Wah, Asuransi Bumiputera Muda Berpotensi Gagal Investasi

Asuransi Bumputera Muda (ift)

JAKARTA(suarakawan.com)-Pejabat Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyatakan bahwa dua perusahaan asuransi berpotensi mengalami kegagalan investasi pada reksa dana yang diterbitkan oleh PT Falcon Asia Resources Management. Kegagalan investasi tersebut bisa menurunkan rasio kecukupan modal atau risk based capital (RBC) perusahaan asuransi tersebut.

Isa Rachmatarwata, Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK, mengatakan salah satu dari kedua perusahaan asuransi yang berpotensi mengalami gagal investasi itu adalah PT Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 (Bumida).

M Basri, Direktur Keuangan dan Investasi Bumida, membenarkan jika perusahaannya mengalami permasalahan investasi pada reksa dana Falcon.

“Nilai investasi yang kami tempatkan pada Falcon mencapai Rp 11 miliar,” kata Basri. Perusahaan menginvestasikan dananya di reksa dana Falcon sekitar tahun 1990.

Menurut Basri, dana investasi perusahaan yang berpotensi gagal bayar pada reksa dana Falcon mencapai Rp 56 miliar. Ia juga memperkirakan investor lain yang menempatkan dananya di reksa dana Falcon tersebar di seluruh Pulau Jawa.

Permasalahan reksa dana ini mulai muncul pada November 2010 saat perusahaan berencana melakukan pencairan dana. Pada saat itu, PT AJB Bumiputera 1912 yang merupakan induk perusahaan Asuransi Bumida memerintahkan Asuransi Bumida untuk menarik investasinya di  Falcon. Namun, sebelum rencana pencairan dana dilakukan, manajemen Falcon sudah memalsukan dokumen untuk mencairkan dana tersebut.

Menurut Basri, potensi gagal investasi pada reksa dana Falcon terjadi karena manajemen Falcon dan manajemen PT CIMB Niaga Tbk (BNGA) selaku bank kustodian sama-sama melakukan kesalahan. CIMB Niaga telah mencairkan dana tersebut kepada manajemen Falcon tanpa melakukan konfirmasi kepada Asuransi Bumida.

Padahal, dokumen pencairan dana investasi ini hanya ditanda-tangani oleh satu pihak saja, yakni manajemen Falcon. “Berdasarkan ketentuan, dokumen itu harusnya ditandatangani oleh dua pihak, antara lain Bumida,” kata Basri.

CIMB Niaga juga tidak pernah menegur manajemen Falcon dalam melakukan pengelolaan dana investasi. Hal ini terjadi karena manajemen Falcon diduga menempatkan dana kelolaan reksa dananya pada CIMB Niaga sebesar 90% dalam bentuk tunai dan sisanya 10% dalam bentuk barang investasi.

Padahal, lanjut Basri, Falcon seharusnya menempatkan dana kelolaan reksa dananya sebesar 90% dalam bentuk barang investasi dan 10% dalam bentuk uang tunai.

Oleh karena itu, Asuransi Bumida meminta agar CIMB Niaga dan manajemen Falcon mengembalikan dana investasinya. “Saat ini kami sedang melakukan koordinasi dengan Bapepam-LK,” tegasnya.

Basri menegaskan perusahaannya akan menempuh jalur hukum jika dana investasi ini tak kunjung cair.

Akibat investasi yang berpotensi gagal ini, Bumida mengklaim risk based capital perusahaan mengalami penurunan.

Pada 2010, risk based capital Bumida tercatat 171%. “Saat ini, rasio based capital kami hanya 150%, namun masih berada diatas ketentuan Bapepam-Lk,” tegasnya.

Sementara itu, secara terpisah pihak CIMB NIaga membantah tuduhan tersebut. L Wulan Tumbelaka, Compliance, Corporate Affairs and Legal Director CIMB Niaga, menyatakan bahwa CIMB Niaga telah melakukan semua prosedur pencairan reksa dana milik Falcon sesuai dengan Kontrak Investasi Kolektif (KIK).

“Semua masalah pencairan dana itu sudah clear sesuai dengan kontrak,” kata Wulan.

Ia mengatakan, nasabah Falcon yang ingin meminta pengembalian dana investasi lebih baik meminta pertanggungjawaban Falcon bukan bank kustodian.

Meski begitu, Wulan mengaku Bapepam-LK telah menegur Bank CIMB Niaga atas kasus ini. Namun, ia tidak menjelaskan bentuk teguran yang sudah diberikan Bapepam-LK kepada CIMB Niaga.(ift/nas)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Wah, Asuransi Bumiputera Muda Berpotensi Gagal Investasi"