Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Terpilih Kembali Sebagai Ketua MK, Ini Profil Arief Hidayat

15 Jul 2017 // 13:32 // HEADLINE, HUKUM, HUKUM & KRIMINALITAS

prof-dr-arief-hidayat-sh-ms-ketua-mk_20160108_180330

JAKARTA (suarakawan.com) – Terpilihnya kembali Arief Hidayat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Periode 2017-2020 diharapkan mampu membawa perubahan bagi konstitusi Indonesia.

Arief melanjutkan masa jabatannya sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2017 hingga masa pensiunnya pada April 2018. Terpilihnya Arief ditentukan berdasarkan hasil Rapat Pleno Pemilihan Ketua MK yang berlangsung selama tiga jam, sejak pukul 08.30 WIB, Jumat kemarin.

Arief yang juga menjabat sebagai hakim anggota MK tak pernah menyangka dirinya akan terjun di dunia hukum sebagai hakim konstitusi.

Sedari dulu, pria kelahiran Semarang, 3 Februari 1956 ini bercita-cita menjadi pengajar.

Ia pun menggeluti dunia pendidikan dan memperoleh gelar Guru Besar dari Universitas Diponegoro (Undip) pada 2008. Arief kemudian dipercaya menjadi Dekan Fakultas Hukum Undip.

Seusai menjabat sebagai dekan, Arief menantang dirinya untuk mendaftar sebagai hakim MK melalui jalur DPR. Dukungan dari Fakultas Hukum Undip dan perguruan tinggi lainnya membuatnya percaya diri untuk maju.

Beberapa tahun sebelumnya, mantan Ketua MK, Jimly Asshiddiqie sempat mendorongnya untuk maju sebagai hakim konstitusi. Namun, ia tak mampu menyanggupi tantangan Jimly lantaran saat itu masih menjabat sebagai dekan.

Tahap demi tahap dilewati Arief, termasuk mengikuti tes uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test. Ia akhirnya terpilih menjadi hakim konstitusi dengan mendapat dukungan 42 suara dari 48 anggota Komisi III DPR, mengalahkan dua pesaingnya yakni Sugianto (5 suara) dan Djafar Al Bram (1 suara).

Arief menggantikan Hamdan Zoelva yang habis masa jabatannya pada 7 Januari 2015 lalu.

Kini, Arief kembali menjabat sebagai Ketua MK. Ia dihadapkan dengan berbagai persoalan, antara lain kritik bahwa MK dianggap lambat dalam menyelesaikan suatu perkara, hingga keputusan MK yang kadang kerap dinilai kurang berbobot.

Arief juga punya beban memulihkan kepercayaan publik yang sempat rusak akibat kasus korupsi yang melibatkan Patrialis Akbar ketika menjabat hakim MK.

Dalam sambutannya di acara Pengucapan Sumpah Ketua MK kemarin, Arief mengatakan dirinya menyadari begitu banyak kritik yang dilontarkan kepada MK.

Ia berjanji akan segera memperbaiki kinerja jajaran MK pada masa jabatannya saat ini.

“Bersama dengan Pak Wakil yang masih eksis. Kami, bersama para hakim, akan mengupayakan perbaikan sebagaimana keinginan masyarakat luas, dari masukan dan saran,” kata Arief.(cnn/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini