Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Terancam Tak Bisa Nyapres, Yusril Gugat UU Pemilu

08 Aug 2017 // 09:57 // HEADLINE, POLITIK & PEMERINTAHAN

yusril

JAKARTA (suarakawan.com) – Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menyebutkan dirinya siap melakukan uji materiel UU Penyelenggaraan Pemilu (UU Pemilu) yang telah disahkan DPR ke Mahkamah Konstitusi (MK). Salah satu alasannya, Yusril ingin maju menjadi calon presiden (capres) pada Pilpres 2019, tetapi terganjal oleh aturan dalam UU tersebut.

Yusril menyebutkan dua hal yang membuat dirinya siap melakukan uji materiel UU Pemilu, khususnya Pasal 222 yang mengatur ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold (Pres-T).

“Tentu ada faktor alasan konstitusional, tetapi ada alasan kepentingan politik juga,” ujar Yusril di gedung MK, Senin (7/8).

Terkait alasan konstitusional, Yusril menilai ketentuan Pres-T bertentangan dengan Pasal 22 E UUD 1945 yang juga berkaitan dengan Pasal 6A UUD 1945 yang menyebutkan pasangan calon presiden diajukan oleh parpol peserta pemilu sebelum pemilu dilaksanakan.

“Sekarang pemilu ini kan serentak, maka dia tidak mungkin menentukan Pres-T. Kecuali terpaksa, kalau kita menggunakan UU Pemilu yang lalu. Sekarang kan mau pakai (hasil) Pemilu 2014, sementara hasil Pemilu 2014 sudah digunakan oleh Jokowi dan Prabowo untuk maju,” jelasnya.

Mengenai alasan politik, dirinya mempunyai kepentingan untuk maju menjadi capres di Pemilu 2019. Namun, terganjal dengan pengaturan Pres-T. Jika bisa maju jadi capres, Yusril berkeyakinan PBB menjadi partai besar.

“Kalau saya jadi capres, saya yakin PBB akan gede juga suaranya. Mungkin orang takut aja sama saya. Dari dahulu diganjal terus, padahal kalau saya maju belum tentu juga bakal menang kan,” katanya.

Yusril menilai ada korelasi antara tokoh yang maju sebagai capres dengan perolehan suara partai. Dia mencontohkan Partai Demokrat yang suaranya hanya tujuh persen pada Pemilu 2004, naik dua kali lipat pada Pemilu 2009 saat SBY maju sebagai capres. Begitu juga Gerindra, tahun 2009 cuma enam persen, tetapi saat Prabowo maju menjadi capres, suara Gerindra naik menjadi 11 persen.(bs/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini