Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Wali Kota Risma Diminta Dialog dengan Suporter Persebaya 1927

11 Nov 2016 // 15:34 // HEADLINE, OLAHRAGA, SUPORTER

risma1

SURABAYA (suarakawan.com) – Menyusul kericuhan unjukrasa suporter Persebaya 1927, Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Setiadji meminta Walikota Surabaya Tri Rismaharini meluangkan waktu dan pikirannya untuk berdialog dengan seluruh insan sepakbola.

“Seperti yang diminta bapak Kapolda tadi malam, Walikota diminta untuk berdialog dengan suporter Persebaya agar persoalan tak berkepanjangan. Tidak menjadi beban daerah lain, seperti Gresik, Lamongan dan Malang,” kata Gubernur Jatim Soekarwo kepada wartawan di Kantor Gubernur Jatim, Jumat (11/11).

Seperti diberitakan, ratusan suporter bonek Persebaya (bonekmania) menggelar unjukrasa di depan Grahadi, Kamis (10/11) malam. Mereka menuntut PSSI bisa memasukkan tim kebanggaannya sebagai peserta Kompetisi Liga Indonesia musim depan.

Demo ratusan bonekmania tidak hanya dilakukan di Grahadi saja. Mereka juga turun ke jalan raya dan melakukan pengrusakan rambu lalu lintas, mobil polisi dan taman.

Sebelumnya, bonekmania yang demo di depan Grajadi juga membakar ban bekas hingga membuat jalan Gubernur Suryo ditutup. “Saya tidak minta diterima, tapi suporter diajak bicara. Ada dialog dengan masyarakat bola,” tambahnya.

Menurut Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo, aksi bonekmania itu tidak tepat dilakukan di Polda Jatim, Grahadi dan tempat lainnya. Bukannya melarang demo, karena itu hak menyampaikan pendapat. Namun, perlu diperhatikan juga hak-hak masyarakat yang lain.

“Demo itu hak, tapi ada hak orang lain yang ikut diperhatikan. Jadi, tak hanya demo di Grahadi yang tidak tepat, tapi juga di Polda dan tempat-lain. Apalagi sampai menutup jalan sehingga mengganggu ketertiban umum,” ujarnya.

Lebih baik, lanjutnya, aspirasi bonekmania disampaikan langsung ke pengurus PSSI. Disana nanti terjadi dialog, sehingga diharapkan ada titik temu. “Jadi, lebih tepat demonya ke PSSI,” tegasnya. (Bng/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini