Tangkal Radikalisme, Perlu Mata Kuliah Agama Bagi Mahasiswa?

SURABAYA (suarakawan.com) – Beberapa orang mempertanyakan bahwa ada perguruan tinggi yang ternyata tidak mengajarkan mata kuliah Agama. Ini disampaikan disesi diskusi dalam Seminar Nasional Kebangsaan, Jumat (10/02), di Auditorium IAIN Surabaya dengan tema ‘Pancasila dan Santri: Respon Santri atas Pancasila’.

“Memang tidak disebutkan, ada perguruan tinggi yang menggunakan mata kuliah agama, ada pula yang tidak,” jelas Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Prof. Dr. Budi Susiolo Soepandji, D.E.A. Namun menurut Prof. Dr. Budi Susiolo Soepandji, D.E.A., Lemhannas sendiri tidak bisa memaksakan perguruan tinggi yang lain.

Selain itu Prof. Dr. Budi Susiolo Soepandji, D.E.A. juga mengatakan bahwa pendidikan saat orde baru tidaklah sama dengan sekarang, karena dulu hanya indroktrin saja. “Dulu hanya indoktrin, oleh karena itu dosen harus bisa memberikan memberikan contoh dan mengajarkan,” tambahnya.

Prof. Dr. H. Nur Syam, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya juga menambahkan bahwa diperlukan gerakan struktural dan kultural. Gerakan struktural ini harus dilakukan oleh lembaga pendidikan negara yang terlibat didalamnya.

“Dengan cara gerakan struktural ini negara bisa mengintrevensi lembaga pendidikan yang tidak berasaskan Pancasila,” urai Prof. Dr. H. Nur Syam. Sedangkan gerakan kultural ini dilakukan oleh lembaga masyarakat melalui keteladanan untuk mengembangkan Pancasila.

“Sebab selama ini belum ada lembaga khusus yang menangani masalah ini, semoga ini awal yang bagus untuk pengembangan ke depan,” tutupnya. (din/jto)

 

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Tangkal Radikalisme, Perlu Mata Kuliah Agama Bagi Mahasiswa?"