Targetkan Emas, 22 Atlet Nasional Hoki Ikuti Seleksi Ketat di Surabaya

2015120215423094645

SURABAYA (suarakawan.com) – Cabang olahraga Hoki memiliki target meraih emas di SEA Games Kualalumpur-Malaysia Agustus mendatang. Agar terealisasi pihak pelatih memanggil 22 atlet terbaik nasional untuk mengikuti seleksi nasional (seleknas) di Lapangan Hoki Dharmawangsa Surabaya 28 Mei-5 Juni.

Pelatih Hoki Olmufat, di Surabaya, Jumat (2/6) mengatakan, untuk bisa meraih emas sangat berat, karena Malaysia dan Thailand bakal menjadi lawan tangguh bagi Indonesia. “Kita optimis bisa bawa pulang medali, tapi kita juga butuh kerja keras. Apalagi Malaysia lawan yang sangat kuat. Malaysia kans emasnya itu sangat besar, Thailand juga kuat. Tapi kita tidak akan berkecil hati, kita akan berusaha mendapatkan medali,” ujarnya.

Untuk meraih emas, jelasnya, pihaknya berupaya mencari atlet terbaik dan membentuk kerangka tim. Sayanganya dari 25 pemain yang dipanggil seleknas, tiga tidak hadir yakni , Tiffani Satya Makharti dari DKI Jakarta, Pitria dari (Jabar)  dan Sinarti dari (Sulsel) absen karena berbagai alasan.

Tiffani berhalangan hadir karena sedang menempuh studi di Australia, sedangkan Pitria tidak dapat turut serta karena  sedang mengandung. Sinarti tidak diketahui penyebabnya karena tidak memberikan konfirmasi apapun.

Meski kehilangan tiga peserta seleknas, katanya, hal tersebut tidak mempengaruhi ketatnya kompetisi, bahkan, seleknas makin berjalan sangat ketat, mengingat pemain-pemain junior bisa mengimbangi kemampuan seniornya. “Seleksi ini sangat ketat, kemampuan pemain-pemain putri kita merata jadi akan sulit memilihnya. Oleh karena itu kami akan memilih yang paling konsisten,” terangnya.

Hasil dari tes-tes tersebut, jelasnya, selanjutnya akan diakumulasikan. Selanjutnya empat pemain dengan hasil terendah akan dicoret. Sehingga sisa 18 pemain tersebut akan langung terbentuk dan bersiap menghadapi SEA Games.

Lebih lanjut dia mengatakan, bahwa tidak akan ada kuota posisi dalam seleksi tersebut. Pemain-pemain akan dipilih berdasaran hasil tes tanpa melihat posisinya, kecuali untuk penjaga gawang. Pengecualian untuk penjaga gawang disebabkan karena kompetensi di pos tersebut berbeda dari pos lain.

“Tidak ada kuota per pos, kita pilih yang terbaik saja. Karena di hockey semua pemain harus bisa menempati posisi manapun. Kecuali untuk penjaga gawang, kompetensi untuk posisi tersebut berbeda dari yang lain,” paparnya. (bng1/rur)

Tidak ada Respon

Komentar ditutup.