Tak Hanya Sirup, Mangrove Juga Jadi Batik

Lulut (kanan) tengah menunjukkan karyanya

SURABAYA (suarakawan.com) – Keberadaan hutan Mangrove di Wonorejo Kecamatan Rungkut ternyata memberikan berkah tersendiri bagi warganya. Selain hutan mangrove bisa jadi wisata pendidikan lingkungan, masyarakat juga bisa memanfaatkan buahnya menjadi minuman yang tekenal dengan sirup mangrove.

Yang terbaru dan mungkin satu-satunya di Surabaya atau bahkan Indonesia, Mangrove telah mengilhami sebagian warga untuk berkarya melalu media batik yang motifnya terinspirasi mangrove.

“Setahu saya ya baru kecamatan Rungkut ini yang memiliki batik motif mangrove. Ini kami harapkan bisa menjadi ikon bagi Kecamatan Rungkut yang beda dengan yang lain,” ungkap Lulut Sri Yuliani, koordinator Batik SeRU (Seni batik Mangrove Rungkut).

Selain terinspirasi oleh motif mangrove, batik Seru juga memiliki keunikan lain yaitu menggunakan pewarna alami. Untuk mendapatkan warna merah misalnya, Lulut menggunakan kayu secang, nipah dan burguera. Untuk warna kuning, yang dipakai adalah kunir sementara warna hijau didapat dari alur.

“Meski bahan sama tapi jenis kain yang dipakai turut berpengaruh akan hasil akhirnya. Contohnya warna merah muda yang didapat dari campuran Secang, Kaleptropis dan burguera genorisa hasilnya lebih hidup saat digunakan di kain katun daripada kain sutra. Bahkan, beda waktu pencelupan juga mempengaruhi hasil akhir. Jadi benar-benar khas hasilnya,” imbuh Lulut.

Meski masih seumur jagung, keberadaan batik bermotif mangrove yang kini tengah berkembang ke arah pewarnaan secara alami ternyata mampu diterima pasar. Puluhan lembar kain batik yang dijual seharga Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta laku dipasaran. Bahkan beberapa sudah dikoleksi pejabat Pemkot Surabaya.

Yang menarik, selain penggarapan batik dilakukan oleh para Ibu-ibu yang terbagi dari 16 kelompok yang tersebar diseluruh kecamatan Rungkut, ada seseorang yang sangat menonjol, karena dia satu-satunya gadis manis diantara para ibu. Gadis manis itu adalah Niki Yusnanda Permata, siswi SMA Muhammadiyah Pucang.

Peranan Niki juga cukup vita, dia adalah ”the man behind” desain batik seru. Meski masih belia, Niki yang bercita-cita menjadi presenter TV ini rupanya punya bakat seni yang sangat kuat. Terbukti, sudah belasan desain batik seru dia hasilkan.

”Saya memang suka gambar dari dulu. Bahkan sering ketika Guru mengajar saya malih asyik corat-coret. Aktivitas itu yang menumbuhkan bakat dan kemampuan menggambar saya,” aku Niki di sanggar Batik Seru  di Wisma Kedung Asem Indah, RT 7/RW 5 Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut.(nas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *