomor satu. Dimana saat saya dibutuhkan keluarga, juga harus bisa tampil disana. Artinya ketika masyarakat membutuhkan saya harus bisa hadir,” tuturnya.

Diakuinya, memang banyak yang harus diurus. Mulai dari keluarga, hingga masyarkat di daerah peilihannya (dapil). Maka dari itu, dibutuhkan kemampuan untuk dapat membagi dan berperan dengan baik. Serta kemampuan menempatkan diri dimanapun berada.

“Hari kartini ini kan ingatkan kita pada masa lampau. Dimana dulu pergerakan perempuan mulai ada. Contohnya peroleh pendidikan dan emansipasi. Jadi kita juga tidak boleh lupa bahwa kodrat wanita adalah seorang ibu tetap harus bisa bagi keluarga dan pekerjaan di dewan,” tandasnya. (aca/rur)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Wanita Harus Berpolitik Bawa Suara Kaumnya"