Trimoelja Pengacara “Kampung” Yang Berani

Tidak ada komentar 23 views

Trimoelja D. Soerjadi SH

SURABAYA (suarakawan.com) – Dikalangan pengacara siapa yang tidak kenal dengan pengacara beken yang satu ini, dia ini lebih suka dengan julukan pengacara “kampung” meski dirinya sering menangani kasus-kasus orang-orang penting di Indonesia.

Dia adalah Trimoelja D. Soerjadi, seorang pengacara “kampung” asli Surabaya, dia mengaku anti suap, siap membela yang tertindas, siap tekor jika klien tak mampu, dan langganan teror.

“Ini adalah tantangan yang menjadi pilihan dalam membela suatu kebenaran dan itu mengasyikan,” ujar Trimoelja kepada suarakawan.com, Rabu siang (08/06), di kantornya.

Sikapnya ini adalah bagian dari semangat arek-arek suroboyo yang biasanya disebut bonek (bondo nekad) dan keras, menjadikan trade mark tersendiri diantara pengacara kondang lainnya.

Dia bahkan tak segan-segan harus berseberangan dengan pemerintah dalam menangani suatu perkara yang beresiko tinggi.Misalnya kasus Marsinah (1993-1995), aktifis buruh ini diduga dibunuh lewat operasi intelijen penguasa saat itu.

“Kasus ini mempunyai tantangan lebih besar dan saat itu rekayasa kasusnya sangat kental,” papar Alumni Hukum Unair ini.

Trimoelja menambahkan, dia berani membela Yudi Susanto, direktur PT CPS Pabrik arloji tempat Marsinah bekerja yang dituduh sebagai otak pelaku pembunuhan. dan saat itu dia bongkar semua rekayasa tersebut sehingga setiap hari baik dia dan keluarganya mendapat teror berkepanjangan.

Atas tuduhan itu, Yudi Susanto bersama tujuh orang karyawannya diseret di kantor intel Kodam Brawijaya dan Polda Jatim. Di tempat itu mereka mengaku disiksa dan interograsi. Lalu, mereka dipaksa untuk mengakui sebagai pelaku pembunuh Marsinah.

Tapi Tri maju terus. Dia merasa yakin bahwa Yudi bukan otak pembunuh Marsinah. Dugaan bahwa kasus ini direkayasa mulai menghinggapi benak bapak 2 putra dan 1 Putri ini. Ada tanda-tanya besar. Apalagi saat sidang digelar, seorang perwira intel juga berbisik pada Trimoelja agar berhati-hati.

“Saya diberitahu jangan pulang dengan rute yang sama,” kata Trimoelja.

Tetapi, Suami Diah Eko Rahaju tidak memperdulikannya, kendati tiba-tiba dua mobilnya yang diparkir di depan rumah dirusak kacanya.

Karena sikapnya yang pantang mundur dan keinginannya untuk terus belajar, ia kerap dipercaya menangani kasus sensitif. Misalnya kasus David Hendra (1992), Hermawan Hertanto dalam “Kasus Irah” (1992), kasus Muhadi di Magetan (1994), kasus Permadi di Sleman.

Setelah kasus Marsinah, Trimoelja pun diminta menangani kasus gugatan TEMPO, lalu kasus Ketua PPBI Dita Indah Sari dan menjadi kuasa hukum The Jakarta Post saat koran itu gegeran melawan Industri Pesawat Terbang Nusantara. Ia juga menangani kasus perkawinan Khong Hu Cu di Surabaya dan menjadi koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) di Surabaya.

Menurut Trimoelja semua itu merupakan tantangan yang mengasyikkan. Sebab, kerap kali ia harus berbenturan dengan kekuasaan yang sewenang-wenang.

“Satu kelemahan saya, saya ini mudah bersimpati pada orang yang menjadi korban ketidakadilan,” ujarnya.

Atas alasan ini pula, lanjut dia, bersedia ketika diminta Rahardi Ramelan, mantan Kepala Bulog untuk memperkuat tim penasehat hukumnya, bersama Frans Hendra Winata dan J Kamaru. Mereka menggantikan tim pengacara Rahardi sebelumnya yaitu OC Kaligis, dan Yan Juanda Saputra.

Selain karena soal etika profesi yang tak boleh menolak jika diminta membela, Trimoelja mengaku memang tertarik dengan banyak terjadi rekayasa dalam kasus ini. Dan Rahardi menjadi orang yang mau dikorbankan.

“Ada rekayasa dalam kasus ini, Karena itu saya mengungkap soal “Pertemuan Mahakam”,” paparnya. Menurut dia, kasus ini kental nuansa politiknya dan ada upaya untuk menghapus peran dan jejak Akbar Tandjung.

Pengungkapan rekayasa atas kebenaran, tambah Trimoelja, menjadi pilihan bagi dirinya dan timnya. Karena itu ia membongkar skenario Mahakam itu dan memaparkannya sebagai upaya rekayasa Akbar Tandjung dalam kasus penyelewengan dana Bulog Rp 40 miliar. Akbar meminta kliennya mengikuti skenario mereka pada pertemuan di Hotel Grand Mahakam, Jakarta, pada 10 Oktober 2001.

Cecaran pertanyaannya menggiring Akbar untuk mengungkap siapa yang seharusnya bertanggungjawab terhadap aliran dana Bulog yang dikucurkan Rahardi.

“Anda ini amnesia yang sistematis,” kata Tri kepada Akbar Tanjung. (jto/nas)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Trimoelja Pengacara “Kampung” Yang Berani"