Unibraw: ‘Hujan’ Ulat Bulu Akibat Langkanya Semut

SURABAYA – Meledaknya populasi ulat bulu di Probolinggo, Jawa Timur, diduga disebabkan oleh hilangnya populasi semut rangrang pada tanaman mangga.

Demikian hasil penelitian Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang yang dilakukan di sembilan kecamatan yang terkena serangan ulat bulu akhir-akhir ini.

Ketua Tim Peneliti Unibraw Dr.Ir. Totok Himawan mengatakan ‘hujan’ ulat bulu jenis arctornis ini selain karena perubahan iklim juga karena hilangnya populasi pemangsa alami atau parasit dari ulat bulu itu.

“Dari hasil dilapangan, tidak ditemukan sedikitpun semut rangrang pada tanaman. Ini karena kualitas kroto semut rangrang di Probolinggo bagus. Sehingga banyak orang luar yang sering ambil untuk dijual ke pasar burung”, ungkap Kepala Laboratorim Hama Jurusan Hama Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Unibraw saat dihubungi suarakawan.com, Jumat (8/4) siang.

Totok Himawan menambahkan, melihat dari keseragaman umur ulat jenis arctornis ini kemungkinan besar akibat rusaknya rantai makanan di habitatnya. Sedangkan serangan ulat bulu ke rumah-rumah, karena sebagian besar pemilik rumah memliki tanaman di depan rumahnya.

Tim Unibraw yang beranggotakan empat orang ini akan terus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten  Probolinggo untuk melakukan monitoring guna mengetahui apakah ditemukan generasi kedua dari ulat bulu ini yang membahayakan.

Guna meminimalisir populasi ulat bulu, tim Unibraw akan memberi semacam jamur atau mikroba sebagai pemangsa telur-telur ulat bulu. Cara penyemprotan dengan insektisida untuk sementara dihentikan karena tidak ramah lingkungan.

Untuk diketahui ‘hujan’ ulat bulu di Kabupaten Probolinggo telah menyerang sembilan kecamatan. Antara lain kecamatan Leces, Tegal Sriwulan, Bantaran, Sumberasih, Wonomerto, Dringu, Tongas dan Banyuanyar dan kecamatan Wonoasih yang berdekatan dengan Kota Probolinggo. (ara)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Unibraw: ‘Hujan’ Ulat Bulu Akibat Langkanya Semut"