Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Wagub Jatim: Limbah B3 Harus Ditangani Secara Komprehensif

17 May 2017 // 22:18 // DAERAH, HEADLINE, PERISTIWA

20170517_160842

SURABAYA (suarakawan.com) – Penanganan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang ada di Jatim perlu ditangani secara komprehensif atau menyeluruh. Terlebih berdasarkan Data Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) jumlah limbah B3 di Jatim terhitung sebesar 170 juta ton/tahun.

“Data ini merupakan laporan akhir potensi limbah B3 yang diterbitkan SLHD. Jadi, persoalan limbah B3 di Jatim ini pderlu penanganan yang lebih serius,” kata Wakil Gubernur Saifullah Yusuf didamping Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jatim, Bambang Sadono kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (17/5).

Dijelaskan, dari 170 juta ton limbah B3 tersebut, 153 juta ton berasal dari Kabupaten Probolinggo berupa produk Fly Ash dan Bottom Ash dari PLTU Paiton. Hampir sebagian besar limbah B3 dari PLTU Paiton dikirim ke Semen Indonesia sebagai bahan substitusi pembuatan semen, dan sisanya ditimbun di landfill milik perusahaan yang telah berizin.

Sekitar 20 juta ton sisa limbah B3 keberadaannya tersebar di berbagai daerah. Antara lain, Surabaya 11,8 juta ton, Gresik 3,3 juta ton, dan Pasuruan 822 ribu. Akan tetapi baru 39 persen yang teridentifikasi dikirim ke Cileungsi Bogor, sedangkan sisanya masih terus diteliti.

Sementara itu di Jatim baru ada dua pabrik yang memiliki ijin mengolah limbah B3, PLTU Paiton ijinnya penimbunan dan PT PRIA ijinnya khusus untuk pengolahan dan pemanfaatan. “Namun, belum semua usaha industri yang melaporkan manifest limbah B3 nya. Oleh sebab itu sampai saat ini Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jatim terus melakukan penelitian,” ujar Gus Ipul, sapaan akrabnya.

Artinya, untuk menghitung jumlah limbah B3 tidak bisa dengan menghitung jumlah pabrik dikalikan dengan rata-rata sumbangan limbah, karena tiap perusahaan berbeda-beda. Bahkan, sumbangan dari PLTU Paiton ternyata lebih dari 80 persen dari total limbah B3 yang terdata.

“Untuk limbah B3 dari PLTU Paiton sebagian besar masuk ke PT Semen Indonesia untuk bahan campuran semen. Sedangkan sebagian lagi ditimbun sendiri karena PLTU Paiton telah memiliki izin penimbunan,” tambahnya.

Berdasar data SLHD, lanjutnya, diketahui jika total perusahaan di Jatim saat ini mencapai 811.273 unit usaha. Dimana 1.136 unit merupakan perusahaan besar, kemudian 19.146 perusahaan menengah dan 790.991 perusahaan kecil.

“Dari 811.273 unit perusahaan, baru 100 perusahaan saja yang telah mendaftarkan atau memverifikasi limbah B3-nya. Dengan data ini, jumlah limbah B3 yang ada di Jatim bisa jadi lebih dari 170 juta ton, karena perusahaan yang melaporkan baru 100 perusahaan,” ungkapnya.

Untuk mengolah limbah B3, menurutnya, Pemerintah Provins (Pemprov) Jatim sejak tahun lalu mulai membebaskan lahan yang nantinya akan didirikan sebuah pabrik pengolah B3 dan akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

“Kita akan komunikasi intensif dengan pengusaha-pengusaha agar melaporkan timbulan B3 dari pabrik mereka. Beberapa waktu lalu atas koordinasi Polda Jatim juga sempat menggerebek sebuah pabrik pengolah B3 tanpa izin di Surabaya,” tuturnya. (Bng/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini